HASIL
IDENTIFIKASI IKAN PUYU
(Anabas
testudineus Bloch)
OLEH
khairul rizal
NPM : 114310115
![]() |
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2012
HASIL
IDENTIFIKASI IKAN PUYU
(Anabas
testudineus Bloch)
OLEH
NAMA : khairul rizal
NPM
: 114310115
JURUSAN : budidaya perairan
PEMBIMBING
Dosen Asisten Dosen
(Ir. H. Rosyadi, M.si) (Masri)
KATA PENGANTAR
Syukur
Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas berkat, rahmat dan
karunia-nya jualah sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
praktikum ini dengan judul “HASIL IDENTIFIKASI IKAN PUYU (Anabas
testudineus Bloch) “.
Salawat
serrta salam penulis hatur kan kepada junjungan alam Nabi Muhhammad SAW, dengan
mengucapkan allahumaSalialasayidina muhhammad, waalaali sayidina muhhammad.
Penulis
menyadari akan segala keterbatasan pengetahuan yang di miliki, sehingga
proposal ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan, oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan saran dan masukan dari pembaca untuk kesempurnaan
penelitian ini nantinya.
Semoga proposal
ini bermanfaat bagi kita semua.
Pekanbaru,
oktober 2012
penulis
DAFTAR
ISI
ISI Halaman
KATA
PENGANTAR i
DAFTAR
ISI........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang............................................................................................. 1
1.2. Tujuan dan
manfaat....................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi..................................................................................................... 2
2.2. Morfologi
.................................................................................................... 3
2.3. Makanan ..................................................................................................... 4
BAB III BAHAN DAN METODE
3.1. Waktu dan
tempat ....................................................................................... 6
3.2. Bahan
dan Alat 6
3.3. metode Praktikum........................................................................................ 6
3.4. Prosedur
praktikum...................................................................................... 7
BAB IV HASIL
4.1. Hasil
identifikasi............................................................................................ 8
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan................................................................................................ 10
5.2. Saran......................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Salah
satu Spesies dari Famili Anabantidae yaitu ikan betok (Anabas testudineus Bloch)
merupakan ikan air tawar yang dikonsumsi. Ikan ini memiliki toleransi yang
tinggi terhadap kondisi lingkungan yang tergolong ekstrim dan dapat bertahan
pada kondisi air yang bersifat asam maupun basa. Ikan ini juga dapat ditemukan
pada perairan payau (www.aquaworld.com). Sungai-sungai dan rawa-rawa di
Kalimantan diketahui memiliki tingkat keasaman yang tinggi, dicirikan oleh pH
yang rendah.
Ikan Betok (Anabas testudineus )
merupakan salah satu jenis ikan yang sangat disukai oleh masyarakat karena
rasanya yang enak. Jenis ikan ini memiliki nilai ekonomis penting karena harganya
yang cukup mahal. Namun sayangnya ikan betok masih belum banyak dibudidayakan
oleh masyarakatkarena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk usaha
budidaya khususnya biaya pakan yang dapat mencapai 60-70% dari komponen biaya
produksi (Djuhanda 1981).
1.2.Tujuan dan Manfaat
Tujuan
dari pratikum iktiologi ini agar mahasiswa dapat mengidentifikasi tubuh ikan,
mulai dari bentuk kepala,ekor,badan,mulut,sirip, ingsang, serta isi perut dalam
tubuh ikan dan lain sebagainya. Manfaatnya kita dapat mengtahui spesias ikan
berdasarkan lateralis hasil dari pratikum yang telah dilakukan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Klasifikasi
Ikan
betok termasuk kedalam famili Anabantidae yang merupakan ikan asli perairan
kalimantan dan sumatera. Untuk mengenal bentuk tampilan dua dimensi dari ikan
betok Berikut adalah klasifikasi dari ikan betok menurut Bloch, 1792 dalam
www.fishbase.com dan Kottelat et al (1993),
Kingdom : Animalia
Filum
: Chordata
Subfilum : Vertebrata
Sub kelas :
Actinopterygii
Infra kelas : Teleostei
Divisi
: Euteleostei
Super ordo : Acanthopterygii
Series : Atherinoporho
Order : Perciformes
Family : Antidae
Specie s :
Anabas Testudineus
Nama umum :
Climbing perch, Climbing gouramies
Nama lokal : Betok (Jawa dan Sumatera), papuyu (Kalimantan).
Genera : Anabas
2.2. Morfologi
Sedangkan ciri-ciri dari ikan betok secara
morfologi yaitu rangka terdiri dari tulang sejati, dapat mengambil O2 dari
luar air (mempunyai alat labyrin), memiliki sirip punggung dan sirip dubur
dengan jari-jari keras, sirip perut memiliki jari-jari lemah dan satu jari-jari
keras (Saanin, 1968).
Bentuk ikan ini lonjong dengan kepala
besar dan memipih ke belakang. Tubuh ditutupi sisik berwarna hijau pada
punggung dan putih mengkilat pada bagian perut. Tempat hidup adalah sungai,
danau, rawa, genangan air dapat juga memakan udang renik, ikan kecil dan hewan
kecil air lainnya (Varikul and Sritongsock, 1980. dalam Rasdiansyah.
1986). Ditambahkan oleh Djuhanda (1981) dalam Irawati (1993) bahwa ikan betok
mempunyai sirip punggung yang panjang, mulai dari kuduk sampai di depan pangkal
sirip ekor, bagian depan disokong oleh 16 – 19 jari-jari keras yang
runcing-runcing seperti duri: bagian belakang lebih pendek daripada bagian
depan; disokong oleh 7 – 10 jari-jari lunak. Sirip dubur lebih pendek daripada
sirip punggung, sebelah depannya disokong oleh 9 – 11 jari-jari keras yang
tajam-tajam dan bagian belakangnya disokong oleh 8 – 11 jari-jari lunak. sirip
dada tidak mempunyai jari-jari keras, disokong oleh 14 – 16 jari-jari lunak;
letaknya lebih ke bawah pada badan di belakang tutup insang. Sirip perut
letaknya letaknya didepan, di bawah sirip dada, disokong oleh satu jari-jari
keras yang berujung runcing dan 5 jari-jari lunak. Jari-jari keras dari sirip
perut dapat digerakkan dan dapat dipergunakan untuk bergerak pada permukaan
lumpur yang kering. Pangkal-pangkal dari sirip dada, sirip ekor, sirip punggung
dan sirip dubur yang berjari-jari lunak, semuanya mengandung otot dan ditutupi
dengan sisik yang kecil-kecil.
Menurut Sterba and Gunther (1973), dalam Rasdiansyah
(1986), ikan betok tahan terhadap kekeringan, kekurangan oksigen di dalam air,
toleran terhadap fluktasi temperatur yang tinggi, bahkan dapat hidup pada
temperatur 15OC. Dengan menggunakan tutup insang dan ekornya ikan
betok dapat berjalan beberapa ratus meter di permukaan tanah.
Kelebihan/keistimewaan yang dimiliki ikan
ini yaitu mempunyai alat pernafasan tambahan yang khusus. Alat ini merupakan
lembaran-lembaran berbentuk bunga berasal dari perkembangan epibranchialbagian
depan. Alat ini sering disebut Labyrinth (Jeuken, 1959 dalam Rasdiansyah,
1986).
Dengan meniru habitatnya di alam, ikan ini
dapat dipelihara dikolam yang terbuat dari beton, dipelihara selama empat
sampai enam bulan ikan ini dapat dipanen. Di beberapa negara berkembang ikan
betok dicoba dipijahkan dengan metode induced breeding,
hasilnya ikan ini memberikan respon yang positif, bahkan dapat
berovulasi dalam waktu yang singkat setelah disuntik dengan ekstrak kelenjar
hypopisa (Varikul and Sritongsock, 1980 dalam Rasdiansyah,
1986).
morfologi (morfometrik dan
meristik) telah lama digunakan dalam biologi perikanan untuk mengukur jarak dan
hubungan kekerabatan dalam pengkategorian variasi dalam taksonomi. Hal ini juga
banyak membantu dalam menyediakan informasi untuk pendugaan stok ikan. Meskipun
demikian pembatas utama dari karakter morfologi dalam tingkat intra species
(ras) adalah variasi fenotip yang tidak selalu tepat dibawah kontrol genetik
tapi dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. Pembentukan fenotip dari ikan
memungkinkan ikan dalam merespon secara adaptif perubahan dari lingkungan
melalui modifikasi fisiologi dan kebiasaan. Lingkungan mempengaruhi variasi
fenotip, walau bagaimanapun karakter morfologi telah dapat memberikan manfaat
dalam identifikasi stok khususnya dalam suatu populasi yang besar (Turan,
1998).
2.3.
Makanan
Ikan betok bersifat omnivora,
memangsa aneka serangga dan hewan-hewan air yang berukuran kecil disamping itu
ikan ini memakan tumbuhan air seperti jenis javafern atau vallisneria
serta beberapa tumbuhan air mengapung, ikan ini biasanya akan selalu
memakan tumbuhan air yang lunak. Pencarian makanan dilakukan setiap saat dalam
satu hari, dominan menggunakan visualisasi indra penglihatan. Pada habitat
alami ikan ini ditemukan di rawa-rawa, danau, kanal (sungai kecil), lubang
kecil berair, dan kubangan. Pada percobaan laboratorium yang menjadi pemicu
ikan ini melakukan migrasi adalah faktor kepadatan populasi dan kekurangan
makanan (Jayaram, 1981; Talwar and Jhingran, 1991 dalam www.nis.gsmfc.org).
Selain bersifat omnivora,
berdasarkan literatur dari situs dinas kelautan dan perikanan RI diketahui
bahwa dilihat dari kebiasaan pakannya betok merupakan jenis ikan herbivora
dengan pakan utamanya adalah tanaman air dan plankton.
BAB
III
BAHAN
DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan setiap
hari kamis pukul 10.00 WIB, Bertempat di Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian Universitas
Islam Riau, Pekanbaru.
3.2. Bahan dan Alat
Adapun
bahan yang digunakan pada praktikum
untuk tugas kelompok
adalah ikan puyu (Anabas
testudineus ) dan Formalin
sebagai bahan pengawet pada ikan.
Alat yang digunakan pada praktikum adalah nampan yakni semacam tempat untuk meletakkan ikan yang akan diamati secara langsung dan peralatan tulis seperti penggaris untuk mengukur ikan, pensil , pena, buku gambar, dan penghapus serta alat bedah ikan untuk mengidentifikasi isi perut pada ikan.
Alat yang digunakan pada praktikum adalah nampan yakni semacam tempat untuk meletakkan ikan yang akan diamati secara langsung dan peralatan tulis seperti penggaris untuk mengukur ikan, pensil , pena, buku gambar, dan penghapus serta alat bedah ikan untuk mengidentifikasi isi perut pada ikan.
3.3. Metode Praktikum
Metode
yang digunakan pada praktikum untuk tugas kelompok ikan puyu (Anabas
testudineus ) adalah metode
pengamatan dan melihat langsung sistem metabolisme yang terdapat di dalam perut
ikan. Ikan-ikan yang dibawa diletakkan pada nampan, kemudian digambar pada buku
gambar dengan menggunakan pensil, penggaris, pena dan penghapus, serta serbet
untuk membersihkan tangan nampan, dan meja setelah praktikum selesai.
3.4. Prosedur
Praktikum
Ikan untuk pratikum diletakkan pada tempat yang berupa nampan yang telah disediakan. Ikan yang telah ditaruh diwadah lalu digambar pada buku gambar sesuai objek yang diamati dengan arah mulut. Gambar ikan tersebut lalu dibuat ciri-cirinya berdasarkan penggolongan, siripnya dan linear lateralis yang ada pada buku penuntun praktikum iktiologi. Buat nama ilmiah pada masing-masing ikan dan habitatnya. Lalu dibuat klasifikasinya.
Ikan untuk pratikum diletakkan pada tempat yang berupa nampan yang telah disediakan. Ikan yang telah ditaruh diwadah lalu digambar pada buku gambar sesuai objek yang diamati dengan arah mulut. Gambar ikan tersebut lalu dibuat ciri-cirinya berdasarkan penggolongan, siripnya dan linear lateralis yang ada pada buku penuntun praktikum iktiologi. Buat nama ilmiah pada masing-masing ikan dan habitatnya. Lalu dibuat klasifikasinya.
BAB IV
HASIL
4.1.
Hasil identifikasi Ikan Betok (Anabas sp)
1. Rangka
terdiri dari tulang benar; bertutp insang
Subclassis
TELEOSTEI
3. Kepala
simetris
4. Badan
tidak seperti ular
6. Badan
bersisik atau tidak, kadang-kadang seluruhnya atau sebagian tertutp oleh
kelopak-kelopak tebal
7. Garis
rusuk jika ada, diatas sirip dada
9. Tidak
demikian
10. Lebih
dari 2 jari-jari sirip punggung keras
12. Hanya
satu sirip punggung atau dua sirip punggung yang bersambungan atau berdekatan
16. Hanya
satu sirip punggung, sirip perut tidak bersatu
17. Satu
sirip punggung; dapat mengambil udara diluar air (mempunyai alat labirin)
Ordo
LABYRINTHICI
89. Sirip
punggung dan sirip dubur dengan satu atau lebih dari satu jari-jari keras;
sirirp perut dengan 5 atau kurang dari 5 jari-jari lemah dan 1 jari-jari keras,
atau hanya satu jari-jari; Rongga di atas rongga insang beralat berbentuk
labirin
Subordo
ANABANTOIDEI
91. Gepeng,
agak panjang, hidung pendek, mulut kecil, lubang insang sempit karena bagian
gabungan daun insang lebar; jari-jari keras dari sirip punggung dari sirip
dubur berbeda-beda jumlahnya; sirip dubur panjang.
Familia
ANABANTIDAE
1193.
Permulaan sirip punggung diatas dasar sirip dada, sirip punggung lebih panjang
daripada sirip dubur.
1194.Bergigi
merujung pada tulang mata bajak, langit-langit dan rahang.
Genus
ANABAS
1205.D.
XVI-XIX. 7-10; A. IX-XI. 8-11; P. 14-16; V.I.5. Sisik garis rusuk 26-31.
Anabas
testudineus (Bl).
Nama
Indonesia: Betok, Betik, Bato, Harfan, Puyu, Puyo-puyo, papuyu, Geteh-geteh,
Oseng, Kusa, Kusang, Hoseng, Useng.
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari hasil pratikum dapat
disimpulkan bahwa ikan puyu (Anabas testudineus) memiliki persamaan dan perbedaan dengan ikan-ikan yang lainnya. Ikan
puyu memili alat pernfasan tambahan
atau labirin. Dapat disimpulkan juga bahwa linear lateralis pada tubuh
ikan berbeda antara ikan yang satu dengan ikan yang lainnya.
5.2. Saran
Diharapkan agar pembimbing dapat
membimbing dengan cara memberikan prosedur-prosedur yang tepat dalam pratikum
agar mahasiswa lebih smemahami pratikum yang berlangsung, dan di mohon agar
pembimbing pratikum tidak hanya satu agar dapat memudahkan jalannya pratikum
ketika hendak bertanya.
.
DAFTAR PUSTAKA
Djuhananda, 1981. Ikan betok masih belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat karena
besarnya biaya yang dikeluarkan untuk usaha budidaya khususnya biaya pakan.
Turan, 1998. Lingkungan mempengaruhi variasi fenotip,
walau bagaimanapun karakter morfologi telah dapat memberikan manfaat dalam
identifikasi stok khususnya dalam suatu populasi yang besar.
Kottelat el al, 1993. klasifikasi
dari ikan betok.
Jayaram, Talwar and Jhingran , 1991. Lingkungan mempengaruhi
variasi fenotip, walau bagaimanapun karakter morfologi telah dapat memberikan
manfaat dalam identifikasi stok khususnya dalam suatu populasi yang besar.
Sterba and Gunther,
(1973), dalam Rasdiansyah (1986), ikan betok tahan terhadap kekeringan, kekurangan oksigen di dalam air,
toleran terhadap fluktasi temperatur yang tinggi, bahkan dapat hidup pada
temperatur 15OC.
LAMPIRAN

Gambar
ikan puyu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar