BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Ekologi addalah cabang ilmu biologi yang banyak memanfatkan informasi dan
barbagai ilmu pengetahuan lain seperti : kimia, fisika, geologi, dan
klimatologi untuk pembahasannya. Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki
interaksi organisme dan lingkungannya (Unila,
2009).
Sesungguhnya ekologi dalam arti proses alam telah dikenal sejak lama,
sesuai dengan sejarah manusia.. Adapula hewan menjadi makanan hewan lain,
demikian pula proses kelahiran, kehidupan, pergantian generasi dan pergantian
semua telah menjadi pengetahuan manusia. Proses ini berlangsung
berkesinambungan mengikuti apa yang kita namakan “Hukum Alam”. Ekologi dalam
pemahaman kuantitatif relatif masih baru. Umpamanya jumlah beberapa matahari,
jumlah air, dan luasan tanah untuk satu pohon (Rosoedarmo. Et.al, 1992).
Kolam memiliki berbagai macam peran dan manfaat. Ditinjau dari aspek
ekologi, rawa berperan sebagai sumber cadangan air, menyerap dan menyimpan
kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air
tersebut pada saat daerah sekitarnya kering, mencegah terjadinya banjir, sumber
energi, dan sumber makanan nabati maupun hewani (Darojah, 2004).
1.2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum kali ini
adalah untuk melatih dan meningkatkan kemampuan mahasiswa adalah :
a. Keterampilan Kognitif
· Komparansi antasi teori dan kondisi
di lapangan
· Pengintegrasian
pemahaman sebagai teori
· Penerapan
teori pada keadaan nyata lapangan
b. Ketrampilan afektif:
· Perencanna kegiatan secara mandiri
· Kemampuan bekerjasama
· Pengkomunikasian hasil belajar
c. Kemampuan psikomotorik
· Penguasaan pemasangan peralatan
· Penggunaan
peralatan dan instrumen tertentu
1.3. Manfaat Praktikum
Manfaat dari kegiatan praktikum ini adalah :
1) Mengenal ikan sekaligus menumbuh rasa empati mahasiswa tehadap ekosistem
pada kolam pada perairan.
2) Meningkatkan kemampuan teknis dalam mengukur parameter fisika, kimia dan
biologi.
3) Bagi peneliti atau lembaga ilmiah Sebagai sumber informasi keilmuan dan dasar untuk
penuisan atau penelitian lebih lanjut berkaitan
dengan ekosistem kolam.
1.4. Tempat dan Waktu
Pelaksanaan
praktikum Ekologi Perairan ini dilaksanakan di Mata Air
Sumber Awan Singosari Kabupaten Malang. Pelaksanaan praktikum ini di laksanakan pada hari Sabtu, 01 Juni 2013, pukul
: 09.00 -12.00
WIB.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ekologi
Perairan
Kata ekologi pertama kali
diperkenalkan oleh Ernest Haeckel, ahli biologi jerman pada tahun 1869, arti
kata oikos yang berarti rumah atau tempat tinggal, dan logos bersifat telaah
atau studi. Jadi ekologi adalah ilmu tentang rumah atau tempat tinggal mahluk.
Biasanya ekologi dodefinisikan sebagai “ilmu yang mempelajari hubungan timbale
balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya”. Yang dimaksud dengan mahluk
hidup disini adalah “kelompok” mahluk hidup (Soegiarto et al, 1992).
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai
komponen penyusunnya, yaitu factor abiotik dan biotic. Faktor biotic antara
lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik
adalah mahluk hidup yang terdiri diri manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba.
Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk
hidup yaitu populasi, komunitas, ekosistem yang saling mempengaruhi dan
merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. Faktor biotik adalah faktor
hidup yang meliputi semua mahluk hidup dibumi, baik tumbuhan maupun hewan.
Dalam ekosistem tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai
konsumen dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor biotik juga
meliputi tingkatan-tingkatan organism yang meliputi individu, populasi,
komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organism makhluk hidup
tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi
membentuk suatu sistem yang menunjukkan kesatuan (Rasyid, 2009).
Peredaran ikan diperairan serta
kepadatan gerombolan disebabkan oleh kegiatan antar individu ikan itu dan
keadaan sekelilingnya yang meliputi segi-segi kimiaiwi, phsyik, dan biologis.
Ilmu yang mempelajari hubungan antara suatu organisme lainnya disebut ekologi.
Didalam air keadaan sekeliling dari pada suatu populasi ikan adalah organism
lainnnya yang berbeda dalam kelompok-kelompok di habitat yang berbeda-beda.
Semua merupakan “masyarakat” dalam suatu perairan berikut habitat dan semua
yang mendukung disebut ekosistem (Soemarto,
1983).
2.2. Ciri-Ciri Ekologi Kolam
Kolam adalah daerah perairan yang kecil dimana zona litoralnya relative
bear dan daerah limnetik serta profundal kecil atau tidak ada. Stratifikasi
tidak terlalu penting. Kolam dapat dijumpai dikebanyakan daerah dengan curah
hujan yang cukup. Kolam-kolam terus menerus terbentuk, contohnya, bila aliran
air berpindah, meninggalkan bekas aliran terisolasi sebagai perairan yang
tergenang (Odum, 1993).
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak mencolok,
penetrasi cahaya kurang dan dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan
yang terbanyak adalah ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air taear. Organisme yang hidup di
air tawar adalah biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat ( Rifqi, 2009).
Menurut Godam (2009),
cirri-ciri habitat air tawar adalah:
1. Variasi
temperature atau suhu rendah
2. Kadar garam
atau salinitas rendah
3. Penetsasi
dari cahaya matahari kurang
4. Terpengaruh
iklim dan cuaca alam sekitar
5. Tumbuhan mikroskopis
seperti alga dan fitoplankton sebagai produsen utama.
Jika kita mengamati kolam
secara keseluruhan sabagai ekosistem, maka dapat dibuktikan bahwa kolam bukan
hanya tempat tumbuhan dan hewan, akan tatapi tumbuhan dan hewan tersebut turut
serta ,membentuk suatu system dalam kolam, jadi ada hubungan biotic dan abiotik
(Lumban batu, 1983).
2.3. Siklus Hidrologi Air
Prinsipnya, air yang berasal dari hujan akan masuk
kedalam tanah. Namun tidak semua air dapat ditampung oleh tanah. Hal ini
disebabkan karena setiap jenis batuan memiliki kemampuan menyerap yang
berbeda-beda. Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak
pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui
kondensasi, presitipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut
dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai
presitipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es, dan salju. Hujan
gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presitipitasi dapat
berevaporasi kembali keatas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh
tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus
bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda ( evans, 2009).
Siklus air
atau siklus hidrolgi adalah siklus air yang pernah berhenti dari atmosfer ke
bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, evaporasi, dan transpirasi
(Wikipedia, 2009).
Air (tawar
dan laut) secara berkesinambungan bergerak dalam bentuk curah hujan dan
penguapan. Jumlah air dari tanah kurang lebih 3% dan dari air laut kurang 97 %
dari total air yang menguap. Dan jumlah itu yang berkondensasi hanya 40% yaitu
6,4 % dari darat dan 33,6 % dari laut. Setelah kondensasi turun sebagai hujan
dan jatuh didarat kurang lebih 10% dan yang jatuh dilaut 30%. Sisanya air yang
menguap ada yang jatuh didarat sebagai embun dan dikandung dalam alam. Menurut
penelitian, air diudara kita itu kurang lebih 0,002% (Brotowidjoyo, et al,
1999).
Menurut Scribd (2010), evaporasi
atau penguapan adalah proses pertukaran (transfer) air dari permukaan bebas
(free water surface) dari muka tanah, atau dari air yang tertahan di atas
permukaan bagunan atau tanaman menjadi molekul uap air di atmosfer. Proses ini
sebenarnya terdiri dari dua kejadian yang saling berkelanjutan yaitu :
a. Interface
Evaporation : yaitu proses pertukaran air di permukaan menjadi uap air di
permukaan (interface) yang besarnya tergantung dari energi dalam yang tersimpan
(stored energy).
b. Vertical Vapor Transfer : yaitu perpindahan lapisan
udara yang jenuh uap air dari interface ke lapisan di atasnya, dan hal ini bila
memungkinkan proses penguapan akan berjalan terus. Transfer ini dipengaruhi
oleh kecepatan angin, topografi dan iklim lokal.
Kondensasi adalah proses dimana pemuaian dan gas kehilangan panas
dan akan berubah bentuk menjadi cair. Saat pemuaian dan gas naik ke tempat
lebih tinggi, temperature udara lingkungan sekitar akan semakin turun
menyebabkan terjadinya proses kondensasi dan kembali ke bentuk cair (Narendra,
2010).
Evapotranspirasi adalah penguapan
total baik dari permukaan air, daratan, maupun dari tumbuh-tumbuhan. Banyak
faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi ini antara lain: suhu udara, kembaban
udara, kecepatan angin, tekanan udara, sinar matahari, ketinggian lokasi
proyek, dan lain sebagainya. Di dalam perencanaan irigasi, penilaian jumlah air
yang dibutuhkan untuk suatu areal tidak memisahkan antara evaporasi dan
transpirasi. Istilah yang digunakan adalah ET, dan merupakan kombinasi antara
evaporasi dan transpirasi. Oleh karena air yang digunakan oleh tanaman untuk
proses metabolisme hanya sedikit atau kurang dari 1%, nilai tersebut diabaikan
(Sudjarwadi (1990) dalam AcehPedia (2009)
2.4. Rantai Makanan
Rantai makanan
adalah perpindahan energi dari materi
dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hiduo yang lain melalui proses makan
memakan dengan urutan tertentu. Suatu rantai makanan dapat disusun dalam
piramida makanan adalah komposisi rantai makanan yang semakin keatas jumlahnya
semakin kecil (Sumantri, 2009).
Dengan
menggunakan klorofil fitoplankton itu mensintesis subtansi organis, menggunakan
energi dari matahari melalui proses fotosintesa, dan memerlukan nutrient
(makanan) seperti nitrat, fosfat, fe-anorganik, dan CO2. Protein, lemak, dan
karbohidrat merupakan mata rantai penghubung (link) pertama (Produk pertama)
dalam rantai makanan (food chains) dalam laut, yang dibuat oleh fitoplankton
(bersifat heterotropis),. Zooplankton herbivora makan fitoplankton, merubahnya menjadi jaringan tubuh zooplankton (produk
kedua), dan zooplankton iti dimakan zooplankton (Produk ketiga). Inilah suksesi
trofik dalam rantai makanan atau jaring-jaring makanan (food web) yang
merupakan tingkatan-tingkatan. Pada tiap tingkat itu bahan organis hilang
melalui ekskresi atau mati yang bukan karena dimakan oleh tingkat berikutnya.
Bakteris yang kemudian menguraikan bahan organis tersebut agar dapat digunakan
lagi dan terjadi regenerasi ( Brotowidjoyo, et al , 1999).
Energi pangan sumberdaya
didalam tumbuh-tumbuhan melalui satu seri organisme engan diulang-ulang dimakan
dan memakan dinamakan rantai makanan. Pada tiap pemindahan bagian besar, 80% hingga 90% dari energi potensial hilang sebagai panas. Makin pendek rantai makanan (atau
makin dekat organisme itu pada permukaan rantai) makin besar energi yang tersedia. Rantai-rantai pangan terdiri
dari dua tipe dasar, rantai pangan rerumputan, yang mulai pangan sisa yang
dimulai dari dasar tumbuhan hijau ka herbivore yang merumput dan terus ke
karnivora dan rantai pangan sisa yang dimulai dari bahan-bahan mati
kemikroorganisme dan kemudian yuang makan defitrivora dan pemangsanya (Odum,
1993).
2.5 Hubungan
Interaksi Antar Organisme
Menurut (Adhionata,
2010), selain adanya hubungan makan memakan antara
mahluk hidup atau predasi, terdapat juga hubungan lain seperti persaingan atau
kopemtisi, dan hidup bersama atau simbiosis terjadi hubungan saling menguntungkan ataupun merugikan. Ada tiga macam simbiosis :
A. Simbiosis mutualisme
Simbiosis mutualisme merupakan
hubungan yang terjadi antara dua organisme atau lebih yang menguntungkan kedua
belah pihak, dan tidak ada satu pihak yang dirugikan.
B. Simbiosis komensalisme
Simbiosis komensalisme
merupakan hubungan yang terjadi anatara dua organisme atau lebih yang tidak
saling merugikan. Dalam hal ini satu organisme yang lain tidak dirugikan.
C. Simbiosis parasitisme
Simbiosis parasitisme
merupakan hubungan yang terjadi antara dua organisme atau lebih, tetapi salah
satu organisme merugikan organisme yang lainnya. Organisme yang diutungkan
disebut parasit sedangkan organisme yang dirugikan disebut inang.
Menurut Odum (1993), terdapat
sembilan interaksi penting yaitu :
1. Neutralisme, dimana tidak ada satupun populasi yang terpengaruh oleh
asosiasi dengan lain.
2. Tipe persaingan yang saling menghalangi (mutual inhibition competion type)
dalam mana kedua populasi secara aktif saling menghalang-halangi
3. Tipe persaingan penggunaan sumberdaya didalam mana tiap populasi mempunyai
pengaruh merugikan yang lain dalam perjuanganya untuk memperoleh sumber-sumber
yang persediaannya berada pada kekurangan.
4. Amansalisme, didalam mana satu populasi dihalang-halangi sedangkan yang
lainya tidak terpengaruh.
5. Parasitisme
6. Pemangsaan, dimana satu populasi merugikan yang lain dengan cara menyerang
secara langsung tetapi meskipun begitu bergantung pada lain.
7. Comensalisme, dimana satu populasi diuntungkan sdangkan yang lain tidak
terpengauh.
8. Protocooperation, dalam mana kedua populasi memperoleh keuntungan dengan
adanya asosasi itu tetapi hubungan itu tidak merupakan satu keharusan.
9. Mutualisme, dimana pertumbuhan dan kehidupan kedua populasi itu mendapatkan
keuntungan dan tidak satupun dapat hidup di alam tanpa yang lain.
Menurut irsad (2009),
simbiosis adalah hubungan antara dua mahluk hidup yang berbeda jenis. Kebanyakan yang diajarkan adalah 3
macam simbiosis, yaitu metabolisme, komensalisme, dan parasitisme. Tetapi
ternyata ada juga jenis simbosis yang lain yaitu amensalisme (Anggelina, 2007).
2.6. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Ekosistem Kolam
2.6.1. Faktor
Fisika
Pada suhu yang tinggi,
metabolisme organisme juga mengalami peningkatan-peningkatan suhu sebesar 10˚C
dapat mengakibatkan peningkatan proses metabolisme sebesar dua kali lipat, yang
juga menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen. Apabila pencernaan panas ini disertai
dengan pencernaan bahan organik maka penurunan oksigen diperirran akan lebih
tajam (Musa dan Yanuhar, 2006).
Kedalaman perairan dimana proses fotosintesis dengan proses respirasi
disebut kedalama kompensasi. Kedalaman kompensasi biasanya terjadi pada saat
cahaya didalam kolam air hanya tinggal 1% dari seluruh intensitas cahaya yang
mengalami penentrasi dipermukaan air. Kedalaman kompensasi sangat dipengaruhi
oleh kekeruhan dan keberadaan awan berfluktuasi secara harian dan musiman
(Effendi, 2003).
Akibat mengikatkan laju metabolisme, akan menyebabkan konsumsi oksigen meningkat, sementara dilain pihak dengan naiknya temperatur akan menyebabkan kelarutan oksigen dalam air menjadi
berkurang. Hal ini dapat menyebabkan
organisme air akan mengalami kesulitan untuk melakukan respirasi (Barus, 2002).
2.6.2 Faktor Kimia
Sebagian besar biota akuatik
sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7-8,5. Nilai pH sanagat
mempengaruhi proses biokimiawi perrairan missalnya proses nitrifikasi akan
berakhir jika pH rendah. Toksisitas meperlihatkan penigkatan pada pH rendah
(Effendi, 2003).
Organisme air dapat hidup
dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH dengan kisaran toleransi antara
asam lemah sampai basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air.
Pada umunya terdapat antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat
asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena
akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi (Barus, 2002).
Kosentrasi ion hidrogen (H+)
dalam suatu cairan dikatakan dengan pH. Organisme sangat sensitive terhadap
perubahan ion hidrogen. Pada proses penjernihan air limbah. Ph menjadi
indikator untuk meningkatkan efensiensi proses penjernihan. Air limbah
pertambangan atau petanian mengakibatkan tingginya kosentrasi ion hydrogen
sehingga membahayakan kehidupan air (Sutrino dan Suiastuti, 2004).
2.6.3. Faktor
Biologi
Organisme kadang-kadang dapat
tumbuh secara eksplosif dalam waktu singkat yang disebut “blom” sebagai respon
dari kondisi local bloaming dinoflagellata menimbulkan “redtide” yang biasa
terjadi didaerah pantai (perairan tropis). Jenis blue green algae juga dapat
tumbuh secara eksplosif dan menghasilkan bloming pada musim panas terutama
didanau lautan tropis (Herawati, 1989).
Produksi primer itu adalah
langkah pertama dalam rantai makanan atau jaring makanan. Produksi primer itu
adalah laju produksi bahan baku tanaman oleh fotosintesis yang biasanya diukur
atau dinyatakan g˚ (terikat) tiap m2 permukaan air pertahun atau perhari. Oleh
karena produksi primer itu tersebut diperlukan nutrient berupa nitrat dan
fosfat dan sinar matahari (Brotowidjoyo et al, 1999).
Berdasarkan pengalaman
dapat dibedakan antara kekeruhan yang disebabkan olah plankton dan kekeruhan
yang disebabkan faktor lain. Namun demikian perlu diingat bahwa bloming
plankton tidak selalu berwarna hijau. Dapat pula berwarna merah, coklat dan
hitam keadaan ini tidak baik karena konsentrasi oksigen terlarut akan menjadi
masalah (Mahmudi, 2005).
Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini
sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tidak dapat hidup, sebaliknya predator
juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa, seperti adanya zooplankton sebagai
pemangsa fitoplankton yang ada diperairan (Pendamping praweda biologi, 2001).
2.7. Definisi
Benthos
2.7.1
Ciri-ciri Benthos
Makrozoobenthos dapat bersifat
toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang
memilki toleran yang luas akan memilki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya
organisme yang kisaran tolerasinya
sempit (sensitif) maka penyebaranya juga sempit (Hakim, 2009).
Menurut Sudarjanti dan Wijarni
(2006), benthos macro invertebrate :
· Komunitas makroinvertebrata mepunyai yang berbeda terhadap berbagai tipe
pencemaran dan mempunyai reaksi yang cepat.
· Ditemukan melimpah di perairan, terutama di ekosistem sungai, dipengaruhi
oleh berbagai tipe polutan yang ada.
· Mempunyai keankaragaman yang tinggi dan mempunyai respon terhadap
lingkungan yang stress.
· Hidup melekat didasar perairan.
· Mempunyai siklus hidup yang panjang.
Keberadaan
hewan benthos pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor
lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh
diantaranya adalah produsen yang merupakan salah satu sumber makanan bagi
benthos dalam komunitas. Adapun faktor abiotik adalah fisika kimia air yang
diantaranya suhu, arus, oksigen. Kebutuhan oksigen biologi dan kimia, serta
kandungan nitrogen kedalaman air dan
subtrat (Hakim, 2009).
2.7.2
Peranan Benthos
Sebagai Indikator Perairan
Menurut Musa dan Yanuhar
(2006), bahwa peranan benthos di perairan adalah :
1. Mendaur ulang bahan organik
2. Membantu proses mineralisasi
3. Penting kedudukannya dalam
rantai makanan (dipakai untuk menduga kualitas kesuburan perairan)
4. Indikator pencemaran
Dalam mempelajari sifat
organisme benthos bermanfaat dalam mendeteksi masalah pencemaran air. Pada
dasarnya tidak ada organisme yang memberikan reaksi sama pada pencermaran
karena adanya hubungan lingkungan yang sangat kompleks antara faktor genetik
dengan parameter kualitas air (Sutrisno dan Suciastuti, 2004).
Hewan benthos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan
karena selalu kontak dengan limbah yang masuk habitatnya. Kelompok hewan
tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan-perubahan faktor-faktor
lingkungan dari waktu ke waktu karena hewan benthos terus menerus berada dalam
air yang kualitasnya berubah-ubah (Hakim, 2009).
2.7.3
Jenis
Benthos di Perairan
Menurut Mahbubillah (2010),
bentos dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat hidupnya, dalam hal ini bentos
dibagi menjasi 2 macam yaitu:
a. Epifauna : hewan yang hidupnya di atas permukaan dasar lautan. Contoh hewan
epifauna diantara nya yaitu kepiting berduri Spiny stonecrab, siput laut (Sea
slug), bintang laut (Brittlle star).
b. Infauna : hewan yang hidupnya dengan cara menggali lubang pada dasar
lautan. Contoh hewan infauna yaitu
cacing (Lugworm), tiram (Cockle), macoma, Remis (clam).
Diantara benthos yang relatif
mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah
jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro. Kelompok ini lebih
dikenal dengan makrozoobenthos (Rosenberg (1993) dalam Mahbubillah (2010)).
Makrozoobenthos merupakan
hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik
yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Hewan ini memegang beberapa peran
penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi
material organik yang memasuki perairan serta menduduki beberapa tingkatan
trofik dalam rantai makanan. Makrozoobenthos dapat bersifat toleran maupun bersifat
sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang memiliki kisaran
toleransi yang luas akan memiliki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya organisme yang kisaran toleransinya sempit (sensitif) maka
penyebarannya juga sempit (Odum, 1993).
2.8. Definisi Plankton
2.8.1
Ciri-ciri
Plankton
a.
Phylum Chlorophyta
menurut
Herawati (1989), cirri chlorophyta antara lain:
· Berwarna
hijau karena mempunyai proporsi pigmen pada chloroplas nya jauh lebih baik
· Tersebar
luas paada daerah air stagner dari perairan tawar sampai kelaut tetapi lebih
spesifik pada perairan tawar
· Reproduksinya secara seksual
· Dinding selnya bagain bawah
terdiri dari selulosa yang dilapisi jaringan pectin
· Bisa menyebabkan blooming
perairan jika mereka membentuk lapisan pectin dan tebal
b.
Phylum
Chyanophyta
Menurut
Herawati (1989), cirri Cyanophyta antara lain:
· Mengandung pigmen kebiruan
cphycocianin dan sering juga pigmen kemerahan
· Variasi warna disebabkan oleh
clorofil , care tonoid, phyloocoanin, plycococoid dan kadang-kadang juga oleh pigmen sel serta refraksi warna oleh pseudova
· Tidak mempunyai membrane
nucleus dan nukleous
· Reproduksi aseksual
· Sering menyebakan blooming
perairan
· Hidup meleyang pda atau dekat
permukaan
· Hidup secara berkoloni
· Jika mati menghasilkan bau
busuk
c.
Phylum
Chryscphyta
Menurut
Herawati (1989), cirri-ciri Chryscphyta antara lain:
· Bersift bentis atau bahkan
arsial dan tertestial,sedangkan lainnya bersifat ephiphytic/epizopic
· Dapat berkembang cepat sebagai
,flora planktonik Merupakan tanaman satu sel
· Sel diatom terdiri dua bagian
disebut value. Bagian atau atsas epiteca dan bagian bawah hypoteca Value
mengandung silica
· Reproduksinya dengan cara
pembesaran sel dan pembentukan spora Reproduksi seksual
d.
Phylum
Rhodophyta
Dalam selnya mempunyai dinding yang
terdiri dari selulosa dan agar karagen.tidak pernah menghasilkan sel-sel
berflagel.pigmen klorofil terdiri dari klorofil A dan P,pigmenn fikobilin
terdiri dari fitoetrin dan tikosia yang sering disebut pigmen aksesoris.pigmen
tersebut ada dalam kloroplas cadangan makanan berupa tepung holidea dan berada
diluar klorofil.Reproduksi secara vegetative dilakukan dengan frekmentasi
rhodophyta memberi bermacam-macam spora,dan pospora(spora seksual) sperta
nektral, monopora ,tetrasporo, biospora, polispora (Davisi ,1995)
2.8.2
Peranan
Plankton di Perairan
Fitoplankton memiliki zat
hijau daun (klorofil) yang berperan dalam fotosintesis untuk menghasilkan bahan
organik dan oksigen dalam air. . Sebagai dasar mata rantai pada siklus makanan
di laut, fitoplankton menjadi makanan alami bagi zooplankton baik masih kecil
maupun yang dewasa. Selain itu juga dapat digunakan sebagai indikator kesuburan
suatu perairan. Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan kualitas
perairan laut apabila jumlahnya berlebihan. Contoh kelas dinoflgellata
tubuhnya memiliki kromatopora yang menghasilkan toksin (racun), dalam keadaan
blooming dapat mematikan ikan (Farid, 2002).
Pada ekosistem perairan organisme utama yang mampu memanfaatkan energi
cahaya adalah tumbuhan hijau terutama fitoplankton. Fitoplankton merupakan
organisme autotrop yaitu organisme yang mampu menghasilkan bahan organik dari
bahan anorganik melalui proses fotosintesis dengan bantuan cahaya. Sebagai
organissme autotrop fitoplankton berperan sebagai produser primer yang mampu
mentransfer energi cahaya menjadi energi kimia berupa bahan organik pada selnya
yang dapat dimanfaatkan oleh organisme lain pada tingkat tropis diatasnya.
Fitoplankton merupakan produser terbesar pada ekosistem laut. Pada ekosistem
akuatik sebagian besar produktivitas primer dilakukan oleh fitoplankton
(Parsons dkk (1984) dalam Sunarto (2008)).
2.8.3
Jenis
Plankton di Perairan
a.
Berdasarkan ukuran
menurut
Yuli dan Juwano
(2005), euplankton bisa di klasifikasi secara artifosial berdasarkan ukuran yaitu :
· Makroplankton :plankton yang
ukurannya >3 mm
· Mikroplankto :plankton yang
ukurannya < 3mm
· Nanoplankton :plankton yang tertangkap dengan net plankton ukuran 25
sehingga diameternya lebih kecil dari plankton 60
mikron.
b.
Berdasarkan
asal
menurut
Herawati (1989) ,plankton bisa di klasifikasakan berdasatkam asal, yaitu:
· Aurogenetik plankton :plankton
yang berasal dari perairan sendiri
· Allogenetik plankton
:plankton yang berasal dari perairan lain
c.
Berdasarkan
siklus hidup
Menurut
Herawati (1989),Plankton bisa di klasifikasikan berdasarkan siklus hidup,
yaitu:
· Holoplankton :plankton yang
seluruh hidupnya tidak pernah keluar
dari sifatnya sebagai plankton
· Meroplankton :plankton yang
mempunyai karekteristik hanya sementara
saja dri siklus hidupnya bersifat sebagai plankton
· Tycopalnkton :plankton yang
sebagian siklus hidupnya sebagai plankton dan setelah dewasa menjadi organism
lain seperti sea bass
d.
Berdasarkan
Habitat
Menurut Herawati (1989), plankton dibedakan menjadi:
· Limnoplankton : jeni plankton yang hidup di parairan
danau
· Rheopplankton : jenis plankton yang hidup di
lingkungan sungai
· Haliplankton : jenis plankton yang hidup di laut
· Hipalmesoplankton : plankton yang hidup di daerah estuari.
· Hypapplankton : plankton yang hidup mendekat
dasar perairan
· Epiplankton : plankton yng hidup di zona
eupotik
· Bathiplankton : plankton yang biasa hidup di daerah
zona apothik
· Mesoplankton : plankton yang hidup di daerah zona
disphotik
e.
Berdasarkan
jenis makanannya
Menurut Herawati (1989), berdasarkan
jenis makanannya plankton di bedakan menjadi 2 yaitu:
· Plankton tanaman disebut
fitoplankton
· Zooplankton terdiri dari
plankter yang makanannya bersifat holosit termasuk semua jenis semua planton
hewani
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan
Bahan
3.1.1
Alat dan Fungsinya
a.
Parameter
fisika
1.
Suhu
- Termometer Hg :Sebagai alat pengukur suhu perairan
- Tali Rafia :Sebagai alat mengikat
Thermometer Hg agar Termometer tidak langsung
tersentuh tangan
2.
Kedalaman
- Tongkat skala : Untuk mengukur kedalaman kolam
3.
Kecerahan
- Karet Gelang :Sebagai alat penanda d1 dan
d2
- Secchi Disk :Sebagai alat untuk mengukur
kecerahan perairan
- Tali :Sebagai alat untuk
mengikat Secchi Disk
- Penggaris :untuk mengukur panjang tali
(d1 dan d2) yang tercelup dalam air
b. Parameter
kimia
1.
pH
(Potensial Hidrogen)
- Kotak Standard : Sebagai
alat pembanding nilai air sampel pada pH paper dan untuk mengukur derajat
keasaman dalam perairan
2.
Oksigen
Terlarut (DO / Dissolved Oxygent)
- DO Meter : Sebagai alat untuk mengetahui DO
yang akan di hitung
- Nampan :Sebagai alat untuk meletakkan alat-alat
dan bahan praktikum.
c. parameter
biologi
1. Plankton
- Timba : untuk mengambil air dan di tuang ke plankton
net
- Botol film : untuk tempat plankton
- Plankton net : untuk menyaring plankton dari timba
- Mikroskop : untuk alat bantu melihat bentos
3.1.2 Bahan dan Fungsinya
a. Parameter Fisika
1. Suhu
- Air kolam :Sebagai bahan yang akan di ukur kecepatan arusnya
2. Kedalaman
- Air kolam : untuk mengamati kolam
yang akan diukur kedalamannya
3. Kecerahan
- Air kolam : untuk mengamati kolam yang akan diukur
kedalamannya
\
b. Parameter Kimia
1. pH (Potensial Hidrogen)
- pH paper : untuk mengukur nilai pH kolam.
- Air sampel : bahan sampel kolam yang akan diamati
2. Oksigen
Terlarut (DO / Dissolved Oxygent)
- Air Sampel : Sebagai
bahan yang akan dihitung nilai DOnya
c. Parameter Biologi
2. Plankton
- Air sampel : untuk sampel kolam yang
berisi plankton.
- Kertas label : untuk memberi nama pada botol
film.
- Alkohol : untuk mengawetkan plankton.
- Tissue : untuk membersihkan alat.
3.2 Skema Kerja
3.2.1 SUHU
|
Thermometer Hg
|
|
Hasil
|
Disiapkan thermmometer hg.
Dimasukan kedalam air kolam, selama + 3menit hinga air raksa berhenti.
Dicelupkan dengan membelakangi sinar
matahari.
Diangkat thermometer dari kolam.
Dicatat
3.2.2 KECERAHAN
Diturunkan secchi disk pelan-pelan ke dalam kolam.
Diamati sampai tidak nampak pertama kali.
Dicatat sebagai d1.
Diturunkan sechhi disk sampai ke dasar kolam.
Ditarik sechhi disk pelan-pelan.
Diamati sampai batas tampak pertama
kali.
Di catat sebagai d2.
Dihitung rata-rata hasil pengukuran dengan rumus
|
Hasil
|
Dicatat hasilnya.
3.2.4 pH
|
pH paper
|
|
Hasil
|
Dicelupkan pH paper kedalam sampel
perairan/kolam.
Ditunggu ± 2 menit.
Diangkat dari kolam/perairan.
Dikipas-kipaskan sampai kering.
Dicocokkan warnanya dengan pH box.
Dicatat hasilnya.
3.2.5 SUBSTRAT
|
Hasil
|
|
Substrat
|
.
Diambil dari dasar
perairan/kolam.
Diambil tipe substratnya.
Ditentukan tipe substratnya.
Dicatat.
3.2.6 Oksigen Terlarut (DO)
3.2.9 Plankton
a. Di lapang
|
Perairan
|
|
Plankton net
|
|
Hasil
|
Di celupkan planktonet dalam kulam sebanyak lima kali
Diangkat ke
permukaan
Dimasukkan
air sampel
Diputar-putar
searah plankton net
Ditutup
botol film setelah plankton tersaring
Diberi bahan
pormalin10 % sebanyak 3 tetes
Diberi label
b. Di
laboratorium
|
Haemocytometer
|
|
Mikroskop
|
|
Hasil
|
Disiapkan
haemocytometer dan cover glass
Dibersihkan dengan
menggunakan tissue secara searah
Ditutup haemocytometer
dengan cover glass pada bagian tengah
Diambil
sampel plankton dengan pipet tetes
Dituangkan
pada haemocytometer
Disiapkan
dan dinyalakan lampu dengan perbesaran 400x
Diletakkan
preparat pada meja objek
Diamati
setelah ditemukan focus
Dibagi
menjadi 5 bidang pandang
Dihitung
jumlah plankton pada tiap bidang pandang
Dicatat
5. PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang
didapatka pada praktikum Ekologi Perairan kali ini antara lain :
· Ekologi
perairan dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal
balik atau interaksi antara makluk hidup dengan lingkungannya. Lingkungan yang
di maksud tidak hanya faktor abiotik saja, tapi mencakup parasit, predator dan
kompetitor.
· Komunitas
benthos merupakan suatu indikator perairan yang sangat efektif untuk mengetahui
kondisi perairan itu sendiri.
· Rumus untuk
mencari Densitas = ;
Sedangkan untuk mencari Diversitas (H)
= log2 pi
· Dalam praktikum
Ekologi Perairan didapatkan hasil sebagai berikut pada kelompok 13 yaitu
parameter yang diukur berturut-turut dari perairan bearus deras kemudian
perairan berarus lambat,Ph masing-masing 7,kecerahan masing-masing 100%,suhu
pada perairan deras 220C dan pada perairan tenang 240C,kedalaman
20 cm,substrat pada perairan deras adalah batu berpasir sedangkan pada perairan
tenang adalah pasir berbatu dan berlumpur,dan kecepatan arus yaitu 9 dt/5 m
pada perairan deras,16 dt/5m pada perairan tenang.
· Hubungan
antar parameter kecerahan dan padatan tersuspensi Padatan tersusun berkorelasi
positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan tersuspensi nilai
kekeruhan juga semakin tinggi pula.
5.2 Saran
Diharapkan kepada praktikan agar lebih teliti dalam melakukan prosedur
kerja sekaligus perhitungan dari tiap-tiap parameter pengukuran yang dilakukan
sehingga nantinya akan didapatkan hasil yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Arfiati,D.2009.Startegi Peningkatan Kualitas Sumberdaya pada Ekosistem
Perairan Tawar. Universitas Brawijaya.Malang
Angelina,F. 2007. Simbiosis.
http://fionaangelina.com/2007/12/23/symbiosis. Diakses pada tanggal 7 desember
2009. Pukul 19.00 WIB
Awaludin.2010. Sungai Berdasarkan Alirannya. http://www.sungai.blogspot.com
/2010/04/sungai-aliran.html
Barus, A. 2002. Pengantar Limnologi. Djambatan. Jakarta
Brotowidoyo,MD; Djaka,T dan Eko,M. 1999. Pengantar Linkungan Perairan dan Budidaya Air. Liberty. Yogyakarta
Budhisetiawan.2010.Sungai dan Pengalirannya. Proses Penting Dalam Sungai.
http://budhisetiawan.net/courses/geologi-rekayasa-/sungai-dan-pengalirannya/
diakses pada 01 12 2010 pukul 8.00 WIb
Effendi,H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta
Ermawati,B ; Sri,S dan Endang, Y. 2001. Studi Ekologi Fitoplankton di Waduk
Wonorejo Desa Wonorejo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang
Evans.2009. Diagram Siklus
Air.http://google.com. Diakses tanggal 09 Desember 2009 pukul 21.45 Wib
Hakim,L. 2009. Makrozoobenthos
Sebagai Indikator Pencemaran Lingkungan. http//ilmukelautan.com. Diakses tanggal
10 Desember 2009 pukul 21.43 Wib
Mahmudi, M.2005. produktivitas
Perairan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang
Musa dan Yanuhar, U.2006.
diktat Limnologi. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang
Nontji, A. 2003. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta
Odum, E. 1993. Dasar Dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Resosoedarmo, S; kuswata, k dan
Aplilani, S. 1992. Pengantar Ekologi. PT Remaja
Rosdakarya. Bandung
Romimohtanto dan juwana. 2001.
Biologi Laut. Djambatan. Jakarta
Soemarto. 1983. Pengantar Ilmu
Perikanan. Jakarta
Sudarjanti dan wijarni. 2006.
Keanekaragaman dan Kelimpahan Makrozoobenthos. Erlangga. Jakarta
Sumaryam. 2001. Susunan dan
Macam Ekosistem. Djambatan. Jakarta
Sutrisno dan Suciastuti. 2004. Studi Ekologi Perairan. Kanisius. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar