BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Indonesia merupakan negara bahari dan tepatnya
dikatakan negara kepulauan. Indonesia ditutupi dua pertiga oleh air, wilayah
tanah air Indonesia memiliki potensi sumberdaya hayati perikanan yang besar dan
belum seluruhnya dapat dikelola
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi
yang besar di bidang Perikanan. Luas wilayah Indonesia sebesar 7,9 juta km2
atau sekitar 81 % dari wilayah seluruh Indonesia. Sedangkan luas perairan
Indonesia saat ini lebih kurang 14 juta Ha, yang terdiri dari sungai dan
rawa sebesar 11,9 juta Ha, 1,78 juta Ha danau alam dan 0,93 juta Ha danau
buatan. Hal ini merupakan potensi yang sangat bagus untuk pengembangan usaha
perikanan (Nyabakken, 1992).
Pemeriksaan jenis kelamin dalam budidaya sangatlah
penting.Karena hal tersebut menentukan dalam proses-proses selanjutnya dalam
kegiatan budidaya, termasuk dalam merekayasa utnuk mendapatkan produksi ikan
yang maksimum. Selain itu, identifikasi dan pembedaan jenis kelamin ini dapat digunakan
untuk menguji hasil ginogenesis dan androgenesis (Anonymous.2006)
Ikan merupakan makanan manusia yang paling utama
sejak awal dari abad sejarah manusia. Daging ikan banyak mengandung protein dan
lemak, seperti juga daging-daging hewan ternak. Daging ikan nudah dicerna
dibandingkan tumbuh-tumbuhan.Kadar protein dalam ikan dapat mencapai 13-20 %,
sedangkan 60-80 % berupa air dan selebihnya lemak. Daging ikan banyak
mengandung vitamin-vitamin terutama hatinya.Vitamin tersebut didapat dari
plankton secara langsung ataupun tidak langsung, yang menjadi makanan
ikan.Mengingat bahwa tiga perempat bagian dari permukaan bumi tertutup dengan
lautan dan banyak perairan tawar yang dihuni oleh bermacam-macam ikan
(Djuhanda, 1981).
Ikan terdiri dari banyak sekali spesies di dunia
yang memiliki kekhasan tersendiri dan yang telah berhasil diidentifikasi para
ahli ikhtiologi di dunia ini ada sekitar 20.000 – 40.000 spesies. Bahkan
ratusan spesies diantaranya telah memiliki varietas atau strain yang mencapai
ratusan varietas.
1.2.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui detak
jantung ikan dengan menggunakan deterjen dengan dosis yang berbeda.
Manfaat
praktikum ini adalah agar dapat mengetahui pengaruh kadar polutan
terhadap pernafasan ikan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Morfologi Ikan Tambakan
Ikan tambakan memiliki tubuh berbentuk
pipih vertikal. Sirip punggung dan sirip analnya memiliki bentuk dan ukuran
yang hampir serupa. Sirip ekornya sendiri berbentuk nyaris bundar atau mengarah
cembung ke luar, sementara sirip dadanya yang berjumlah sepasang juga berbentuk
nyaris bundar. Di kedua sisi tubuhnya terdapat guratsisi, pola berupa garis tipis yang berawal
dari pangkal celah insangnya sampai pangkal sirip ekornya. Kurang lebih ada
sekitar 43-48 sisikyang menyusun
gurat sisi tersebut. Ikan tambakan diketahui bisa tumbuh hingga ukuran 30
sentimeter.
Salah satu ciri khas dari ikan tambakan
adalah mulutnya yang memanjang. Karakteristik mulutnya yang menjulur ke depan
membantunya mengambil makanan semisal lumut dari tempatnya melekat. Bibirnya
diselimuti oleh semacam gigi bertanduk, namun gigi-gigi tersebut tidak ditemukan
di bagian mulut lain seperti faring, premaksila, dentary,
dan langit-langit mulut. Ikan tambakan juga memiliki tapis insang (gill
raker) yang membantunya menyaring partikel-partikel makanan yang masuk
bersama dengan air.
Ada dua jenis ikan tambakan berdasarkan
warnanya, namun mereka masih termasuk dalam spesies yang sama: ikan tambakan
berwarna hijau dan ikan
tambakan berwarna pucat atau merah muda. Belakangan,
ada juga jenis ikan tambakan yang ukurannya lebih kecil dari ikan tambakan
kebanyakan dan bentuknya bundar nyaris menyerupai balon. Variasi genetis ikan
tersebut biasa dikenal dengan nama "gurami pencium kerdil" atau
"balon merah muda".
2.2 Kebiasaan Makan Ikan Tambakan
Kebiasaan makan ikan tambakan ( Helostoma temminckii)
yaitu 1. Omnivora Lumut, seranga -2. Omnivora Lumut, seranga -3. Omnivora
Lumut, serangga. Ikan tambakan adalah jenis
ikan yang kebiasaan makannya filter feeder (menyaring
makanan). Dimana jenis makan yang ikan makan adalah omnivora.Dengan keterangan
pakan Lumut, seranga. Tipe makan ikan ini adalah omnivor,yang memakan semua
jenis makanan terutama algae bentos, tanaman air, planktondan insekta
permukaan.Ikan tambakan adalah ikan omnivora yang mau
memakan hampir segala jenis makanan. Makanannya bervariasi, mulai dari lumut, tanaman air, zooplankton, hingga
serangga air.Bibirnya yang dilengkapi gigi-gigi kecil membantunya mengambil
makanan dari permukaan benda padat semisal batu. Ikan tambakan juga memiliki tapis
insang (gill raker) yang membantunya menyaring partikel plankton dari
air. Saat sedang mencabut makanan yang menempel di permukaan benda padat
memakai mulutnya itulah, ikan ini bagi manusia terlihat seolah-olah sedang
"mencium" benda tersebut.
2.3 Biologi Ikan Tambakan
|
||||||||||||||||
|
Helostoma
temminckii
Cuvier, 1829 |
Ikan tambakan (Helostoma
temminckii) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang berasal dari
wilayah tropis, tepatnya Asia Tenggara. Ikan ini pada
awalnya berasal dari Thailand hingga Indonesia sebelum
akhirnya diintroduksi ke seluruh dunia. Ikan ini juga dikenal dengan nama gurami pencium karena kebiasaannya
"mencium" saat mengambil makanan dari permukaan benda padat maupun
saat berduel antara sesama pejantan. Di Indonesia sendiri, ikan ini memiliki
banyak nama seperti bawan, biawan, hingga ikan samarinda.
Kottelat et. al,
(1993), mengatakan bahwa ikan yang tergolong ordo cypriniformes di perairan
barat Indonesia dan Sulawesi terdiri dari banyak famili. Melihat jenis ikan
Cypriniformes cukup banyak dan perubahan ekosistem akibat dari kemungkinan
terjadi perubahan jumlah spesies ikan Cypriniformes pada saat ini dan kemudian
hari.
Menurt Atmaja
(2005) akibat adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan, maka ikan-ikan muda
yang berasal dari telur yang menetas pada waktu yang bersamaam akan mencapai
tingkat kematangan gonad pada umur yang berlainan. Ukuran ikan jika pertama
kali matang gonad tidak selalu sama, disebabkan antara lain oleh suhu air dan
dan ketersediaan pakan ( Atmaja, 2005)
Sitanggang
(1987) mengemukakan bahwa ikan tambakan
termasuk golongan ikan labyrinthici yaitu sebangsa ikan yang memiliki alat
pernafasan berupa insang dan insang tambahan (labyrinth). Labyrinth adalah alat
pernafasan yang berupa selaput tambahan yang berbentuk tonjolan pada tepi-tepi
atas lapisan insang pertama.Pada selaput terdapat pembuluh darah kapiler (zat
asam) langsung dari udara dan pernafasannya.
2.4 sexsualitas Ikan Tambakan
Seperti yang telah dikemukakan, Saanin (1984) telah
mengklasifikasikan ikan Tambakan ke dalam kelas
Pisces, famili Anabantidae, genus Helostoma dan spesies Helostoma temmincki.
Dari ke-25 ekor ikan Tambakan
(Helostoma temmincki) yang
dipraktikumkan. Di dapatkan 6 ekor berjenis kelamin betina dan 19 ekor berjenis kelamin jantan. Data tersebut diperoleh
dengan mengamati masing masing individu, baik melalui penampakan ciri seksual
primer ataupun ciri seksual sekunder.
Penampakan ciri ciri seksual sekunder dilakukan dengan dua cara, yaitu seksual dimorphisme dan
seksual dichromatisme.
Sifat seksual sekunder ialah tanda tanda luar yang dapat
dipakai untuk membedakan jantan dan betina. Apabila satu spesies ikan mempunyai
sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina, maka
spesies itu memilki seksual dimorphisme. Apabila yang menjadi tanda itu warna,
maka ikan itu mempunyai sifat seksual dikromatisme. Pada ikan jantan mempunyai
warna lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina (Effendi, 2002)
Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja.
Apabila ikan jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang
menjadi tanda seksual sekunder tadi menghilang, tetapi pada ikan betina tidak
menunjukkan sesuatu (Effendie, 2002)
Demikian juga menurut Tim Iktiologi (1989), bahwa warna pada ikan sering merupakan cirri pengenalan
seksual. Secara umum dapata dikatakan bahwa ikan jantan mempunyai warna yang
cemerlang dari pada ikan betina.
Sedangkan untuk penampakan seksual primer kita melakukan
pengamatan dengan melakukan striping dan membedah bagian abdominal tubuh ikan
yang diamati.
Seksualitas ikan dapat ditentukan dengan mengamati
ciri-ciri seksual skunder dan seksual primer.Pengamatan seksual primer harus
dengan pembelahan diperut ikan.Sedangkan seksual skunder dengan memperhatikan
ciri-ciri morfologi yaitu bentuk tubuh. Organ pelengkap dan warna (andea,2005).
Selanjutnya Effendie
(1997) menyatakan bahwa sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan
adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi yaitu
ovarium dan pembuluhnya. Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang
dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina.Apabila suatu spesies ikan
mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina
maka spesies ikan mempunyai seksual dimorphisme.Apabila yang menjadi tanda itu
warna maka ikan itu mempunyai seksual dichromatisme dimana pada ikan jantan
biasanya warnanya agak lebih cerah dan menarik daripada ikan betina.
Ciri seksual ikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu
ciri seksual primer dan ciri seksual sekunder. Ciri seksual primer adalah alat
organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi. Testes dan salurannya
pada ikan jantan merupakan ciri seksual primer.Untuk melihat perbedaannya
diperlukan pembedahan.Ciri seksual sekunder berguna dalam membedakan ikan
jantan dengan ikan betina dan dapat dilihat dari luar, meskipun kadang kala
tidak memberikan hasil yang positif (nyata).(Tim Ikhtiologi, 1989).
2.5
Tingkat Kematangan Gonad Ikan Tambakan
Hal ini sesuai dengan pendapat Effendi (1997),yang mengatakan bahwa penentuan jenis kelamin
setelah dilakukan pengukuran panjang berat, kemudian ikan dibedah dan
dikeluarkan gonadnya untuk mengetahui jenis kelamin ikan tersebut.Penentuan
jenis kelamin ikan tambakan dengan memperlihatkan ciri seksual primer dengan
membedah tubuh ikan tersebut.Setelah itu diamati ciri seksual sekunder dengan
memperlihatkan bentuk tubuh pada organ pelengkap lainnya.
Alat kelamin yang terdapat pada individu ikan
disebut gonad.Akan tetapi jika gonad itu terdapat dalam rongga tubuh ikan
jantan disebut testes, sedangkan gonad yang terdapat dalam rongga tubuh ikan
betina disebut ovary. Gonadmemiliki pembuluh darah yang berfungsi sebagai
supply (penyedia) nutrisi. Testes pada ikan terdapat dalam rongga tubuh,
bentuknya sangat tergantung pada rongga tubuh yang tersedia tetapi umumnya
berbentuk panjang, jumlahnya sepasang dan tergantung di sepanjang mesenteries
pada rongga atas bagian tubuh.Posisinya persis di bawah tulang punggung di
samping gelembung udara. Warna bervariasi mulai dari transparan sampai putih
susu. Ovari pada ikan terdapat dalam tubuh, bentuknya juga tergantung pada
rongga tubuh.Namun umumnya memanjang, jumlahnya sepasang dan menggantung kepada
mesenteries (mesovaria).Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal
serta di samping gelembung udara.Warnanya bervariasi mulai dari transparan
sampai kuning emas dan keabu-abuan.
Kottelat et.al.,(1993)
menyatakan bahwa ikan Tambakan memiliki ciri-ciri bentuk tubuh pipih lebar,
dimana tinggi badan lebih ½ kali dari panjang tubuhnya, sirip punggung
panjangnya terdiri 12-13 jari-jari keras dan tajam 11-13 jari-jari lemah, sirip
dubur 9-11 jari-jari keras dan 9-21 jari-jari lemah, sirip perut 1
jari-jari keras dan 2 diantaranya jari-jari lemahnya memanjang seperti benang
yang berfungsi sebagai alat peraba, sirip dada 2 jari-jari keras yang kecil dan
13-14 jari-jari lemah. Gurat sisi sempurna mulai kepala hingga ekor yang
terdiri dari 30-33 keping sisik.
Pengamatan ciri seksual primer pada setiap individu
ikan dilakukan melalui cara membedah tubuh bagian abdominal ikan dan mengamati
gonad yang dimiliki yaitu testes jika jantan dan ovari jika betina. Namun jika
ikan masih hidup, untuk melihat gonadnya dapat dilakukan dengan cara
mengeluarkan gamet dengan menstripping induk yang sudah matang gonad atau
mengisap gonad dengan bantuan kateter canula (selang halus).
Sedangkan menurut Pulungan (2006), perbedaan ikan jantan dan ikan betina dapat
dilihat dari gonad yang dimiliki dengan cara membedah tubuh ikan (seksual
primer) serta bentuk warna dan organ lengkap (seksual sekunder) untuk
membedakan ikan jan-tan dan ikan betina dapat juga dilihat dari bentuk kepala,
bentuk tengkorak, sirip punggung, sirip dada, sirip ekor, sirip anus serta
ukuran lubang pada kelamin.
Warna ovari pada ikan betina sampel adalah kuning
emas yang menunjukkan bahwa ovari sudah matang dan siap dibuahi.Jumlah ovari
ada sepasang dan memiliki saluran kecil yang disebut oviductus. Testes pada
ikan jantan sampel berwarna putih susu. Jumlah testes sepasang dan memiliki
saluran yang disebut ductus.Gonad baik testes maupun ovari mempunyai saluran
agak pendek dan bersatu dengan vesica urinaria, membentuk sinus urogenitalis
yang berlanjut sebagai saluran yang bermuara sebagai porus urogenitalis.
Untuk membedakan antara ikan jantan dan ikan betina
selain berdasarkan ciri seksual primer juga dapat dilakukan melalui pengamatan
terhadap ciri seksual sekunder ikan tersebut. Untuk membedakan ikan tambakan
jantan dan betina berdasarkan ciri seksual sekunder yaitu:
1) Halus kasarnya permukaan kepala, jika kasar
adalah ikan jantan sedangkan ikan betina memiliki permukaan kepala yang halus.
2) Bentuk permukaan perut ikan, pada ikan jantan
permukaan perutnya agak ramping sedangkan ikan betina memiliki permukaan perut
agak gemuk karena mengandung telur dalam ovari. Ciri spesies ditandai dengan
adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri
spesies ikan tambakan jantan adalah bentuk badan tidak terlalu melengkung,
bentuk kepala lebih merata, ukuran kepala lancip, dasar sirip dada lebih keras,
letak sirip perut lebih panjang, bentuk lubang genital bulat (tumpul).Sedangkan
ciri spesies ikan tambakan betina adalah badan melengkung, perut membujur dan
mendatar sampai ke anus, bentuk kepala lebih besar dan dasar sirip dada lunak,
bentuk sirip perut lebih pendek dan bentuk lubang genital menonjol (agak
lancip).
Pengamatan tentang tahap-tahap kematangan gonad ikan
dapat dilakukan secara morfologi dan histologi. Tahap kematangan gonad yang
umum digunakan oleh peneliti adalah pentahapan yang dilakukan oleh Kesteven
yang membagi menjadi 9 tahap yaitu : I) dara, II) dara berkembang, III)
perkembangan I, IV) perkembangan II, V) bunting, VI) mijah, VII) mijah/salin,
VIII) salin/spent, IX) pulih salin. Sedangkan Nikolsky membagi menjadi 7 tahap
yaitu: I) tidak masak, II) tahap istirahat, III) hampir masak, IV) masak, V)
reproduksi, VI) kondisi salin, VII) tahap istirahat.
Alat kelamin pada ikan disebut gonad.Gonad dalam
rongga tubuh ikan jantan disebut testes, sedangkan gonad yang terdapat dalam
rongga tubuh ikan betina disebut ovari.Alat kelamin berupa gonad (kelenjar
kelamin), terdapat sepasang dalam abdomen (rongga perut) dan terletak gelembung
udara yang terdapat pada ikan betina dan ikan jantan.Organ seksual yang
merupakan ciri-ciri seksual primer pada ikan tambakan terdiri dari testes pada
ikan jantan dan ovari pada ikan betina.Testes ikan tambakan dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.
Testes pada ikan tambakan jantan yang terdapat
didalam tubuh ikan bervariasi mulai dari berwarna bening transparan sampai
putih susu yang menunjukkan tahap perkembangan gonadnya dan berjumlah dua buah
atau sepasang. Bentuknya memanjang dan terletak menggantung pada mesenteries
(mesovaria) dengan posisi persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di
samping gelembung renang. Testes ikan tambakan ini terletak di dalam
rongga perut ikan jantan.
Ovari pada ikan tambakan betina terdapat di dalam
tubuh ikan tepatnya di dalam rongga perut ikan tersebut.Bentuknya memanjang dan
berjumlah sepasang dengan letak menggantung pada mesenteries
(mesovaria).Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di
samping gelembung renang.Warna ovari pada ikan sampel bervariasi mulai dari
bening transparan sampai kuning keemasan yang menunjukkan tahap kematangan
gonadnya dan memiliki butiran telur.Untuk lebih jelasnya, gambar ovari pada
ikan ini dapat dilihat di bawah ini.Butiran telur pada ovari ikan betina juga
bervariasi baik warna maupun ukurannya yang menunjukkan perkembangan gamet
ini.Warnanya mulai dari transparan sampai kuning keemasan dan berbentuk bundar.
Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi
menghasilkan sel kelamin (gamet).Gonad yang terdapat pada tubuh ikan jantan
tersebut disebut testes yang berfungsi menghasilkan spermatozoa, sedangkan yang
terdapat pada individu ikan betina disebut ovari berfungsi menghasilkan telur. (Pulungan et. al, 2006).
Selanjutnya dikatakan juga bahwa gonad yang terdapat didalam tubuh mengalami
perkembangan dari bentuk sehelai benang yang berisi cairan bening kemudian
berkembang dan membesar sesuai dengan kapasitas rongga perut yang dimiliki
individu ikan.Perkembangan gonad ini dipengaruhi oleh adanya perkembangan gamet
yang diproduksi oleh gonad itu sendiri.Semakin matang gonad suatu in-dividu
ikan maka semakin besar bentuk dan berat gonad serta tubuh individu ikan.
2.6 Biologi Ikan Nila
|
||||||||||||||
Ikan nila adalah sejenis
ikan konsumsi air
tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya
Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan
yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia sekaligus hama
di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis
niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal
sebagai Nile Tilapia.
2.7 Kebiasaan Makan Ikan Nila
Ikan nila dilaporkan sebagai pemakan
segala (omnivora), pemakan plankton, sampai
pemakan aneka tumbuhan sehingga ikan ini diperkirakan dapat dimanfaatkan
sebagai pengendali gulma air.
Ikan ini sangat peridi, mudah berbiak. Secara alami, ikan
nila (dari perkataan Nile, Sungai Nil) ditemukan
mulai dari Syria di utara
hingga Afrika timur sampai ke Kongo dan Liberia; yaitu di
Sungai Nil (Mesir), Danau
Tanganyika, Chad, Nigeria, dan Kenya. Diyakini pula
bahwa pemeliharaan ikan ini telah berlangsung semenjak peradaban Mesir purba.
Telur ikan nila
berbentuk bulat berwarna kekuningan dengan diameter sekitar 2,8 mm. Sekali
memijah, ikan nila betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 300-1.500 butir,
tergantung pada ukuran tubuhnya. Ikan nila mempunyai kebiasaan yang unik
setelah memijah, induk betinanya mengulum telur-telur yang telah dibuahi di
dalam rongga mulutnya. Perilaku ini
disebut mouth breeder (pengeram telur dalam mulut).
Karena mudahnya dipelihara dan
dibiakkan, ikan ini segera diternakkan di banyak negara sebagai ikan konsumsi,
termasuk di pelbagai daerah di Indonesia. Akan tetapi mengingat rasa dagingnya
yang tidak istimewa, ikan nila juga tidak pernah mencapai harga yang tinggi. Di
samping dijual dalam keadaan segar, daging ikan nila sering pula dijadikan
filet.
Ikan ini menjadi hama di seluruh sungai-sungai dan danau
di Indonesia ketika di tebar ke dalam sungai dan danau karena ikan ini memakan
banyak tumbuhan air dan menggantikian posisi ikan pribumi indonesia, akan
tetapi ikan nila masih tetap ditebar oleh pemerintah di sungai-sungai dan danau
Indonesia tanpa memperhatikan dampaknya.
2.8 Morfologi dan Anantomi
·
Morfologi
Morfologi ikan nila yaitu memiliki
bentuk tubuh yang pipih ke arah bertikal (kompres) dengan profil empat persegi
panjang ke arah antero posterior.Posisi mulut terletak di ujung hidung
(terminal) dan dapat disembuhkan.Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis
vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong
letaknya.Ciri khas ikan nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada
sirip ekor, punggung dan dubur.Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk
membuat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan
gonad.Pada rahang terdapat bercak kehitaman.Sisik ikan nila adalah tipe
ctenoid. Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, begitu pun
bagian analnya. Dengan posisi sirip anal di belakang sirip dada (abdorminal)
Ikan nila memiliki tulang kartilago kranium sempurna, organ pembau dan kapsul otik tergabung menjadi satu. Eksoskleton Ostracodermi mempunyai kesamaan dengan dentin pada kulit. Elasmobrachii yang merupakan mantel keras seperti email pada gigi vertebrata. Di bawah lapisan tersebut terdapat beberapa lapisan tulang sponge dan di bawahnya lagi terdapat tulang padat. Tulang palato-quadrat dan kartilago Meckel adalah tulang rawan yang akan membentuk rahang atas dan rahang bawah
Ikan nila memiliki tulang kartilago kranium sempurna, organ pembau dan kapsul otik tergabung menjadi satu. Eksoskleton Ostracodermi mempunyai kesamaan dengan dentin pada kulit. Elasmobrachii yang merupakan mantel keras seperti email pada gigi vertebrata. Di bawah lapisan tersebut terdapat beberapa lapisan tulang sponge dan di bawahnya lagi terdapat tulang padat. Tulang palato-quadrat dan kartilago Meckel adalah tulang rawan yang akan membentuk rahang atas dan rahang bawah
·
Anatomi
Organ-organ internal ikan adalah
jantung, alat-alat pencerna, gonad, kandung kemih, dan ginjal.Alat pencernanya
terdiri atas aesopaghus, perut besar, usus halus, pankreas, dan
hati.Organ-organ tersebut biasanya diselubungi oleh jaringan pengikat yang
halus dan lunak yang disebut peritoneum.Peritoneum merupakan selaput (membran)
yang tipis berwarna hitam yang biasanya dibuang jika ikan sedang disiangi.Bentuk
badan ikan nila adalah pipih kesamping memanjang.Mempunyai garis vertikal 9-11
buah, garis-garis pada sirip ekor berwarna hitam sejumlah 6-12 buah.Pada sirip
punggung terdapat garis-garis miring.Linea literalisnya terputus jadi dua
bagian dan dilanjutnya dengan garis yang terletak di bawah.Letak linea
literalis memanjang di atas sirip dada.Jumlah sisik pada garis rusuk 39
buah.Tipe sisik ctenoid. Bentuk sirip ekor perpinggiran tegak.
BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada tanggal 25 Mei 2013 pada pukul 16:00 WIB sampai
selesai di Balai Benih Ikan (BBI) Universitas Isalm Riau.
3.2. Bahan dan Alat
·
Ikan (Tambakan dan
Nila)
·
Deterjen
·
Aquarium
·
Air
·
Handy counter
·
Timbangan ohaus
·
Penggaris
3.3.
Metode Praktikum
Metode praktikum adalah metode dengan mengamati objek praktikum dengan
mengikuti petunjuk yang sudah d arahkan oleh asisten praktikum.Kemudian dilakukan
pengukuran dan pencatatan.
3.4.
Prosedur Praktikum
·
Mempersiapkan ikan lalu
ditimbang berat ikan tersebut dan panjangnya.
·
Siapkan deterjen
ditimbang dengan dosis 1,6 ppm untuk bak kecil, 3,2 ppm untuk bak yang sedang,
dan 4,8 ppm untuk bak yang besar.
·
Siapkan wadah yaitu
berupa aquarium sebanyak 3 buah dan diisi air setinggi 25 cm lalu masukkan
deterjen kedalam aquarium tersebut sesuai dengan dosisnya.
·
Setelah itu masukkan
ikan dan hitung detak jantungnya.
BAB IV
HASIL
4.1. Ikan
Nila
|
Perlakuan
|
Kecil (40,1 g)
|
Sedang (150,1 g)
|
Besar (250,1 g)
|
|
1,6 ppm
|
298 kali
|
214 kali
|
107 kali
|
|
3,2 ppm
|
160 kali
|
217 kali
|
268 kali
|
|
4,8 ppm
|
248 kali
|
298 kali
|
293 kali
|
4.2. Ikan Tambakan
|
Ikan tambakan
|
1,6 ppm
|
3,2 ppm
|
4,8 ppm
|
|
11 kali
|
5 kali
|
3 kali
|
Berat Ikan 80 g
Panjang Total Ikan 17,5
cm
Panjang Standar 13 cm
BAB V
PEMBAHASAN
5.1. Ikan Nila
Dari hasil pratikum yang di lakukan, air yang menggunakan deterjen dengan
dosis 1,6 ppm ikan yang berukuran kecil (40,1 g) detak jantungnya sebanyak 298
kali, ikan yang berukuran sedang (150,1 g) detak jantungnya 214 kali, dan yang
berukuran besar (250,1 g) detak jantungnya sebanyak 107 kali. Deterjen dengan
dosis 3,2 ppm ikan yang berukuran kecil (40,1 g) detak jantungnya 217 kali,
ikan yang berukuran sedadng (150,1 g) detak jantungnya sebanyak 217 kali, ikan
yang berukuran besar (250,1 g) detak jantungnya sebanyak 268 kali, dan deterjen
dengan dosis 4,8 ppm ikan yang berukuran Kecil (40,1 g) detak jantungnya sebanyak 248 kali, ikan yang berukuran sedang (150,1 g) detak jantungnya
sebanyak 298 kali, ikan yang berukuran
besar (250,1 g) detak jantungnya sebanyak 293 kali.
5.2. Ikan Tambakan
Ikan tambakan yang di uji menggunakan deterjen
dengan dosis 1,6 ppm detak jantungnya sebanyak 11 kali, dosis 3,2 ppm detak
jantungnya sebanyak 5 kali, dosis 4,8 ppm detak jantungnya sebanyak 3 kali.
BAB VI
PENUTUP
6.1. KESIMPULAN
Disimpulkan bahwa, dari kedua ikan uji ikan
nila dan ikan tambakan, semakin tinggi
dosis deterjen yang di berikan, denyut jantung kedua ikan semakin lemah, dan
pergerakan ikan juga semakin lambat, ternyata polutan (deterjen) sangat mempengaruhi kehidupan ikan yang ada di
suatu perairan.
6.2. SARAN
Kita sebagai mahasiswa khususnya mahasiswa perikanan dan
juga segenap masyarakat agar menjaga kelestarian lingkungan suatu perairan
supaya organisme yang hidup di perairan tersebut dapat hidup dan berkembang dengan
baik. Intinya jangan membuang sampah dan sisa-sisa limbah kedalam sungai
ataupun perairan-perairan di lingkungan kita.
DAFTAR
PUSTAKA
Yudha, Indra Gumay.2009. REPRODUKSI.Fakultas
Pertanian. Universita Lampung.Bandar Lampung.
Effendie, Ichsan Moch, M.Sc, H, Dr,
Prof, 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara: Yogyakarta
Rahardjo, M.F.
1980. Ichthyology. Diktat Perkuliahan Fakultas Pertanian Bogor. Bogor.
113 hal
Alamsyah, Z. 1974. Ikhtiologi
Sistematika (Ichtyologi I). PPM. PT. ITB. Bogor. 183 halaman.
Nyabakken.
1992. Biologi laut suatu pendekatan ekologi. P.T. Gramedia. Jakarta
Djuhanda,
1981.Dunia Ikan. Penerbit Armico. Bandung. 130 halaman.
Effendi,
M. I. 1997. Metodologi Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 122
hal.
Fauzi, M.,
1999. Struktur Ikan di Sungai Selatan Bengkulu Utara. Laporan
Penelitian. Lembaga Penelitian Unri. Pekanbaru.
F.D.
Ommanney. 1989. Ikan. Tira Pustaka. Jakarta.187 hal
Kottelat, M., et al.1993.
Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi (Ikan Air Tawar
Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition Limited. Munich. Germany.
293 hal.
Tang
dan afandi 2005 dalm buku biologi perikanan
Pulungan et al, 2006.
Penuntun Praktikum Ichthyologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Riau, Pekanbaru, 74 hal (tidak diterbitkan).
Putra, R. M., et al. 2004.
Penuntun Praktikum Ichthyology. Laboratorium Biologi Perikanan. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Univesitas Riau. Pekanbaru.74 hal. (tidak
diterbitkan. Hanya untuk kalangan sendiri).
Saanin, H., 1984. Taksonomi dan
Kunci Identifikasi. Bina Cipta, Bandung. 520 halaman Pulungan, C. P., et
al. 2005.Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Univesitas Riau. Pekanbaru.80 hal. (tidak diterbitkan. Hanya untuk kalangan
sendiri).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar