KOMODITAS IKAN
GURAMI
DISUSUN OLEH
KHAIRUL
RIZAL
114310115
&
HAFRIZAL
EFENDI
114310
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ikan gurami (Oshpronemus gouramy, Lacepede)
merupakan ikan asli Indonesia dan berasal dari perairan daerah Jawa Barat. Ikan
ini merupakan salah satu komoditi perikanan air tawar yang cukup penting
apabila dilihat dari permintaannya yang cukup besar dan harganya yang relatif
tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya seperti ikan mas, nila,
tambakan dan tawes, dan merupakan salah satu sumber protein yang cukup tinggi.
Bagi masyarakat umum, ikan ini dipandang sebagai salah satu ikan bergengsi dan
biasanya disajikan pada acara-acara yang dianggap penting. Oleh sebab itu,
tidak mengherankan apabila ikan gurami menjadi salah satu komoditi unggulan di
sektor perikanan air tawar.
Umumnya budidaya ikan gurami masih dilaksanakan oleh
masyarakat dengan teknologi semi intensif. Masa pemeliharaanya relatif lama
sehingga dilakukan dalam beberapa tahap pemeliharaan yaitu tahap pembenihan,
tahap pendederan dan tahap pembesaran, dimana pada masing-masing tahapan
menghasilkan produk yang dapat di pasarkan secara tersendiri.
Pasar ikan gurami mengandalkan pada permintaan
domestik. Namun demikian prospek bisnisnya cukup menjanjikan mengingat
permintaan dari masyarakat yang cukup besar. Ikan gurami lebih digemari dijual
dalam keadaan hidup atau segar, dan biasanya harganya juga lebih tinggi dalam
keadaan hidup. Sementara itu, belum diperoleh informasi mengenai diversifikasi
produk olahan dari ikan ini kecuali dalam bentuk fillet.
Peranan Balai Benih Ikan dalam rangka pengembangan
ikan gurami dilaksanakan antara lain berupa penyediaan induk dan benih unggul
dan pengenalan teknologi budidaya secara intensif kepada pembudidaya ikan.
Namun demikian, langkah pengembangan selanjutnya yang masih perlu digarap
adalah aspek pemasaran baik di pasar domestik maupun ekspor.
Wilayah survey untuk usaha pendederan ikan gurami
adalah salah satu daerah sentra ikan gurami di Jawa Tengah yaitu Kabupaten
Banyumas. Sedangkan wilayah survey untuk pembesaran ikan adalah Kabupaten
Bogor. Oleh sebab itu informasi teknis pendederan dan pembesaran ikan gurami
terutama menggunakan informasi yang diperoleh dari kondisi pengusaha dan
lembaga lain di kedua wilayah tersebut.
Asumsi perhitungan keuangan budidaya pendederan ikan
gurami dalam penelitian ini adalah menggunakan benih ikan yang berasal dari
kegiatan pembenihan oleh pembudidaya lain dengan berat awal 1 gram dan
dibesarkan hingga mencapai berat 20-25 gram (pola 1). Sedangkan asumsi
perhitungan keuangan pada budidaya pembesaran menggunakan benih kan yang
berasal dari pendederan oleh pembudidaya lain dengan berat awal 200-250 gram
yang dibesarkan hingga mencapai ukuran konsumsi (pola 2).
Budidaya ikan gurame (Oshpronemus gouramy)
tidak semudah budidaya ikan mas dan nila. Meski dapat memijah secara alami,
ikan ini perlu penanganan khusus, terutama pada saat pemijahan, penetasan dan
pemeliharaan larva. Namun demikian, budidaya ikan gurame telah berhasil
dikembangkan, karena peluang usahanya tetap menjanjikan.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Klasifikasi
|
Kerajaan :
|
Animalia
|
|
Filum :
|
Chordata
|
|
Kelas :
|
Actinopterygii
|
|
Ordo :
|
Perciformes
|
|
Famili :
|
Osphronemidae
|
|
Genus :
|
Osphronemus
|
|
Spesies :
|
O. goramy
|
Nama
binomial Osphronemus goramy
Lacépède, 1801
Lacépède, 1801
2.2. Morfologi Ikan Gurami
Gurami (Oshpronemus gouramy) memiliki bentuk badan pipih
lebar, dibagian punggung berwarna kecoklatan dan bagian perut berwarna
kekuning-kuningan/ keperak-perakan. Ikan gurame untuk sekarang ini sangat
populer, dan banyak masyarakat sekarang yang membudidayakan. Ikan Gurami
merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici.
Ikan gurami berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat,Indonesia), dan
menyebar ke Malaysia, Thailands, Ceylon dan Australia.
Panjang tubuh (SL, standard length) 2,0-2,1
kali tinggi tubuh; panjang tubuh total (dengan sirip ekor) bisa mencapai 1.000
mm. Sirip perut dengan jari-jari pertama yang pendek berupa duri dan jari-jari
kedua yang lentur panjang serupa cambuk. Rumus sirip punggung (dorsal)
XI-XIV (jari-jari keras atau duri) dan 12-14 (jari-jari lunak); sementara sirip
dubur (anal) X-XI dan 20-23.
Ikan yang muda memiliki moncong yang meruncing, dengan
8-10 pita melintang (belang) di tubuhnya. Jika beranjak dewasa warna-warna ini
memudar, dan kepala ikan akan membengkak secara tidak teratur.
2.3. Habitat Hidup
Ikan gurami biasa hidup di
sungai-sungai, rawa dan kolam, termasuk pula di air payau; namun paling
menyukai kolam-kolam dangkal dengan banyak tumbuhan. Sesekali ikan ini muncul
ke permukaan untuk bernafas langsung dari udara.
Ikan gurami bisa tumbuh besar sampai
beratnya 5-7Kg, untuk pengembangbiakan bisanya Induk - induknya untuk beberapa
waktu lamanya, menjaga dan memelihara anak-anaknya. Telurnya dilekatkan di
tetumbuhan air atau ditaruhnya di sarang yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Ikan
Gurami biasanya pemakan tumbuhan yang ada di air, namun mau juga memangsa
serangga, ikan lain, dan juga barang-barang yang membusuk di air. Dari
sifatnya yang rakus tumbuhan itu, gurami juga dimanfaatkan sebagai pengendali
gulma di kolam-kolam.
2.4. Pemilihan induk
Memilih
induk ikan gurame sebaiknya yg telah mencapai
umur 3 tahun.untuk membedakan induk jantan dan betina bisa dilihat dari
ciri-ciri sebagaiberikut:
· Induk betina : Ikan
betina mempunyai dasar sirip dada yang gelap atau berwarna kehitaman, warna dagu ikan betina
keputih-putihan atau sedikit coklat, jikadiletakkan di lantai maka ikan betina
tidak menunjukan reaksi apa-apa.Sebaiknya sudah berumur 3~7 tahun.
· Induk jantan : Ikan
jantan mempunyai dasar sirip berwarna terang atau keputih-putihan,mempunyai
dagu yang berwarna kuning, lebih tebal daripada betina dan menjulur. Induk
jantan apabila diletakkan pada lantai atau tanah akanmenunjukan reaksinya
dengan cara mengangkat pangkal sirip ekornya keatas.
Selain mengetahui perbedaan induk
jantan dan betina, perlu juga diketahui demi keberhasilan pembenihan Gurameh
ini.Induk telah berumur 3~7 tahun. Berbeda dengan induk ikan tambakan, induk
ikan Gurami ini semakin bertambah umurnya akan mengeluarkan telur semakin banyak,
perut akan membulat dan relatif penjang dengan warna badan terang.
Sisik-sisiknya usahakan tidak cacat/hilang dan masih dalam keadaan
tersusunrapi.Induk betina yang cukup umur dan matang kelamin ditandai dengan
perutnyaakan membesar ke belakang atau di dekat lubang dubur. Pada lubang anus akan
nampak putih kemerah-merahan. Dan apabila kita coba untuk meraba perutnya akan
teras lembek.
Pemijahan ikan gurame dilakukan di kolam tanah. Kolam
tersebut harus jauh dari keramaian. Caranya : siapkan kolam ukuran 50 m2;
perbaiki seluruh bagiannya; keringkan selama 3 - 5 hari; isi air setinggi 60 cm
dan alirkan secara kontinyu; pasang 4 buah sosog (sarang terbuat dari bambu
atau tempat sampah plastik) di empat sudut kolam; masukan 30 ekor induk betina;
pasang empat buah rak bambu 5 cm di atas permukaan air; letakan ijuk atau sabut
kelapa sebagai bahan sarang; masukan pula 10 ekor induk jantan; ambil sarang
sudah berisi telur (biasanya sarang sudah tertutup dengan ijuk atau sabuk
kelapa dan air sekitar sarang berminyak); tetaskan di tempat penetasan.
Induk-induk yang telah lolos seleksi
dimasukkan dalam kolam dengan hati-hati dan penuh kasih sayang.Perbandingan
jumlah antara induk jantan dan betina biasa 1 : 1 - 14. Denganharapan induk
jantan paling sedikit bisa mengawini dua ekor induk betina dalam satu
tarikan.Setelah dilepaskan dalam kolam pemijahan biasanya induk jantan tidakotomatis
langsung membuat sarang, tetapi terlebih dahulu berjalan-jalan,berenang
kesana-sini mengenal wilayahnya. Setelah 15 hari sejak dilepaskan, induk jantan
biasanya sudah langsung disibukkan oleh kegiatannya membuatsarang.
Garis tengah sarang biasanya kurang
lebih 30 cm, yang biasanya dikerjakan oleh induk jantan ini selama seminggu (7
hari). Setelah sarang selesai dibuat,induk jantan cepat-cepat mencari dan
merayu induk betina untuk bersama-sama memijah disarang. Induk betina ini akan
menyemprotkan telur-telurnya kedalam sarang melalui lubang sarang yang kecil,
kemudian jantan akan menyemprotkan spermanya, yang akhirnya terjadilah
pembuahan didalam ijuk ini. Tidak seperti halnya ikan mas yang pemijahannya
hanya beberapa jam saja, pemijahan ikan Gurameh ini biasanya berlangsung cukup lama.
Induk jantan bertugas menjaga sarang selama pemijahan berlangsung.Setelah
pemijahan selesai, biasanya giliran induk betina yang bertugas menjaga
keturunannya, dengan terlebih dulu menutup lubang sarang denganijuk atau
rumputan kering.
Dengan nalurinya sebagai orang tua
yang baik, biasanya induk betina ini menjaga anaknya dengan tak lupa
mengipaskan siripnya terutama sirip ekor kearah sarang. Gerakan sirip induk betina ini akan meningkatkan kandungan
oksigen terlarut dalam air. Air dengan kandungan oksigen yang cukup
akanmembantu menetaskan telur-telur dalam sarang. Sebab seperti
diketahui,telurpun butuh oksigen dalam prosesnya menjadi benih ikan. Sementara dengan
kasih sayang induk betina menjaga keturunanya, induk jantan akan kembali
menyusun sarang dan memikat induk betina yang lainnya untuk melanjutkan
keturunannya. Dari atas kolam kita bisa mengetahui induk-induk yang telah
memijah tanpaturun ke kolam dengan melihat adanya bau amis, dan terlihat adanya
lapisan minyak tepat di atas sarang pemijahan.
2.6. Pakan Ikan Gurami
Pakan merupakan kebutuhan hidup yang menunjang
pertumbuhan dan perkembangan ikan gurrami. Bila pakan yang diberikan sesuai
dengan kebiasaan makan gurami dan mengandung gizi yang tinggi maka pertumbuhan
ikan gurami dapat terpacu lebih cepat.
2.6.1. Kebiasaan Makan Gurami
Sebagai ikan
pemakan tumbuhan, gurani sangat menyukai hijauan berupa daun-daunan, terutama
daun yang masih muda. Daun yang paling disukai gurami adalah talas (keladi).
Kebiasaan menyabik mangsa dan menyobek daun-daunan sebelum memakannya dapat
dilihat dari keberadaan gigi pada bagian rahang gurami.
Gurami aktif
mencari makan pada siang hari dan bagi ikan besar juga aktif menangkap serangga
yang keluar pada malam hari. Metabolisme
ikan dipengaruhi oleh naik turunnya
suhu. Semakin tinggi suhu, kebutuhan pakan juga semakin bertambah karena
naiknya kinerja metabolisme. Naiknya metabolisme mendorong penggunaan energi
sehingga nafsu makan ikut meningkat. Namin, pada suhu dingin, ikan cenderung
tidak melakukan aktivitas sehingga nafsu makan menjadi turun. Pemberian pakan
saat udara dingin tidak memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ikan.
Mengetahui
kebiasaan makan ikan dengan cara memberi pakan secukupnya terlebih dahulu,
kemudian melihat respon ikan terhadap pakan. Bila pakan yang diberikan habis,
maka tambahkan pakan terdapat pakan ikan yang tersisa. Bila terdapat sisa pakan
maka pemberian pakan dihentikan. Setelah itu, kondisi lingkungan pemeliharaan,
yaitu kulitas dan kuantitas air yang
masuk diperiksa. Bila tingkah laku ikan terlihat normal maka sisa pakan segera
diangakat.
Jumlah pakan
yang diberikan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan. Bila terlalu
sedikit, pertumbuhan ikan akan semakin lambat dan menjadikan ukuran ikan tidak
seragam. Sebaliknya pemberian pakan yang berlebihan akan menyebabkan pemborosan
dan pencemaran media pemeliharaan oleh sisa pakan yang tidak termakan oleh ikan.
Akibat pencemaran ini kelangsungan hidup ikan menjadi terganggu dan pertumbuhan
ikan terhambat.
Untuk
memudahkan pengelolaan pemberian pakan, sebaiknya pemberian pakan, sebaiknya takaran
yang digunakan sudah baku, yaitu pelet
yang diberikan sebanyak 2% biomass perharidan hiajuan yang berupa daun talas
sebanyak 5% biomass perhari.
2.6.2. Jenis pakan Gurami
Pakan
alami merupakan pakan hidup yang teridri
dai phytoplankton, zooplankton, dan benthos yang menyuplai kebutuhan protein,
lemak, karbohidrat dan mineral bagi ikan. Jenis pakan alami yang cocok untuk
masing-masing kegiatan budidaya adalah sebagai berikut:
·
Keegiatan pembenihan
Pakan alami yang bagi kegiatan ini harus memiliki
kandungan dan komposisi gizi yang seimbang, mudah dicerna, dan mudah
dibudidayakan. Pertimbangan dalam memilih pakan tersebut karena pakan alami
merupakan pakan awal bagi ikan yang memiliki sistem pencernaan yang belum
sempurna. Selain itu, pakan alami diberikan dalam keadaan hidup sehingga tidak
cepat mengotori media bididaya.
·
Kegiatan usaha pendederan dan pembesaran
Umumnya ikan didederkan dan dan dibesarkan memiliki
bukaan mulut yang besar sehingga dapat diberikann pakan buatan. Pakan buatan
dapat diberikan dalam jumlah yang tepat dengan memperhatikan kualitas akan dan
waktu pemberian. Pemberian pakan buatan ini bertujuan untuk memacu pertumbuhan
dengan kepadatan tebar yang tinggi dan waktu pemeliharaan yang lebih singkat.
2.6.3. Pengelolaan pakan
Fungsi utama pakan adalah untuk kelangsungan hidup dan
sisanya untuk pertumbuhan. Oleh karena itu, bila ingin pertumbuhan gurami
terpacu maka pakan yang diberikan harus melebihi kebutuhan hidupnya. Selain
pakan yang disediakan oleh alam, pakan tambahan sangat menunjang pertumbuhan
ikan. Pakan tambahan hendaknya mengandung gizi yang diperlukan untuk
pertumbuhan, yaitu protein, lemak, karbohidrat, serta vitamin dan mineral. Gizi
tersebut mutlak diberikan pada kegiatan budidaya. Pakan tambahan yang diberikan
hendaknya mengikuti kecendrungan atau kebiasaan makan ikan. Gurami yang telah
dewasa cenderung menyukai pakan hijauan berupa dedaunan. Oleh karena itu pakan
yang diberikan hendaknya diformulasikan sesuai dengan kebutuhan nya.
Bahan baku yang digunakan untuk pakan tambahan
sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan yaitu:
a.
Kandungan gizinya mudah dicerna,
b.
Mudah diperoleh daan mudah pengolahannya,
c.
Tidak beracun dan harganya relatif murah, serta
d.
Bukan sebagai makanan pokok manusia.
Dengan
demikian, secara kualitatif maupun kuantitatif, pemanfaatan bahan baku lokal
yang murah, mudah dan berkualitas merupakan pertimbangan yang perlu dilakukan
mengingat harga pakan saat ini yang sangat mahal.
2.7. Hama dan Penyakit
Ø Penyakit
Beberapa penyakit yang biasa menyerang ikan, baik
dalam kolam maupun wadah lain adalah sebagai berikut:
·
Kutu ikan
Pada kasus ini, penyebab sakitnya ikan tidak termasuk
dalam jenis penyakit karena jenis bakteri atau virus. Namun, karena serangannya
dapat menyebabkan luka yang akhirnya menimbulkan kematian maka lebih cenderung
disebut penyakit. Kutu ikan yang biasa menyerang adalah Argulus sp. Gejala klinis yang dialami ikan yang terserang adalah
pucat, gerakan lambat, kondisi tubuh lemah dan pada tubuh ikan ditemukan kutu
yang menempel. Pengonbatan yang efektif
dilakukan dengan cara perendaman dalam larutan formalin berdosis 40 mg/l
selama 24 jam.
·
Luka darah
Penyakit ini juga tidak dapat disebut penyakit karena
yang menyerang termasuk kedalam kategori hewan dan bukan protozoa, namun
termasuk kedalam trichodina. Secara umum, gejala klinis yang dialami oleh ikan
antara lain gerakan lambat dan lemah serta sering menggosokkan badan pada
dinding wadah. Pengobatan dilakukan dengan cara perendaman dalam larutan garam
dapur (NaCl), dosis 10-15 g/l selama 15
menit.
·
Cacing ikan
Penyakit ini disebabkan oleh parasit Dactylugyrus. Gejala umum yang diderita
ikan pada umumnya adalah mengap-mengap seperti kekurangan oksigen. Pengobatan
dilakukan dengan cara perendaman dalam larutan garam, dosis 40 g/l selama 24
jam.
·
White spot
Penyakit ini disebabkan oleh parasit Ichtyophthyrius. Gejala klinis yang
biasa dilami ikan yang terserang adalah munculnya bercak putih hampir diseluruh
tubuh. Pengobatan yang efektif dilakukan dengan cara perendaman dalam larutan
formalin, dosis 25 mg/l selama 24 jam.
Gejala serangan penyakit
Beberapa tingkah laku
yang dapat dijadikan indikator adanya serangan penyakit antara lain
cenderung naik ke permukaan kolam, operkulum bergerak aktif, berenang lamban,
nafsu makan berkurang, meloncat keluar air, menggosok-gosokkan tubuh ke dinding, cenderung memisahkan diri
dari komunitasnya serta bergerombol pada pintu pemaasukan (inlite). Sementara itu, tingkah laku ikan yang menunjukkan
kekurangsuaian lingkungan antara lain, gelisah, selalu menghindari bagian kolam
atau wadah pemeliharaan yang kulaitas airnya berbeda dan cenderung mencari air
segar.
Beberapa gejala kliis yang biasa tampak pada tubuh
ikan yang terserang penyakit adalah warna tubuh pucat, mata menonjol, tubuh
kasap, sisik terkuak, borok pada permukaan tubuh, insang rusak, sirip
teriritasi, bentuk dan fungsi ginjal terganggu, dan pada bagian hati terjadi
perubahan warna.
Pengendalian penyakit
Dalam kegiatan budidaya ikan dikenal dua cara
pengedalian, yaitu pencegahan dan pengobatan. Pencegahan adalah upaya agar
serangan penyakit tidak terjadi, sedangkan pengobatan adalah upaya untuk
menyembuhkan ikan yang sudah terserang penyakit. Cara mudah dan murah untuk
mencegah datangnya penyakit adalah:
·
Pengeringan. Pengeringan perlu dilakuan secara
periodik pada akuarium, bak, maupun kolam. Dengan cara ini, siklus hidup
penyakit diharapkan terpotong.
·
Pengapuran pada kolam pendederan maupun pada kolam
induk. Umumnya, pengapuran dilakukan bersamaan dengan persiapan kolam.
Tujuannya untuk membasmi penyakit berupa bakteri atau protozoa yang menyerang
ikan.
·
Pengurangan kepadatan ikan. Cara ini bertujuan untuk
mencegah kontak langsung antara ikan yang satu dengan yang lainnya, menghindari
terjadinga penurunan kadar oksigen terlarut dalam air, serta mencegah NH3.
·
Penjagaan kondisi ikan dan lingkungan. Menjaga agar kondisi
ikan agar tetap baik dan tidak stres serta kondisi lingkungan agar sesuai
dengan kebutuhan ikan merupakan salah saatu cara mencegah ikan terserang
penyakit.
·
Pemberian pakan tambahan.
·
Penanganan ikan. Ikan akan sehat bila ditangani dengan
baik dan dihindari dari hal-hal yang menyebabkan luka pada saat pascapanen.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam menanggulangi
ikan yang diidentifikasi terserang penyakit adalah sebagai berikut:
·
Kualitas air
·
Jumlah ikan
·
Wadah yang digunakan
·
Penyakit
·
Jenis dan dosis obat
·
Kadar oksigen terlarut
·
Pakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar