Ikan motan merupakan ikan air tawar yang bernilai ekonomi di daerah
Riau. Hanya saja har ga jualnya ke pedagang ikan pengumpul ataupun di
pasar ikan tidak semahal harga ikan selais (Cryptopterus sp.)dan baung
(Mystus nemurus). Semua ikan motan yang diperdagangkan di pasar ikan di
kota maupun di pasar desa pada hari-hari tertentu adalah merupakan hasil
tangka pan nelayan dengan menggunakan alat tangkap jaring (gill-net).
Ikan motan
(Thynnichthys thynnoides) merupakan ikan air tawar yang hidup di
sungai besar,
kanal, danau tapal
kuda, dan rawa
banjiran. Ikan ini
bersifat
potamodromus, yaitu
melakukan migrasi dari
sungai ke rawa
banjiran untuk
melakukan pemijahan
saat volume air di rawa
banjiran meningkat. Ikan
motan
merupakan salah
satu jenis ikan konsumsi yang paling banyak diminati dan dicari
nelayan di
daerah Kampar Kiri (Simanjuntak et al., 2006). Kottelat et al. (1993)
menyatakan bahwa
ikan ini terdistribusi
di Sumatera, Kalimantan,
Malaya, dan
Indochina.
Nugroho (1992)
menduga bahwa populasi ikan motan di sistem aliran Sungai
Batang Hari,
Jambi, telah mengalami penurunan. Padahal menurut Kartamihardja
(2007), ikan
motan merupakan salah
satu ikan yang
dapat dipertimbangkan
sebagai ikan
tebaran di zona limnetik waduk Ir. H. Djuanda, Jawa Barat karena
ikan pemakan
plankton ini dianggap
dapat mengurangi tingkat
kelimpahan
plankton yang
tinggi di perairan tersebut.
Penelitian ini
perlu dilakukan untuk mendeskripsikan parameter pertumbuhan
ikan motan
yang dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan. Informasi
mengenai
parameter pertumbuhan
tersebut dapat dijadikan
dasar pengelolaan sumberdaya
ikan motan,
terutama habitatnya di
rawa banjiran Sungai
Kampar Kiri.
Pengelolaan yang
sesuai ditujukan agar
sumberdaya ikan motan
dapat
dimanfaatkan secara
optimal tanpa mengurangi
atau bahkan memusnahkan
sumberdaya ikan
motan tersebut di alam.
Klasifikasi
Ikan Motan (Thynnichthys thynnoides)
Ikan motan (T.
thynnoides) di Indonesia tersebar di Sumatera dan Kalimantan
(Kottelat et
al., 1993). Ikan ini termasuk dalam famili Cyprinidae yang merupakan
famili terbesar
dalam kelompok ikan
dengan jumlah lebih
dari 2000 spesies
(Moyle &
Cech, 2004). Famili Cyprinidae ditemukan dominan pada hulu Sungai
Kapuas
(Harteman, 1998).
Klasifikasi ikan
motan (T. thynnoides) menurut Kottelat et al. (1993):
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Cypriniformes
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Subfamili : Cyprininae
Genus : Thynnichthys
Spesies : Thynnichthys thynnoides Bleeker, 1852
Nama lokal : Motan, Lambak, Ringan, Lumoh, Pingan,
Menangin.
Morfologi
Ikan Motan (T. thynnoides)
Ikan motan
memiliki jumlah sisik garis rusuk sebanyak 58-60 buah. Di antara
garis rusuk dan
sirip punggung terdapat 13 baris sisik (Saanin, 1968). Ikan motan
memiliki rumus
sirip dorsal 3/8 dan rumus sirip anal 3/5. Bentuk tubuh ikan ini
memanjang dan
tidak terlalu pipih,
kepala agak kecil
dengan moncong pendek
dan terletak di
ujung, posisi mulut terminal, serta mata berukuran kecil. Ikan yang
segar memiliki
warna tubuh keperakan
dengan punggung lebih
gelap. Ikan ini
memiliki titik
hitam kecil di dekat posterior operculum (Taki, 1974). Kottelat et
al. (1993)
menyatakan bahwa ikan
ini memiliki 58-60
sisik pada gurat
sisi, 13
sisik antara
sirip punggung dan
gurat sisi, 8-10,5
jari-jari bercabang pada
sirip
punggung,
jari-jari terakhir halus dan tidak mengeras.
Berdasarkan klasifikasi yang dikemukakan oleh Saanin (1986) dan Kottelat et al. (1993), ikan motan ini tergolong ke dalam famili Cyprinidae dan genus Thynnichthys. Spesies ikan yang ter masuk ke dalam genus Thynnichthys yang terdapat di Indonesia ada 3 spesies yaitu : Thynnich thys polylepis; T. thynnoides dan T. vaillanti. Ketiga spesies ini semuanya dapat dijumpai di per airan tawar di Riau dan semua spesies ikan itu oleh masyarakat di kabupaten Kampar dikenal de ngan nama ikan motan.
Diantara ketiga spesies ikan motan ini yang ukuran tubuhnya paling besar dan paling banyak diperdagangkan di pasar ikan maupun di pasar desa adalah spesies T. polylepis. Bahkan saat ini ikan T. polylepis yang terdapat di waduk PLTA Koto Panjang, Riau merupakan spesies ikan air tawar yang paling dominan jika dibandingkan dengan 50 spesies ikan air tawar lainnya yang ada di waduk. Biasanya jumlah ikan motan yang tertangkap oleh jaring nelayan mencapai 60 - 75 % dari seluruh ikan yang tertangkap, baik itu hasil tangkapan jaring yang dioperasikan pada siang hari maupun pada malam hari.
Ikan motan dari spesies T. polylepis ini memiliki tubuh berbentuk hampir stream line, kepala meruncing, posisi mulut terminal, mulut bersifat protractil, tubuh ditutupi oleh sisik-sisik kecil putih yang umumnya berbentuk cycloid, sirip ekor berbentuk bercagak (forked), permulaan dasar sirip dada dekat ujung bagian belakang (posterior) tutup insang (operculum). Panjang total tubuh bisa mencapai 225 mm, jumlah sisik linea lateralis 65 b- 75.
Jenis ikan motan ini di daerah Riau dapat dijumpai di perairan waduk PLTA Koto Panjang, sungai Kampar Kanan dan sungai Rokan. Sedangkan penyebarannya di Indonesia dapat dijum pai selain di pulau Sumatera juga terdapat di pulau Kalimantan.
Menurut imformasi dari penduduk yang bermukim di sekitar waduk, bahwa setiap musim hujan di bulan Oktober ikan motan ini migrasi (ruaya) pemijahan secara massal dari waduk menuju ke vegetasi air di sekitar waduk. Terutama di sekitar daerah genangan waduk yaitu daerah yang di waktu musim kemarau menjadi daerah tempat pengem balaan sapi/kerbau penduduk, akan tetapi di musim hujan tergenang oleh limpahan air waduk.
Berdasarkan jenis makanan yang dimakan maka ikan motan ini tergolong sebagai ikan "plankton feeder" dengan jenis makanan berupa Cyanophyceae, Chlorophyceae, Chrysso phyceae, Phyruphyceae dan sebagian kecil diantaranya adalah berupa zooplanktron. Jenis fito plankton yang sangat dominan menjadi makanannya adalah dari genus Ankistrodesmus, Syne dra, Closterium dan Oscillatoria.
Nilai fekunditas ikan yang terdapat di waduk dengan ukuran panjang tubuh 142 - 225 mm mencapai 8.501 - 133.324 butir.
Sumber:
Kottelat M., A.J. Whitten, N.S. Kartika dan S. Wiroatmodjo. 1993. Ikan air tawar di perairan
Indonesia bagian barat dan Sulawesi. Periplius Edition (HK) Ltd kerjasama dengan proyek
EMDI kantor kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, R.I. Jakarta.
Pulungan, C.P. 2000. Diskripsi ikan-ikan air tawar di waduk PLTA Koto Panjang, Riau. Lemlit
Univ. Riau, Pekanbaru.
Pulungan, C.P. dan Y.I. Siregar. 2002. Gut content Analysis of Cyprinid fish "motan" (Thynnich
thys polylepis) in Koto Panjang Water Electric Plant )PLTA) Reservoir, Riau. Berkala Perikan
an Terubuk 29 (2) : 20 - 22.
Pulungan, C.P. 2004. Biologi reproduksi ikan motan (Thynnichthys polylepis) di waduk PLTA
Koto Panjang, Kab. Kampar, Riau. Berkala Perikanan Terubuk 31 (1) : 36 - 40.
Saanin, H. 1986. Taksaonomi dan kunci identifikasi ikan. Binacipta ,Jakarta.
thx to:
http://ana-teamo.blogspot.com/2011/08/ikan-motan-thynnichthys-polylepis-dari.html


