WELKOM

Senin, 25 November 2013

Laporan Praktikum Ekologi Perairan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ekologi addalah cabang ilmu biologi yang banyak memanfatkan informasi dan barbagai ilmu pengetahuan lain seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya. Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dan lingkungannya (Unila, 2009).
Sesungguhnya ekologi dalam arti proses alam telah dikenal sejak lama, sesuai dengan sejarah manusia.. Adapula hewan menjadi makanan hewan lain, demikian pula proses kelahiran, kehidupan, pergantian generasi dan pergantian semua telah menjadi pengetahuan manusia. Proses ini berlangsung berkesinambungan mengikuti apa yang kita namakan “Hukum Alam”. Ekologi dalam pemahaman kuantitatif relatif masih baru. Umpamanya jumlah beberapa matahari, jumlah air, dan luasan tanah untuk satu pohon (Rosoedarmo. Et.al, 1992).
Kolam memiliki berbagai macam peran dan manfaat. Ditinjau dari aspek ekologi, rawa berperan sebagai sumber cadangan air, menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering, mencegah terjadinya banjir, sumber energi, dan sumber makanan nabati maupun hewani (Darojah, 2004).
1.2.  Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk melatih dan meningkatkan kemampuan mahasiswa adalah :
a.      Keterampilan Kognitif
·    Komparansi antasi teori dan kondisi di lapangan
·    Pengintegrasian pemahaman sebagai teori
·    Penerapan teori pada keadaan nyata lapangan
b.      Ketrampilan afektif:
· Perencanna kegiatan secara mandiri
· Kemampuan bekerjasama
· Pengkomunikasian hasil belajar
c. Kemampuan psikomotorik
· Penguasaan pemasangan peralatan
· Penggunaan peralatan dan instrumen tertentu
1.3. Manfaat Praktikum
Manfaat dari kegiatan praktikum ini adalah :
1) Mengenal ikan sekaligus menumbuh rasa empati mahasiswa tehadap ekosistem pada kolam pada perairan.
2) Meningkatkan kemampuan teknis dalam mengukur parameter fisika, kimia dan biologi.
3) Bagi peneliti atau lembaga ilmiah Sebagai sumber informasi keilmuan dan dasar untuk   penuisan atau penelitian lebih lanjut berkaitan dengan ekosistem kolam.
1.4. Tempat dan Waktu
Pelaksanaan praktikum Ekologi Perairan ini dilaksanakan di Mata Air Sumber Awan Singosari Kabupaten Malang. Pelaksanaan praktikum ini di laksanakan pada hari Sabtu, 01 Juni 2013, pukul : 09.00 -12.00 WIB.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ekologi Perairan
            Kata ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernest Haeckel, ahli biologi jerman pada tahun 1869, arti kata oikos yang berarti rumah atau tempat tinggal, dan logos bersifat telaah atau studi. Jadi ekologi adalah ilmu tentang rumah atau tempat tinggal mahluk. Biasanya ekologi dodefinisikan sebagai “ilmu yang mempelajari hubungan timbale balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya”. Yang dimaksud dengan mahluk hidup disini adalah “kelompok” mahluk hidup (Soegiarto et al, 1992).
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu factor abiotik dan biotic. Faktor biotic antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah mahluk hidup yang terdiri diri manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup yaitu populasi, komunitas, ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua mahluk hidup dibumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organism yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organism makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistem yang menunjukkan kesatuan (Rasyid, 2009).
            Peredaran ikan diperairan serta kepadatan gerombolan disebabkan oleh kegiatan antar individu ikan itu dan keadaan sekelilingnya yang meliputi segi-segi kimiaiwi, phsyik, dan biologis. Ilmu yang mempelajari hubungan antara suatu organisme lainnya disebut ekologi. Didalam air keadaan sekeliling dari pada suatu populasi ikan adalah organism lainnnya yang berbeda dalam kelompok-kelompok di habitat yang berbeda-beda. Semua merupakan “masyarakat” dalam suatu perairan berikut habitat dan semua yang mendukung disebut ekosistem (Soemarto, 1983).

           
2.2. Ciri-Ciri Ekologi Kolam
Kolam adalah daerah perairan yang kecil dimana zona litoralnya relative bear dan daerah limnetik serta profundal kecil atau tidak ada. Stratifikasi tidak terlalu penting. Kolam dapat dijumpai dikebanyakan daerah dengan curah hujan yang cukup. Kolam-kolam terus menerus terbentuk, contohnya, bila aliran air berpindah, meninggalkan bekas aliran terisolasi sebagai perairan yang tergenang (Odum, 1993).        
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak mencolok, penetrasi cahaya kurang dan dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air taear. Organisme yang hidup di air tawar adalah biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat ( Rifqi, 2009).
            Menurut Godam (2009), cirri-ciri habitat air tawar adalah:
1.    Variasi temperature atau suhu rendah
2.    Kadar garam atau salinitas rendah
3.    Penetsasi dari cahaya matahari kurang
4.    Terpengaruh iklim dan cuaca alam sekitar
5.    Tumbuhan mikroskopis seperti alga dan fitoplankton sebagai produsen utama.
Jika kita mengamati kolam secara keseluruhan sabagai ekosistem, maka dapat dibuktikan bahwa kolam bukan hanya tempat tumbuhan dan hewan, akan tatapi tumbuhan dan hewan tersebut turut serta ,membentuk suatu system dalam kolam, jadi ada hubungan biotic dan abiotik (Lumban batu, 1983).
2.3. Siklus Hidrologi Air
Prinsipnya, air yang berasal dari hujan akan masuk kedalam tanah. Namun tidak semua air dapat ditampung oleh tanah. Hal ini disebabkan karena setiap jenis batuan memiliki kemampuan menyerap yang berbeda-beda. Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presitipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presitipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es, dan salju. Hujan gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presitipitasi dapat berevaporasi kembali keatas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda ( evans, 2009).
Siklus air atau siklus hidrolgi adalah siklus air yang pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, evaporasi, dan transpirasi (Wikipedia, 2009).
Air (tawar dan laut) secara berkesinambungan bergerak dalam bentuk curah hujan dan penguapan. Jumlah air dari tanah kurang lebih 3% dan dari air laut kurang 97 % dari total air yang menguap. Dan jumlah itu yang berkondensasi hanya 40% yaitu 6,4 % dari darat dan 33,6 % dari laut. Setelah kondensasi turun sebagai hujan dan jatuh didarat kurang lebih 10% dan yang jatuh dilaut 30%. Sisanya air yang menguap ada yang jatuh didarat sebagai embun dan dikandung dalam alam. Menurut penelitian, air diudara kita itu kurang lebih 0,002% (Brotowidjoyo, et al, 1999).
Menurut  Scribd (2010), evaporasi atau penguapan adalah proses pertukaran (transfer) air dari permukaan bebas (free water surface) dari muka tanah, atau dari air yang tertahan di atas permukaan bagunan atau tanaman menjadi molekul uap air di atmosfer. Proses ini sebenarnya terdiri dari dua kejadian yang saling berkelanjutan yaitu :
a. Interface Evaporation : yaitu proses pertukaran air di permukaan menjadi uap air di permukaan (interface) yang besarnya tergantung dari energi dalam yang tersimpan (stored energy).
b. Vertical Vapor Transfer : yaitu perpindahan lapisan udara yang jenuh uap air dari interface ke lapisan di atasnya, dan hal ini bila memungkinkan proses penguapan akan berjalan terus. Transfer ini dipengaruhi oleh kecepatan angin, topografi dan iklim lokal.
            Kondensasi adalah proses dimana pemuaian dan gas kehilangan panas dan akan berubah bentuk menjadi cair. Saat pemuaian dan gas naik ke tempat lebih tinggi, temperature udara lingkungan sekitar akan semakin turun menyebabkan terjadinya proses kondensasi dan kembali ke bentuk cair (Narendra, 2010).
            Evapotranspirasi adalah penguapan total baik dari permukaan air, daratan, maupun dari tumbuh-tumbuhan. Banyak faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi ini antara lain: suhu udara, kembaban udara, kecepatan angin, tekanan udara, sinar matahari, ketinggian lokasi proyek, dan lain sebagainya. Di dalam perencanaan irigasi, penilaian jumlah air yang dibutuhkan untuk suatu areal tidak memisahkan antara evaporasi dan transpirasi. Istilah yang digunakan adalah ET, dan merupakan kombinasi antara evaporasi dan transpirasi. Oleh karena air yang digunakan oleh tanaman untuk proses metabolisme hanya sedikit atau kurang dari 1%, nilai tersebut diabaikan (Sudjarwadi (1990) dalam AcehPedia (2009)
2.4. Rantai Makanan
Rantai makanan adalah perpindahan energi dari materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hiduo yang lain melalui proses makan memakan dengan urutan tertentu. Suatu rantai makanan dapat disusun dalam piramida makanan adalah komposisi rantai makanan yang semakin keatas jumlahnya semakin kecil (Sumantri, 2009).
Dengan menggunakan klorofil fitoplankton itu mensintesis subtansi organis, menggunakan energi dari matahari melalui proses fotosintesa, dan memerlukan nutrient (makanan) seperti nitrat, fosfat, fe-anorganik, dan CO2. Protein, lemak, dan karbohidrat merupakan mata rantai penghubung (link) pertama (Produk pertama) dalam rantai makanan (food chains) dalam laut, yang dibuat oleh fitoplankton (bersifat heterotropis),. Zooplankton herbivora makan fitoplankton, merubahnya menjadi jaringan tubuh zooplankton (produk kedua), dan zooplankton iti dimakan zooplankton (Produk ketiga). Inilah suksesi trofik dalam rantai makanan atau jaring-jaring makanan (food web) yang merupakan tingkatan-tingkatan. Pada tiap tingkat itu bahan organis hilang melalui ekskresi atau mati yang bukan karena dimakan oleh tingkat berikutnya. Bakteris yang kemudian menguraikan bahan organis tersebut agar dapat digunakan lagi dan terjadi regenerasi ( Brotowidjoyo, et al , 1999).
Energi pangan sumberdaya didalam tumbuh-tumbuhan melalui satu seri organisme engan diulang-ulang dimakan dan memakan dinamakan rantai makanan. Pada tiap pemindahan bagian besar, 80% hingga 90% dari energi potensial hilang sebagai panas. Makin pendek rantai makanan (atau makin dekat organisme itu pada permukaan rantai) makin besar energi  yang tersedia. Rantai-rantai pangan terdiri dari dua tipe dasar, rantai pangan rerumputan, yang mulai pangan sisa yang dimulai dari dasar tumbuhan hijau ka herbivore yang merumput dan terus ke karnivora dan rantai pangan sisa yang dimulai dari bahan-bahan mati kemikroorganisme dan kemudian yuang makan defitrivora dan pemangsanya (Odum, 1993).
2.5   Hubungan Interaksi Antar Organisme
            Menurut (Adhionata, 2010), selain adanya hubungan makan memakan antara mahluk hidup atau predasi, terdapat juga hubungan lain seperti persaingan atau kopemtisi, dan hidup bersama atau simbiosis terjadi hubungan saling  menguntungkan ataupun merugikan. Ada tiga macam simbiosis :
A. Simbiosis mutualisme
Simbiosis mutualisme merupakan hubungan yang terjadi antara dua organisme atau lebih yang menguntungkan kedua belah pihak, dan tidak ada satu pihak yang dirugikan. 
B. Simbiosis komensalisme
Simbiosis komensalisme merupakan hubungan yang terjadi anatara dua organisme atau lebih yang tidak saling merugikan. Dalam hal ini satu organisme yang lain tidak dirugikan.
C. Simbiosis parasitisme
Simbiosis parasitisme merupakan hubungan yang terjadi antara dua organisme atau lebih, tetapi salah satu organisme merugikan organisme yang lainnya. Organisme yang diutungkan disebut parasit sedangkan organisme yang dirugikan disebut inang.

Menurut Odum (1993), terdapat sembilan interaksi penting yaitu :
1. Neutralisme, dimana tidak ada satupun populasi yang terpengaruh oleh asosiasi dengan lain.
2. Tipe persaingan yang saling menghalangi (mutual inhibition competion type) dalam mana kedua populasi secara aktif saling menghalang-halangi
3. Tipe persaingan penggunaan sumberdaya didalam mana tiap populasi mempunyai pengaruh merugikan yang lain dalam perjuanganya untuk memperoleh sumber-sumber yang persediaannya berada pada kekurangan.
4. Amansalisme, didalam mana satu populasi dihalang-halangi sedangkan yang lainya tidak terpengaruh.
5. Parasitisme
6. Pemangsaan, dimana satu populasi merugikan yang lain dengan cara menyerang secara langsung tetapi meskipun begitu bergantung pada lain.
7. Comensalisme, dimana satu populasi diuntungkan sdangkan yang lain tidak terpengauh.
8. Protocooperation, dalam mana kedua populasi memperoleh keuntungan dengan adanya asosasi itu tetapi hubungan itu tidak merupakan satu keharusan.
9. Mutualisme, dimana pertumbuhan dan kehidupan kedua populasi itu mendapatkan keuntungan dan tidak satupun dapat hidup di alam tanpa yang lain.    

Menurut irsad (2009), simbiosis adalah hubungan antara dua mahluk hidup yang berbeda jenis. Kebanyakan yang diajarkan adalah 3 macam simbiosis, yaitu metabolisme, komensalisme, dan parasitisme. Tetapi ternyata ada juga jenis simbosis yang lain yaitu amensalisme (Anggelina, 2007).

2.6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ekosistem Kolam
2.6.1. Faktor Fisika
Pada suhu yang tinggi, metabolisme organisme juga mengalami peningkatan-peningkatan suhu sebesar 10˚C dapat mengakibatkan peningkatan proses metabolisme sebesar dua kali lipat, yang juga menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen. Apabila pencernaan panas ini disertai dengan pencernaan bahan organik maka penurunan oksigen diperirran akan lebih tajam (Musa dan Yanuhar, 2006).
            Kedalaman perairan dimana proses fotosintesis dengan proses respirasi disebut kedalama kompensasi. Kedalaman kompensasi biasanya terjadi pada saat cahaya didalam kolam air hanya tinggal 1% dari seluruh intensitas cahaya yang mengalami penentrasi dipermukaan air. Kedalaman kompensasi sangat dipengaruhi oleh kekeruhan dan keberadaan awan berfluktuasi secara harian dan musiman (Effendi, 2003).
Akibat mengikatkan laju metabolisme, akan menyebabkan konsumsi oksigen meningkat, sementara dilain pihak dengan naiknya temperatur akan menyebabkan kelarutan oksigen dalam air menjadi berkurang. Hal ini dapat menyebabkan organisme air akan mengalami kesulitan untuk melakukan respirasi (Barus, 2002).
2.6.2    Faktor Kimia
Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7-8,5. Nilai pH sanagat mempengaruhi proses biokimiawi perrairan missalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Toksisitas meperlihatkan penigkatan pada pH rendah (Effendi, 2003).
Organisme air dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH dengan kisaran toleransi antara asam lemah sampai basa lemah. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air. Pada umunya terdapat antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi (Barus, 2002).
Kosentrasi ion hidrogen (H+) dalam suatu cairan dikatakan dengan pH. Organisme sangat sensitive terhadap perubahan ion hidrogen. Pada proses penjernihan air limbah. Ph menjadi indikator untuk meningkatkan efensiensi proses penjernihan. Air limbah pertambangan atau petanian mengakibatkan tingginya kosentrasi ion hydrogen sehingga membahayakan kehidupan air (Sutrino dan Suiastuti, 2004).
2.6.3.  Faktor Biologi

Organisme kadang-kadang dapat tumbuh secara eksplosif dalam waktu singkat yang disebut “blom” sebagai respon dari kondisi local bloaming dinoflagellata menimbulkan “redtide” yang biasa terjadi didaerah pantai (perairan tropis). Jenis blue green algae juga dapat tumbuh secara eksplosif dan menghasilkan bloming pada musim panas terutama didanau lautan tropis (Herawati, 1989).
            Produksi primer itu adalah langkah pertama dalam rantai makanan atau jaring makanan. Produksi primer itu adalah laju produksi bahan baku tanaman oleh fotosintesis yang biasanya diukur atau dinyatakan g˚ (terikat) tiap m2  permukaan air pertahun atau perhari. Oleh karena produksi primer itu tersebut diperlukan nutrient berupa nitrat dan fosfat dan sinar matahari (Brotowidjoyo et al, 1999).
            Berdasarkan pengalaman dapat dibedakan antara kekeruhan yang disebabkan olah plankton dan kekeruhan yang disebabkan faktor lain. Namun demikian perlu diingat bahwa bloming plankton tidak selalu berwarna hijau. Dapat pula berwarna merah, coklat dan hitam keadaan ini tidak baik karena konsentrasi oksigen terlarut akan menjadi masalah (Mahmudi, 2005).
            Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tidak dapat hidup, sebaliknya predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa, seperti adanya zooplankton sebagai pemangsa fitoplankton yang ada diperairan (Pendamping praweda biologi, 2001).
2.7. Definisi Benthos
2.7.1        Ciri-ciri Benthos
Makrozoobenthos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang memilki toleran yang luas akan memilki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya organisme yang  kisaran tolerasinya sempit (sensitif) maka penyebaranya juga sempit (Hakim, 2009).
Menurut Sudarjanti dan Wijarni (2006), benthos macro invertebrate :
· Komunitas makroinvertebrata mepunyai yang berbeda terhadap berbagai tipe pencemaran dan mempunyai reaksi yang cepat.
· Ditemukan melimpah di perairan, terutama di ekosistem sungai, dipengaruhi oleh berbagai tipe polutan yang ada.
· Mempunyai keankaragaman yang tinggi dan mempunyai respon terhadap lingkungan yang stress.
· Hidup melekat didasar perairan.
· Mempunyai siklus hidup yang panjang.
Keberadaan hewan benthos pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen yang merupakan salah satu sumber makanan bagi benthos dalam komunitas. Adapun faktor abiotik adalah fisika kimia air yang diantaranya suhu, arus, oksigen. Kebutuhan oksigen biologi dan kimia, serta kandungan nitrogen kedalaman air dan subtrat (Hakim, 2009).
2.7.2         Peranan Benthos Sebagai Indikator Perairan
Menurut Musa dan Yanuhar (2006), bahwa peranan benthos di perairan adalah :
1. Mendaur ulang bahan organik
2. Membantu proses mineralisasi
3. Penting kedudukannya dalam rantai makanan (dipakai untuk menduga kualitas kesuburan perairan)
4. Indikator pencemaran
Dalam mempelajari sifat organisme benthos bermanfaat dalam mendeteksi masalah pencemaran air. Pada dasarnya tidak ada organisme yang memberikan reaksi sama pada pencermaran karena adanya hubungan lingkungan yang sangat kompleks antara faktor genetik dengan parameter kualitas air (Sutrisno dan Suciastuti, 2004).
Hewan benthos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan karena selalu kontak dengan limbah yang masuk habitatnya. Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan-perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu karena hewan benthos terus menerus berada dalam air yang kualitasnya berubah-ubah (Hakim, 2009).     
2.7.3        Jenis Benthos di Perairan
Menurut Mahbubillah (2010), bentos dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat hidupnya, dalam hal ini bentos dibagi menjasi 2 macam yaitu:
a. Epifauna : hewan yang hidupnya di atas permukaan dasar lautan. Contoh hewan epifauna diantara nya yaitu kepiting berduri Spiny stonecrab, siput laut (Sea slug), bintang laut (Brittlle star).
b. Infauna : hewan yang hidupnya dengan cara menggali lubang pada dasar lautan. Contoh hewan infauna yaitu cacing (Lugworm), tiram (Cockle), macoma, Remis (clam).
Diantara benthos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro. Kelompok ini lebih dikenal dengan makrozoobenthos (Rosenberg (1993) dalam Mahbubillah (2010)).
Makrozoobenthos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan. Makrozoobenthos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang memiliki kisaran toleransi yang luas akan memiliki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya organisme yang kisaran toleransinya sempit (sensitif) maka penyebarannya juga sempit (Odum, 1993).
2.8. Definisi Plankton
2.8.1        Ciri-ciri Plankton
a.       Phylum  Chlorophyta
            menurut Herawati (1989), cirri chlorophyta antara lain:
· Berwarna hijau karena mempunyai proporsi pigmen pada chloroplas nya jauh lebih baik
· Tersebar luas paada daerah air stagner dari perairan tawar sampai kelaut tetapi lebih spesifik pada perairan tawar
· Reproduksinya secara seksual
· Dinding selnya bagain bawah terdiri dari selulosa yang dilapisi jaringan pectin
· Bisa menyebabkan blooming perairan jika mereka membentuk lapisan pectin dan tebal

b.      Phylum Chyanophyta
Menurut Herawati  (1989), cirri Cyanophyta  antara lain:
· Mengandung pigmen kebiruan cphycocianin dan sering juga pigmen kemerahan
· Variasi warna disebabkan oleh clorofil , care tonoid, phyloocoanin, plycococoid dan kadang-kadang juga oleh pigmen sel serta refraksi warna oleh pseudova
· Tidak mempunyai membrane nucleus dan nukleous
· Reproduksi aseksual
· Sering menyebakan blooming perairan
· Hidup meleyang pda atau dekat permukaan
· Hidup secara berkoloni
· Jika mati menghasilkan bau busuk

c.       Phylum Chryscphyta
Menurut Herawati (1989), cirri-ciri Chryscphyta antara lain:
· Bersift bentis atau bahkan arsial dan tertestial,sedangkan lainnya bersifat ephiphytic/epizopic
· Dapat berkembang cepat sebagai ,flora planktonik Merupakan tanaman satu sel
· Sel diatom terdiri dua bagian disebut value. Bagian atau atsas epiteca dan bagian bawah hypoteca Value mengandung silica
· Reproduksinya dengan cara pembesaran sel dan pembentukan spora Reproduksi seksual

d.      Phylum Rhodophyta
Dalam selnya mempunyai dinding yang terdiri dari selulosa dan agar karagen.tidak pernah menghasilkan sel-sel berflagel.pigmen klorofil terdiri dari klorofil A dan P,pigmenn fikobilin terdiri dari fitoetrin dan tikosia yang sering disebut pigmen aksesoris.pigmen tersebut ada dalam kloroplas cadangan makanan berupa tepung holidea dan berada diluar klorofil.Reproduksi secara vegetative dilakukan dengan frekmentasi rhodophyta memberi bermacam-macam spora,dan pospora(spora seksual) sperta nektral, monopora ,tetrasporo, biospora, polispora (Davisi ,1995)

2.8.2        Peranan Plankton di Perairan
Fitoplankton memiliki zat hijau daun (klorofil) yang berperan dalam fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air. . Sebagai dasar mata rantai pada siklus makanan di laut, fitoplankton menjadi makanan alami bagi zooplankton baik masih kecil maupun yang dewasa. Selain itu juga dapat digunakan sebagai indikator kesuburan suatu perairan. Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan kualitas perairan laut apabila jumlahnya berlebihan. Contoh kelas dinoflgellata tubuhnya memiliki kromatopora yang menghasilkan toksin (racun), dalam keadaan blooming dapat mematikan ikan (Farid, 2002).
Pada ekosistem perairan organisme utama yang mampu memanfaatkan energi cahaya adalah tumbuhan hijau terutama fitoplankton. Fitoplankton merupakan organisme autotrop yaitu organisme yang mampu menghasilkan bahan organik dari bahan anorganik melalui proses fotosintesis dengan bantuan cahaya. Sebagai organissme autotrop fitoplankton berperan sebagai produser primer yang mampu mentransfer energi cahaya menjadi energi kimia berupa bahan organik pada selnya yang dapat dimanfaatkan oleh organisme lain pada tingkat tropis diatasnya. Fitoplankton merupakan produser terbesar pada ekosistem laut. Pada ekosistem akuatik sebagian besar produktivitas primer dilakukan oleh fitoplankton (Parsons dkk (1984) dalam  Sunarto (2008)).

2.8.3         Jenis Plankton di Perairan
a.       Berdasarkan ukuran
            menurut Yuli dan Juwano (2005), euplankton bisa di klasifikasi secara artifosial berdasarkan  ukuran yaitu :
· Makroplankton :plankton yang ukurannya >3 mm
· Mikroplankto :plankton yang ukurannya < 3mm
· Nanoplankton :plankton yang tertangkap dengan net plankton ukuran 25 sehingga diameternya lebih kecil dari plankton 60 mikron.
b.      Berdasarkan asal
menurut Herawati (1989) ,plankton bisa di klasifikasakan berdasatkam asal, yaitu:
· Aurogenetik plankton :plankton yang berasal dari perairan sendiri
· Allogenetik plankton :plankton  yang berasal dari  perairan lain
c.       Berdasarkan siklus hidup
Menurut Herawati (1989),Plankton bisa di klasifikasikan berdasarkan siklus hidup, yaitu:
· Holoplankton :plankton yang seluruh hidupnya tidak pernah  keluar dari sifatnya sebagai plankton
· Meroplankton :plankton yang mempunyai karekteristik hanya  sementara saja dri siklus hidupnya bersifat sebagai plankton
· Tycopalnkton :plankton yang sebagian siklus hidupnya sebagai plankton dan setelah dewasa menjadi  organism  lain seperti sea bass
d.      Berdasarkan Habitat
Menurut Herawati (1989), plankton dibedakan menjadi:
· Limnoplankton         : jeni plankton yang hidup di parairan danau
· Rheopplankton         : jenis plankton yang hidup di lingkungan sungai
· Haliplankton             : jenis plankton yang hidup di laut
· Hipalmesoplankton   : plankton yang hidup di daerah estuari.
· Hypapplankton         : plankton yang hidup mendekat dasar  perairan
· Epiplankton              : plankton yng hidup di zona eupotik
· Bathiplankton           : plankton yang biasa hidup di daerah zona apothik
· Mesoplankton           : plankton yang hidup di daerah zona disphotik
e.       Berdasarkan jenis makanannya
            Menurut Herawati (1989), berdasarkan jenis makanannya plankton di bedakan menjadi 2 yaitu:
· Plankton tanaman disebut fitoplankton
· Zooplankton terdiri dari plankter yang makanannya bersifat holosit termasuk semua jenis semua planton hewani











BAB III
 METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1        Alat dan Fungsinya
a.       Parameter fisika
1.      Suhu
Termometer Hg         :Sebagai alat pengukur suhu perairan
Tali Rafia                  :Sebagai alat mengikat Thermometer Hg agar Termometer tidak langsung  tersentuh tangan
2.      Kedalaman
Tongkat skala            : Untuk mengukur kedalaman kolam

3.      Kecerahan
- Karet Gelang             :Sebagai alat penanda d1 dan d2
Secchi Disk               :Sebagai alat untuk mengukur kecerahan perairan
Tali                             :Sebagai alat untuk mengikat Secchi Disk
Penggaris                   :untuk mengukur panjang tali (d1 dan d2) yang tercelup dalam air
b.      Parameter kimia
1.      pH (Potensial Hidrogen)
- Kotak Standard               :  Sebagai alat pembanding nilai air sampel pada pH paper dan untuk mengukur derajat keasaman dalam perairan
2.      Oksigen Terlarut (DO / Dissolved Oxygent)
DO Meter                          : Sebagai alat untuk mengetahui DO yang akan di hitung
Nampan                             :Sebagai alat untuk meletakkan alat-alat dan bahan praktikum.
c.       parameter biologi
1. Plankton
Timba                     : untuk mengambil air dan di tuang ke plankton net
Botol film              : untuk tempat plankton
Plankton net           : untuk menyaring plankton dari timba
Mikroskop              : untuk alat bantu melihat bentos

3.1.2 Bahan dan Fungsinya
a.      Parameter Fisika
1.  Suhu
Air kolam       :Sebagai bahan yang akan di ukur  kecepatan arusnya
2. Kedalaman
Air kolam      : untuk mengamati kolam yang akan diukur kedalamannya
3.    Kecerahan
Air kolam      : untuk mengamati kolam yang akan diukur kedalamannya
\
b. Parameter Kimia
1.  pH (Potensial Hidrogen)
-     pH paper        : untuk mengukur nilai pH kolam.
-    Air sampel      : bahan sampel kolam yang akan diamati

2. Oksigen Terlarut (DO / Dissolved Oxygent)
-     Air Sampel           :         Sebagai bahan yang akan dihitung nilai DOnya

c. Parameter Biologi
2. Plankton
-     Air sampel                   : untuk sampel kolam yang berisi plankton.
-     Kertas label                 : untuk memberi nama pada botol film.
-     Alkohol  : untuk mengawetkan plankton.
-     Tissue     : untuk membersihkan alat.

3.2 Skema Kerja
3.2.1 SUHU
Thermometer Hg

Hasil

Disiapkan thermmometer hg.
Dimasukan kedalam air kolam, selama  +  3menit hinga air raksa berhenti.
Dicelupkan dengan membelakangi sinar  matahari.
Diangkat thermometer dari kolam.
Dicatat
                       
3.2.2 KECERAHAN

Diturunkan secchi disk pelan-pelan ke dalam kolam.
Diamati sampai tidak nampak pertama kali.
Dicatat sebagai d1.
Diturunkan sechhi disk sampai ke dasar kolam.
Ditarik sechhi disk pelan-pelan.
Diamati  sampai batas tampak pertama kali.
Di catat sebagai d2.
Dihitung rata-rata hasil pengukuran dengan rumus 
Hasil
Dicatat hasilnya.




3.2.4 pH
pH paper

Hasil
 

                               Dicelupkan pH paper kedalam sampel perairan/kolam.
Ditunggu ± 2 menit.
                               Diangkat dari kolam/perairan.
Dikipas-kipaskan sampai kering.
Dicocokkan warnanya dengan pH box.
Dicatat hasilnya.

3.2.5 SUBSTRAT
Hasil

Substrat
.

Diambil dari dasar perairan/kolam.
Diambil tipe substratnya.
Ditentukan tipe substratnya.
Dicatat.


3.2.6 Oksigen Terlarut (DO)



3.2.9     Plankton
a.    Di lapang
Perairan

Plankton net

Hasil
             
Di celupkan planktonet dalam kulam sebanyak lima kali
Diangkat ke permukaan


Dimasukkan air sampel
Diputar-putar searah plankton net
Ditutup botol film setelah plankton tersaring
Diberi bahan pormalin10 % sebanyak 3 tetes
Diberi label


b.    Di laboratorium
Haemocytometer

Mikroskop

Hasil
 

                          Disiapkan haemocytometer dan cover glass
                          Dibersihkan dengan menggunakan tissue secara searah
                          Ditutup haemocytometer dengan cover glass pada bagian tengah
Diambil sampel plankton dengan pipet tetes
Dituangkan pada haemocytometer


Disiapkan dan dinyalakan lampu dengan perbesaran 400x
Diletakkan preparat pada meja objek
Diamati setelah ditemukan focus
Dibagi menjadi 5 bidang pandang
Dihitung jumlah plankton pada tiap bidang pandang
Dicatat




5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatka pada praktikum Ekologi Perairan kali ini antara lain  :
·      Ekologi perairan dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik atau interaksi antara makluk hidup dengan lingkungannya. Lingkungan yang di maksud tidak hanya faktor abiotik saja, tapi mencakup parasit, predator dan kompetitor.
·      Komunitas benthos merupakan suatu indikator perairan yang sangat efektif untuk mengetahui kondisi perairan itu sendiri.
·      Rumus untuk mencari Densitas   =      ;  Sedangkan untuk mencari Diversitas (H)  =    log2 pi
·      Dalam praktikum Ekologi Perairan didapatkan hasil sebagai berikut pada kelompok 13 yaitu parameter yang diukur berturut-turut dari perairan bearus deras kemudian perairan berarus lambat,Ph masing-masing 7,kecerahan masing-masing 100%,suhu pada perairan deras 220C dan pada perairan tenang 240C,kedalaman 20 cm,substrat pada perairan deras adalah batu berpasir sedangkan pada perairan tenang adalah pasir berbatu dan berlumpur,dan kecepatan arus yaitu 9 dt/5 m pada perairan deras,16 dt/5m pada perairan tenang.
·      Hubungan antar parameter kecerahan dan padatan tersuspensi Padatan tersusun berkorelasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan tersuspensi nilai kekeruhan juga semakin tinggi pula.


5.2 Saran
Diharapkan kepada praktikan agar lebih teliti dalam melakukan prosedur kerja sekaligus perhitungan dari tiap-tiap parameter pengukuran yang dilakukan sehingga nantinya akan didapatkan hasil yang optimal.



DAFTAR PUSTAKA
Arfiati,D.2009.Startegi Peningkatan Kualitas Sumberdaya pada Ekosistem Perairan Tawar. Universitas Brawijaya.Malang
Angelina,F. 2007. Simbiosis. http://fionaangelina.com/2007/12/23/symbiosis. Diakses pada tanggal 7 desember 2009. Pukul 19.00 WIB
Awaludin.2010. Sungai Berdasarkan Alirannya. http://www.sungai.blogspot.com /2010/04/sungai-aliran.html
Barus, A. 2002. Pengantar Limnologi. Djambatan. Jakarta
Brotowidoyo,MD; Djaka,T dan Eko,M. 1999. Pengantar Linkungan Perairan dan Budidaya Air. Liberty. Yogyakarta
Budhisetiawan.2010.Sungai dan Pengalirannya. Proses Penting Dalam Sungai. http://budhisetiawan.net/courses/geologi-rekayasa-/sungai-dan-pengalirannya/ diakses pada 01 12 2010 pukul 8.00 WIb
Effendi,H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta
Ermawati,B ; Sri,S dan Endang, Y. 2001. Studi Ekologi Fitoplankton di Waduk Wonorejo Desa Wonorejo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang
Evans.2009. Diagram Siklus Air.http://google.com. Diakses tanggal 09 Desember 2009 pukul 21.45 Wib
Hakim,L. 2009. Makrozoobenthos Sebagai Indikator Pencemaran Lingkungan. http//ilmukelautan.com. Diakses  tanggal  10 Desember 2009 pukul 21.43 Wib
Mahmudi, M.2005. produktivitas Perairan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang
Musa dan Yanuhar, U.2006. diktat Limnologi. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang
Nontji, A. 2003. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta
Odum, E. 1993. Dasar Dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Resosoedarmo, S; kuswata, k dan Aplilani, S. 1992. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung
Romimohtanto dan juwana. 2001. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta
Soemarto. 1983. Pengantar Ilmu Perikanan. Jakarta
Sudarjanti dan wijarni. 2006. Keanekaragaman dan Kelimpahan Makrozoobenthos. Erlangga. Jakarta
Sumaryam. 2001. Susunan dan Macam Ekosistem. Djambatan. Jakarta
Sutrisno dan Suciastuti. 2004. Studi Ekologi Perairan. Kanisius. Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar