WELKOM

Senin, 25 November 2013

Laporan Fisiologi



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara bahari dan tepatnya dikatakan negara kepulauan. Indonesia ditutupi dua pertiga oleh air, wilayah tanah air Indonesia memiliki potensi sumberdaya hayati perikanan yang besar dan belum seluruhnya dapat dikelola
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi yang besar di bidang Perikanan. Luas wilayah Indonesia sebesar 7,9 juta km2 atau sekitar 81 % dari wilayah seluruh Indonesia. Sedangkan luas perairan Indonesia saat ini lebih kurang  14 juta Ha, yang terdiri dari sungai dan rawa sebesar 11,9 juta Ha, 1,78 juta Ha danau alam dan 0,93 juta Ha danau buatan. Hal ini merupakan potensi yang sangat bagus untuk pengembangan usaha perikanan (Nyabakken, 1992).
Pemeriksaan jenis kelamin dalam budidaya sangatlah penting.Karena hal tersebut menentukan dalam proses-proses selanjutnya dalam kegiatan budidaya, termasuk dalam merekayasa utnuk mendapatkan produksi ikan yang maksimum. Selain itu, identifikasi dan pembedaan jenis kelamin ini dapat digunakan untuk menguji hasil ginogenesis dan androgenesis (Anonymous.2006)                                  
Ikan merupakan makanan manusia yang paling utama sejak awal dari abad sejarah manusia. Daging ikan banyak mengandung protein dan lemak, seperti juga daging-daging hewan ternak. Daging ikan nudah dicerna dibandingkan tumbuh-tumbuhan.Kadar protein dalam ikan dapat mencapai 13-20 %, sedangkan 60-80 % berupa air dan selebihnya lemak. Daging ikan banyak mengandung vitamin-vitamin terutama hatinya.Vitamin tersebut didapat dari plankton secara langsung ataupun tidak langsung, yang menjadi makanan ikan.Mengingat bahwa tiga perempat bagian dari permukaan bumi tertutup dengan lautan dan banyak perairan tawar yang dihuni oleh bermacam-macam ikan (Djuhanda, 1981).
Ikan terdiri dari banyak sekali spesies di dunia yang memiliki kekhasan tersendiri dan yang telah berhasil diidentifikasi para ahli ikhtiologi di dunia ini ada sekitar 20.000 – 40.000 spesies. Bahkan ratusan spesies diantaranya telah memiliki varietas atau strain yang mencapai ratusan varietas.
1.2.  Tujuan dan Manfaat
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui detak jantung ikan dengan menggunakan deterjen dengan dosis yang berbeda.
Manfaat  praktikum ini adalah agar dapat mengetahui pengaruh kadar polutan terhadap pernafasan ikan.















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Morfologi Ikan Tambakan
Ikan tambakan memiliki tubuh berbentuk pipih vertikal. Sirip punggung dan sirip analnya memiliki bentuk dan ukuran yang hampir serupa. Sirip ekornya sendiri berbentuk nyaris bundar atau mengarah cembung ke luar, sementara sirip dadanya yang berjumlah sepasang juga berbentuk nyaris bundar. Di kedua sisi tubuhnya terdapat guratsisi, pola berupa garis tipis yang berawal dari pangkal celah insangnya sampai pangkal sirip ekornya. Kurang lebih ada sekitar 43-48 sisikyang menyusun gurat sisi tersebut. Ikan tambakan diketahui bisa tumbuh hingga ukuran 30 sentimeter.
Salah satu ciri khas dari ikan tambakan adalah mulutnya yang memanjang. Karakteristik mulutnya yang menjulur ke depan membantunya mengambil makanan semisal lumut dari tempatnya melekat. Bibirnya diselimuti oleh semacam gigi bertanduk, namun gigi-gigi tersebut tidak ditemukan di bagian mulut lain seperti faring, premaksila, dentary, dan langit-langit mulut. Ikan tambakan juga memiliki tapis insang (gill raker) yang membantunya menyaring partikel-partikel makanan yang masuk bersama dengan air.
Ada dua jenis ikan tambakan berdasarkan warnanya, namun mereka masih termasuk dalam spesies yang sama: ikan tambakan berwarna hijau dan ikan tambakan berwarna pucat atau merah muda. Belakangan, ada juga jenis ikan tambakan yang ukurannya lebih kecil dari ikan tambakan kebanyakan dan bentuknya bundar nyaris menyerupai balon. Variasi genetis ikan tersebut biasa dikenal dengan nama "gurami pencium kerdil" atau "balon merah muda".

2.2 Kebiasaan Makan Ikan Tambakan
Kebiasaan makan ikan tambakan ( Helostoma temminckii) yaitu 1. Omnivora Lumut, seranga -2. Omnivora Lumut, seranga -3. Omnivora Lumut, serangga. Ikan tambakan adalah jenis ikan yang kebiasaan makannya filter feeder  (menyaring makanan). Dimana jenis makan yang ikan makan adalah omnivora.Dengan keterangan pakan Lumut, seranga. Tipe makan ikan ini adalah omnivor,yang memakan semua jenis makanan terutama algae bentos, tanaman air, planktondan insekta permukaan.Ikan tambakan adalah ikan omnivora yang mau memakan hampir segala jenis makanan. Makanannya bervariasi, mulai dari lumut, tanaman air, zooplankton, hingga serangga air.Bibirnya yang dilengkapi gigi-gigi kecil membantunya mengambil makanan dari permukaan benda padat semisal batu. Ikan tambakan juga memiliki tapis insang (gill raker) yang membantunya menyaring partikel plankton dari air. Saat sedang mencabut makanan yang menempel di permukaan benda padat memakai mulutnya itulah, ikan ini bagi manusia terlihat seolah-olah sedang "mencium" benda tersebut.
2.3 Biologi Ikan Tambakan
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Upaordo:
Famili:
Helostomatidae
Genus:
Helostoma
Spesies:
H. temminckii
Helostoma temminckii
Cuvier, 1829
Ikan tambakan (Helostoma temminckii) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang berasal dari wilayah tropis, tepatnya Asia Tenggara. Ikan ini pada awalnya berasal dari Thailand hingga Indonesia sebelum akhirnya diintroduksi ke seluruh dunia. Ikan ini juga dikenal dengan nama gurami pencium karena kebiasaannya "mencium" saat mengambil makanan dari permukaan benda padat maupun saat berduel antara sesama pejantan. Di Indonesia sendiri, ikan ini memiliki banyak nama seperti bawan, biawan, hingga ikan samarinda.
Kottelat et. al, (1993), mengatakan bahwa ikan yang tergolong ordo cypriniformes di perairan barat Indonesia dan Sulawesi terdiri dari banyak famili. Melihat jenis ikan Cypriniformes cukup banyak dan perubahan ekosistem akibat dari kemungkinan terjadi perubahan jumlah spesies ikan Cypriniformes pada saat ini dan kemudian hari.
Menurt Atmaja (2005) akibat adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan, maka ikan-ikan muda yang berasal dari telur yang menetas pada waktu yang bersamaam akan mencapai tingkat kematangan gonad pada umur yang berlainan. Ukuran ikan jika pertama kali matang gonad tidak selalu sama, disebabkan antara lain oleh suhu air dan dan ketersediaan pakan ( Atmaja, 2005)
Sitanggang (1987) mengemukakan bahwa ikan tambakan  termasuk golongan ikan labyrinthici yaitu sebangsa ikan yang memiliki alat pernafasan berupa insang dan insang tambahan (labyrinth). Labyrinth adalah alat pernafasan yang berupa selaput tambahan yang berbentuk tonjolan pada tepi-tepi atas lapisan insang pertama.Pada selaput terdapat pembuluh darah kapiler (zat asam) langsung dari udara dan pernafasannya.
2.4 sexsualitas Ikan Tambakan
Seperti yang telah dikemukakan, Saanin (1984) telah mengklasifikasikan ikan Tambakan ke dalam kelas Pisces, famili Anabantidae, genus Helostoma dan spesies Helostoma temmincki.
Dari ke-25 ekor ikan Tambakan (Helostoma temmincki) yang dipraktikumkan. Di dapatkan 6 ekor berjenis kelamin betina dan 19 ekor berjenis kelamin jantan. Data tersebut diperoleh dengan mengamati masing masing individu, baik melalui penampakan ciri seksual primer ataupun ciri seksual sekunder.
Penampakan ciri ciri seksual sekunder dilakukan dengan dua cara, yaitu seksual dimorphisme dan seksual dichromatisme.
Sifat seksual sekunder ialah tanda tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina. Apabila satu spesies ikan mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina, maka spesies itu memilki seksual dimorphisme. Apabila yang menjadi tanda itu warna, maka ikan itu mempunyai sifat seksual dikromatisme. Pada ikan jantan mempunyai warna lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina (Effendi, 2002)
            Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja. Apabila ikan jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi tanda seksual sekunder tadi menghilang, tetapi pada ikan betina tidak menunjukkan sesuatu (Effendie, 2002)
Demikian juga menurut Tim Iktiologi (1989), bahwa warna pada ikan sering merupakan cirri pengenalan seksual. Secara umum dapata dikatakan bahwa ikan jantan mempunyai warna yang cemerlang dari pada ikan betina.
Sedangkan untuk penampakan seksual primer kita melakukan pengamatan dengan melakukan striping dan membedah bagian abdominal tubuh ikan yang diamati.
Seksualitas ikan dapat ditentukan dengan mengamati ciri-ciri seksual skunder dan seksual primer.Pengamatan seksual primer harus dengan pembelahan diperut ikan.Sedangkan seksual skunder dengan memperhatikan ciri-ciri morfologi yaitu bentuk tubuh. Organ pelengkap dan warna (andea,2005).
Selanjutnya Effendie (1997) menyatakan bahwa sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi yaitu ovarium dan pembuluhnya. Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina.Apabila suatu spesies ikan mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina maka spesies ikan mempunyai seksual dimorphisme.Apabila yang menjadi tanda itu warna maka ikan itu mempunyai seksual dichromatisme dimana pada ikan jantan biasanya warnanya agak lebih cerah dan menarik daripada ikan betina.
Ciri seksual ikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu ciri seksual primer dan ciri seksual sekunder. Ciri seksual primer adalah alat organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi. Testes dan salurannya pada ikan jantan merupakan ciri seksual primer.Untuk melihat perbedaannya diperlukan pembedahan.Ciri seksual sekunder berguna dalam membedakan ikan jantan dengan ikan betina dan dapat dilihat dari luar, meskipun kadang kala tidak memberikan hasil yang positif (nyata).(Tim Ikhtiologi, 1989).
2.5 Tingkat Kematangan Gonad Ikan Tambakan
Hal ini sesuai dengan pendapat Effendi (1997),yang mengatakan bahwa penentuan jenis kelamin setelah dilakukan pengukuran panjang berat, kemudian ikan dibedah dan dikeluarkan gonadnya untuk mengetahui jenis kelamin ikan tersebut.Penentuan jenis kelamin ikan tambakan dengan memperlihatkan ciri seksual primer dengan membedah tubuh ikan tersebut.Setelah itu diamati ciri seksual sekunder dengan memperlihatkan bentuk tubuh pada organ pelengkap lainnya.
Alat kelamin yang terdapat pada individu ikan disebut gonad.Akan tetapi jika gonad itu terdapat dalam rongga tubuh ikan jantan disebut testes, sedangkan gonad yang terdapat dalam rongga tubuh ikan betina disebut ovary. Gonadmemiliki pembuluh darah yang berfungsi sebagai supply (penyedia) nutrisi. Testes pada ikan terdapat dalam rongga tubuh, bentuknya sangat tergantung pada rongga tubuh yang tersedia tetapi umumnya berbentuk panjang, jumlahnya sepasang dan tergantung di sepanjang mesenteries pada rongga atas bagian tubuh.Posisinya persis di bawah tulang punggung di samping gelembung udara. Warna bervariasi mulai dari transparan sampai putih susu. Ovari pada ikan terdapat dalam tubuh, bentuknya juga tergantung pada rongga tubuh.Namun umumnya memanjang, jumlahnya sepasang dan menggantung kepada mesenteries (mesovaria).Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung udara.Warnanya bervariasi mulai dari transparan sampai kuning emas dan keabu-abuan.
Kottelat et.al.,(1993) menyatakan bahwa ikan Tambakan memiliki ciri-ciri bentuk tubuh pipih lebar, dimana tinggi badan lebih ½ kali dari panjang tubuhnya, sirip punggung panjangnya terdiri 12-13 jari-jari keras dan tajam 11-13 jari-jari lemah, sirip dubur 9-11 jari-jari keras dan 9-21 jari-jari  lemah, sirip perut 1 jari-jari keras dan 2 diantaranya jari-jari lemahnya memanjang seperti benang yang berfungsi sebagai alat peraba, sirip dada 2 jari-jari keras yang kecil dan 13-14 jari-jari lemah. Gurat sisi sempurna mulai kepala hingga ekor yang terdiri dari 30-33 keping sisik.
Pengamatan ciri seksual primer pada setiap individu ikan dilakukan melalui cara membedah tubuh bagian abdominal ikan dan mengamati gonad yang dimiliki yaitu testes jika jantan dan ovari jika betina. Namun jika ikan masih hidup, untuk melihat gonadnya dapat dilakukan dengan cara mengeluarkan gamet dengan menstripping induk yang sudah matang gonad atau mengisap gonad dengan bantuan kateter canula (selang halus).
Sedangkan menurut Pulungan (2006), perbedaan ikan jantan dan ikan betina dapat dilihat dari gonad yang dimiliki dengan cara membedah tubuh ikan (seksual primer) serta bentuk warna dan organ lengkap (seksual sekunder) untuk membedakan ikan jan-tan dan ikan betina dapat juga dilihat dari bentuk kepala, bentuk tengkorak, sirip punggung, sirip dada, sirip ekor, sirip anus serta ukuran lubang pada kelamin.
Warna ovari pada ikan betina sampel adalah kuning emas yang menunjukkan bahwa ovari sudah matang dan siap dibuahi.Jumlah ovari ada sepasang dan memiliki saluran kecil yang disebut oviductus. Testes pada ikan jantan sampel berwarna putih susu. Jumlah testes sepasang dan memiliki saluran yang disebut ductus.Gonad baik testes maupun ovari mempunyai saluran agak pendek dan bersatu dengan vesica urinaria, membentuk sinus urogenitalis yang berlanjut sebagai saluran yang bermuara sebagai porus urogenitalis.
Untuk membedakan antara ikan jantan dan ikan betina selain berdasarkan ciri seksual primer juga dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap ciri seksual sekunder ikan tersebut. Untuk membedakan ikan tambakan jantan dan betina berdasarkan ciri seksual sekunder yaitu:
1) Halus kasarnya permukaan kepala, jika kasar adalah ikan jantan sedangkan ikan betina memiliki permukaan kepala yang halus.
2) Bentuk permukaan perut ikan, pada ikan jantan permukaan perutnya agak ramping sedangkan ikan betina memiliki permukaan perut agak gemuk karena mengandung telur dalam ovari. Ciri spesies ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri spesies ikan tambakan jantan adalah bentuk badan tidak terlalu melengkung, bentuk kepala lebih merata, ukuran kepala lancip, dasar sirip dada lebih keras, letak sirip perut lebih panjang, bentuk lubang genital bulat (tumpul).Sedangkan ciri spesies ikan tambakan betina adalah badan melengkung, perut membujur dan mendatar sampai ke anus, bentuk kepala lebih besar dan dasar sirip dada lunak, bentuk sirip perut lebih pendek dan bentuk lubang genital menonjol (agak lancip).
Pengamatan tentang tahap-tahap kematangan gonad ikan dapat dilakukan secara morfologi dan histologi. Tahap kematangan gonad yang umum digunakan oleh peneliti adalah pentahapan yang dilakukan oleh Kesteven yang membagi menjadi 9 tahap yaitu : I) dara, II) dara berkembang, III) perkembangan I, IV) perkembangan II, V) bunting, VI) mijah, VII) mijah/salin, VIII) salin/spent, IX) pulih salin. Sedangkan Nikolsky membagi menjadi 7 tahap yaitu: I) tidak masak, II) tahap istirahat, III) hampir masak, IV) masak, V) reproduksi, VI) kondisi salin, VII) tahap istirahat.
Alat kelamin pada ikan disebut gonad.Gonad dalam rongga tubuh ikan jantan disebut testes, sedangkan gonad yang terdapat dalam rongga tubuh ikan betina disebut ovari.Alat kelamin berupa gonad (kelenjar kelamin), terdapat sepasang dalam abdomen (rongga perut) dan terletak gelembung udara yang terdapat pada ikan betina dan ikan jantan.Organ seksual yang merupakan ciri-ciri seksual primer pada ikan tambakan terdiri dari testes pada ikan jantan dan ovari pada ikan betina.Testes ikan tambakan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Testes pada ikan tambakan jantan yang terdapat didalam tubuh ikan bervariasi mulai dari berwarna bening transparan sampai putih susu yang menunjukkan tahap perkembangan gonadnya dan berjumlah dua buah atau sepasang. Bentuknya memanjang dan terletak menggantung pada mesenteries (mesovaria) dengan posisi persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung renang. Testes  ikan tambakan ini terletak di dalam rongga perut ikan jantan.
Ovari pada ikan tambakan betina terdapat di dalam tubuh ikan tepatnya di dalam rongga perut ikan tersebut.Bentuknya memanjang dan berjumlah sepasang dengan letak menggantung pada mesenteries (mesovaria).Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung renang.Warna ovari pada ikan sampel bervariasi mulai dari bening transparan sampai kuning keemasan yang menunjukkan tahap kematangan gonadnya dan memiliki butiran telur.Untuk lebih jelasnya, gambar ovari pada ikan ini dapat dilihat di bawah ini.Butiran telur pada ovari ikan betina juga bervariasi baik warna maupun ukurannya yang menunjukkan perkembangan gamet ini.Warnanya mulai dari transparan sampai kuning keemasan dan berbentuk bundar.
Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin (gamet).Gonad yang terdapat pada tubuh ikan jantan tersebut disebut testes yang berfungsi menghasilkan spermatozoa, sedangkan yang terdapat pada individu ikan betina disebut ovari berfungsi menghasilkan telur. (Pulungan et. al,  2006). Selanjutnya dikatakan juga bahwa gonad yang terdapat didalam tubuh mengalami perkembangan dari bentuk sehelai benang yang berisi cairan bening kemudian berkembang dan membesar sesuai dengan kapasitas rongga perut yang dimiliki individu ikan.Perkembangan gonad ini dipengaruhi oleh adanya perkembangan gamet yang diproduksi oleh gonad itu sendiri.Semakin matang gonad suatu in-dividu ikan maka semakin besar bentuk dan berat gonad serta tubuh individu ikan.
2.6 Biologi Ikan Nila
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Oreochromis niloticus
Oreochromis niloticus
Linnaeus, 1758
Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia sekaligus hama di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.
2.7 Kebiasaan Makan Ikan Nila
Ikan nila dilaporkan sebagai pemakan segala (omnivora), pemakan plankton, sampai pemakan aneka tumbuhan sehingga ikan ini diperkirakan dapat dimanfaatkan sebagai pengendali gulma air.
Ikan ini sangat peridi, mudah berbiak. Secara alami, ikan nila (dari perkataan Nile, Sungai Nil) ditemukan mulai dari Syria di utara hingga Afrika timur sampai ke Kongo dan Liberia; yaitu di Sungai Nil (Mesir), Danau Tanganyika, Chad, Nigeria, dan Kenya. Diyakini pula bahwa pemeliharaan ikan ini telah berlangsung semenjak peradaban Mesir purba.
Telur ikan nila berbentuk bulat berwarna kekuningan dengan diameter sekitar 2,8 mm. Sekali memijah, ikan nila betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 300-1.500 butir, tergantung pada ukuran tubuhnya. Ikan nila mempunyai kebiasaan yang unik setelah memijah, induk betinanya mengulum telur-telur yang telah dibuahi di dalam rongga mulutnya. Perilaku ini disebut mouth breeder (pengeram telur dalam mulut).
Karena mudahnya dipelihara dan dibiakkan, ikan ini segera diternakkan di banyak negara sebagai ikan konsumsi, termasuk di pelbagai daerah di Indonesia. Akan tetapi mengingat rasa dagingnya yang tidak istimewa, ikan nila juga tidak pernah mencapai harga yang tinggi. Di samping dijual dalam keadaan segar, daging ikan nila sering pula dijadikan filet.
Ikan ini menjadi hama di seluruh sungai-sungai dan danau di Indonesia ketika di tebar ke dalam sungai dan danau karena ikan ini memakan banyak tumbuhan air dan menggantikian posisi ikan pribumi indonesia, akan tetapi ikan nila masih tetap ditebar oleh pemerintah di sungai-sungai dan danau Indonesia tanpa memperhatikan dampaknya.
2.8 Morfologi dan Anantomi
·         Morfologi
Morfologi ikan nila yaitu memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah bertikal (kompres) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior.Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembuhkan.Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya.Ciri khas ikan nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur.Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membuat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad.Pada rahang terdapat bercak kehitaman.Sisik ikan nila adalah tipe ctenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, begitu pun bagian analnya. Dengan posisi sirip anal di belakang sirip dada (abdorminal)
Ikan nila memiliki tulang kartilago kranium sempurna, organ pembau dan kapsul otik tergabung menjadi satu. Eksoskleton Ostracodermi mempunyai kesamaan dengan dentin pada kulit. Elasmobrachii yang merupakan mantel keras seperti email pada gigi vertebrata. Di bawah lapisan tersebut terdapat beberapa lapisan tulang sponge dan di bawahnya lagi terdapat tulang padat. Tulang palato-quadrat dan kartilago Meckel adalah tulang rawan yang akan membentuk rahang atas dan rahang bawah
·         Anatomi
Organ-organ internal ikan adalah jantung, alat-alat pencerna, gonad, kandung kemih, dan ginjal.Alat pencernanya terdiri atas aesopaghus, perut besar, usus halus, pankreas, dan hati.Organ-organ tersebut biasanya diselubungi oleh jaringan pengikat yang halus dan lunak yang disebut peritoneum.Peritoneum merupakan selaput (membran) yang tipis berwarna hitam yang biasanya dibuang jika ikan sedang disiangi.Bentuk badan ikan nila adalah pipih kesamping memanjang.Mempunyai garis vertikal 9-11 buah, garis-garis pada sirip ekor berwarna hitam sejumlah 6-12 buah.Pada sirip punggung terdapat garis-garis miring.Linea literalisnya terputus jadi dua bagian dan dilanjutnya dengan garis yang terletak di bawah.Letak linea literalis memanjang di atas sirip dada.Jumlah sisik pada garis rusuk 39 buah.Tipe sisik ctenoid. Bentuk sirip ekor perpinggiran tegak.

BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat
            Praktikum ini dilakukan pada tanggal 25 Mei 2013  pada pukul 16:00 WIB sampai selesai di Balai Benih Ikan (BBI) Universitas Isalm Riau.

3.2. Bahan dan Alat
·         Ikan (Tambakan dan Nila)
·         Deterjen
·         Aquarium
·         Air
·         Handy counter
·         Timbangan ohaus
·         Penggaris
3.3. Metode Praktikum
            Metode praktikum adalah metode dengan mengamati objek praktikum dengan mengikuti petunjuk yang sudah d arahkan oleh asisten praktikum.Kemudian dilakukan pengukuran dan pencatatan.
3.4. Prosedur Praktikum
·         Mempersiapkan ikan lalu ditimbang berat ikan tersebut dan panjangnya.
·         Siapkan deterjen ditimbang dengan dosis 1,6 ppm untuk bak kecil, 3,2 ppm untuk bak yang sedang, dan 4,8 ppm untuk bak yang besar.
·         Siapkan wadah yaitu berupa aquarium sebanyak 3 buah dan diisi air setinggi 25 cm lalu masukkan deterjen kedalam aquarium tersebut sesuai dengan dosisnya.
·         Setelah itu masukkan ikan dan hitung detak jantungnya.


















BAB IV
HASIL
4.1. Ikan Nila
Perlakuan
Kecil (40,1 g)
Sedang (150,1 g)
Besar (250,1 g)
1,6 ppm
298 kali
214 kali
107 kali
3,2 ppm
160 kali
217 kali
268 kali
4,8 ppm
248 kali
298 kali
293 kali

4.2. Ikan Tambakan
Ikan tambakan
1,6 ppm
3,2 ppm
4,8 ppm
11 kali
5 kali
3 kali

Berat Ikan 80 g
Panjang Total Ikan 17,5 cm
Panjang Standar 13 cm
           









BAB V
PEMBAHASAN
5.1. Ikan Nila
            Dari hasil pratikum yang di lakukan, air yang menggunakan deterjen dengan dosis 1,6 ppm ikan yang berukuran kecil (40,1 g) detak jantungnya sebanyak 298 kali, ikan yang berukuran sedang (150,1 g) detak jantungnya 214 kali, dan yang berukuran besar (250,1 g) detak jantungnya sebanyak 107 kali. Deterjen dengan dosis 3,2 ppm ikan yang berukuran kecil (40,1 g) detak jantungnya 217 kali, ikan yang berukuran sedadng (150,1 g) detak jantungnya sebanyak 217 kali, ikan yang berukuran besar (250,1 g) detak jantungnya sebanyak 268 kali, dan deterjen dengan dosis 4,8 ppm ikan yang berukuran Kecil (40,1 g) detak  jantungnya sebanyak 248 kali, ikan yang  berukuran sedang (150,1 g) detak jantungnya sebanyak 298 kali, ikan yang  berukuran besar (250,1 g) detak jantungnya sebanyak 293 kali.
5.2. Ikan Tambakan
            Ikan tambakan yang di uji menggunakan deterjen dengan dosis 1,6 ppm detak jantungnya sebanyak 11 kali, dosis 3,2 ppm detak jantungnya sebanyak 5 kali, dosis 4,8 ppm detak jantungnya sebanyak 3 kali.







BAB VI
PENUTUP
6.1. KESIMPULAN
 Disimpulkan bahwa, dari kedua ikan uji ikan nila dan ikan tambakan,  semakin tinggi dosis deterjen yang di berikan, denyut jantung kedua ikan semakin lemah, dan pergerakan ikan juga semakin lambat, ternyata polutan (deterjen)  sangat mempengaruhi kehidupan ikan yang ada di suatu perairan.
6.2. SARAN
            Kita sebagai mahasiswa khususnya mahasiswa perikanan dan juga segenap masyarakat agar menjaga kelestarian lingkungan suatu perairan supaya organisme yang hidup di perairan tersebut dapat hidup dan berkembang dengan baik. Intinya jangan membuang sampah dan sisa-sisa limbah kedalam sungai ataupun perairan-perairan di lingkungan kita.
           









DAFTAR PUSTAKA
Yudha, Indra Gumay.2009. REPRODUKSI.Fakultas Pertanian. Universita Lampung.Bandar Lampung.
Effendie, Ichsan Moch, M.Sc, H, Dr, Prof, 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara: Yogyakarta
Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyology. Diktat Perkuliahan Fakultas Pertanian Bogor. Bogor. 113 hal
Alamsyah, Z. 1974. Ikhtiologi Sistematika (Ichtyologi I). PPM. PT. ITB. Bogor. 183 halaman.
Nyabakken. 1992. Biologi laut suatu pendekatan ekologi. P.T. Gramedia. Jakarta
Djuhanda, 1981.Dunia Ikan. Penerbit Armico. Bandung. 130 halaman.
Effendi, M. I. 1997. Metodologi Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 122 hal.
Fauzi, M., 1999. Struktur Ikan di Sungai Selatan Bengkulu Utara. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Unri. Pekanbaru.
F.D. Ommanney. 1989. Ikan. Tira Pustaka. Jakarta.187 hal
Kottelat, M., et al.1993Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi (Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition Limited. Munich. Germany. 293 hal.
Tang dan afandi 2005 dalm buku biologi perikanan
Pulungan et al, 2006. Penuntun Praktikum Ichthyologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru, 74 hal (tidak diterbitkan).
Putra, R. M., et al. 2004. Penuntun Praktikum Ichthyology. Laboratorium Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Univesitas Riau. Pekanbaru.74 hal. (tidak diterbitkan. Hanya untuk kalangan sendiri).
Saanin, H., 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi. Bina Cipta, Bandung. 520 halaman Pulungan, C. P., et al. 2005.Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Univesitas Riau. Pekanbaru.80 hal. (tidak diterbitkan. Hanya untuk kalangan sendiri).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar