pengaruh pemberian pupuk organik cair raja ikan
dengan dosis yang berbeda terhadap perkembangan moina sp
OLEH
khairul rizal
NPM : 114310115
laporan
HASIL Praktikum
Sebagai
Salah Satu Syarat Dalam Penyampaian Hasil Pratikum Mata Kuliah
Teknologi Produksi Pakan Alami
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2013
pengaruh pemberian pupuk organik cair raja ikan
dengan dosis yang berbeda terhadap perkembangan moina sp
laporan
HASIL Praktikum
Nama
mahasiswa : khairul rizal
npm :
114310115
jurusan :
budidaya perairan
PEMBIMBING
Dosen Pengasuh Asisten Dosen
(Ir. H. Rosyadi,
M.si) (muhtarom)
KATA PENGANTAR
Syukur
Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas berkat, rahmat dan
karunia-nya jualah sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini
dengan judul “pengaruh
pemberian pupuk organik cair raja ikan dengan dosis yang berbeda terhadap perkembangan moina sp”.
Salawat
serta salam tak lupa penulis hatur kan kepada junjungan alam Nabi Muhhammad
SAW, dengan mengucapkan Allahumasalialasayidina muhhammad, waalaali sayidina
muhhammad.
Penulis
menyadari akan segala keterbatasan pengetahuan yang di miliki, sehingga laporan
penelitian ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan, oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan saran dan masukan dari pembaca untuk kesempurnaan
penelitian ini nantinya.
Semoga
penelitian ini bermanfaat bagi kita semua.
Pekanbaru,
april 2013
DAFTAR
ISI
ISI Halaman
LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................. ii
KATA PENGANTAR......................................................................................... iii
DAFTAR ISI........................................................................................................................ iv
DAFTAR TABEL................................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR........................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... vii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang......................................................................................................... 1
1.2. Tujuan dan manfaat.................................................................................... 3
1.2.1. Tujuan praktikum.............................................................................. 3
1.2.2. Manfaat praktikum........................................................................... 3
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Biologi Moina
sp......................................................................................... 4
2.2. Morfologi Moina
sp.................................................................................... 4
2.3. Ekologi moina sp........................................................................................ 5
2.4. Perkembangbiakan Moina sp....................................................................... 6
2.5. Makanan...................................................................................................... 7
2.6. Pemupukan.................................................................................................. 7
2.6.1.
pupuk kotoran sapi............................................................................ 8
2.6.2.
pupuk Raja Ikan............................................................................. 10
BAB III BAHAN
DAN METODE
3.1. Waktu dan tempat........................................................................................ ........... 12
3.2. Bahan
dan Alat......................................................................................... 12
3.2.1. moina sp......................................................................................... 12
3.2.2. pupuk
dan media kultur.................................................................. 12
3.2.3. alat................................................................................................. 12
3.3. metode praktikum.................................................................................... 13
3.3.1. Prosedur praktikum........................................................................ 13
3.3.2. Parameter kualitas air..................................................................... 15
3.4. Rancangan percobaan............................................................................... 16
3.4.1.
Hipotesis dan asumsi...................................................................... 16
3.4.2.
Analisa data................................................................................... 17
BAB IV HASIL
4.1. Perkembangan populasi moina sp............................................................. 18
4.2. Kualitas air.................... ........................................................................... 19
4.3. Jenis-jenis plankton................................................................................... 19
Bab
v pembahasan
5.1
Perkembangan moina sp…………………………………………20
5.2
Kualitas Air………………………………………………………..21
BAB VI PENUTUP
6.1. Kesimpulan............................................................................................... 26
6.2. Saran......................................................................................................... 26
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Tabel
kandungan unsur hara beberapa jenis kotoran ternak........................................................ 9
2.
Tabel Jenis dan kandungan
hara dalam pupuk kandang............................................................ 10
3.
Tabel Kadar N, P, K
Pada Masing-masing Kotoran Ternak.................................................... 10
4.
Tabel Alat yang
digunakan selama praktikum........................................................................... 13
5.
Tabel Rata-rata perkembangan populasi Moina
sp (ind/l) pada masing-masing perlakuan selama praktikum 18
6.
Tabel Parameter kualitas air yang di ukur selama
praktikum.................................................... 19
7. Tabel keadaan suhu yang di ukur selama praktikum................................................................ 20
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Gambar
Rata-rata perkembangan populasi Moina sp (ind/l) pada masing-masing
perlakuan selama praktikum…………………………………………19
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Tabel
kandungan unsur hara beberapa jenis kotoran ternak........................................................ 9
2.
Tabel Jenis dan kandungan
hara dalam pupuk kandang............................................................ 10
3.
Tabel Kadar N, P, K
Pada Masing-masing Kotoran Ternak.................................................... 10
4.
Tabel Alat yang
digunakan selama praktikum........................................................................... 13
5.
Tabel Rata-rata perkembangan populasi Moina
sp (ind/l) pada masing-masing perlakuan selama praktikum 18
6.
Tabel Parameter kualitas air yang di ukur selama
praktikum.................................................... 19
7. Tabel keadaan suhu yang di ukur selama praktikum................................................................ 20
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan
usaha budi daya ikan saat ini semakin meningkat. Hal ini sejalan dengan kemajuan zaman dan tekhnologi serta semakin
meningkatnya jumlah penduduk yang memanfaatkan sumber hayati khususnya ikan
sebagai asupan gizi. Pemanfaatan hasil perikanan pada saat ini masih cenderung
dari alam, penangkapan secara terus-menerus mengakibatkan populasi ikan menurun
dan di kawatirkan terjadi kepunahan apabila tanpa manajemen yang baik.
Untuk
meningkatkan hasil perikanan dan memenuhi kebutuhan pasar tanpa merusak
populasi ikan yang ada di alam dibutuhkan suatu usaha budi daya, baik budidaya
tambak, keramba, maupun kolam.Dalam usaha budi daya saat ini telah banyak di
lakukan oleh masyarakat, baik sekala rumah tangga maupun secara intensif
sebagai sumber mata pencarian.
Salah
satu faktor yang menentukan usaha budi daya ikan berhasil adalah ketersediaan
benih.Ketersediaan benih yang tepat dalam jumlah yang banyak, waktu dan tempat
yang terjangkau serta harga yang relative murah sangat berpengaruh dalam usaha
budi daya.
Usaha
budi daya secara intensif maupun skala rumah tangga di kalangan masyarakat saat
ini masih jauh dari yang di harapkan, ini dapat di lihat dari permintaan pasar
yang terus meningkat, namun petani tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar secara
kontinyu. Dalam usaha pembenihan ikan, kendala yang harus dihadapi begitu
komplek salah satunya adalah ketersediaan benih, ini karena ketersediaan benih
yang di butuhkan untuk usaha budi daya tidak mencukupi, karena tingginya angka
mortalitas dalam pendederan di tingkat fase larva, terutama di saat larva
kehabisan kuning telur. Untuk memenuhi kebutuhan makanan larva dalam usaha
pembenihan telah banyak di gunakan makanan alami maupun buatan, makanan alami
yang banyak dimanfaatkan oleh petani pada umumnya tubifex sp yang di peroleh dari alam, namun keadaan ini juga belum
dapat menekan angka mortalitas dan meningkatkan produksi benih karena
ketersediaan tubifex yang sulit diperoleh khususnya pada musim penghujan
sehingga hasil produksi benih masih rendah.
Untuk
mengatasi masalah tersebut maka perlu melakukan pemberian pakan yang
berkualitas, ketersediaannya ada setiap saat dan mudah di kultur serta sesuai
dengan bukaan mulut larva sehingga mudah di cerna oleh larva yang fisiknya masih
lemah yaitu berupa makanan alami (live food), sehingga mortalitas dapat di
tekan sekecil mungkin dan meningkatkan produksi dan kualitas benih yang baik
secara kontinyu.
Moina
sp merupakan makanan alami yang potensial bagi benih ikan air tawar, karena
nilai gizinya yang tinggi, mudah di cerna serta mempunyai daya produksi yang
tinggi, yaitu cepat berkembang biak dan mudah di kembangkan serta memiliki
ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut ikan (JOHAN dkk, 2002).
MASRIZAL dalam JOHAN dkk, (2002) mengatakan bahwa kandungan protein Moina sp adalah 60
– 70 % dari berat kering tubuhnya.Sedangkan PRIYAMBODO dkk (2002),
mengatakan bahwa kandungan gizi Moina sp terdiri dari 90.60% air, 37.38%
protein, 13.29% lemak, dan 11.00% abu.
1.2. Tujuan
dan Manfaat Praktikum
1.2.1. Tujuan
Praktikum
Praktikum
ini bertujuan :
a.
Mendapatkan dosis yang optimal dari Pupuk Organik Cair Raja
ikan untuk mengembangbiakkan Moina
sp.
b.
Memahami bagaiman cara mengkultur Moina sp
sebagai pakan alami yang baik bagi ikan pada fase larva.
c.
Untuk mengetahui jenis-jenis plankton.
d.
Untuk mengetahui tingkat kesuburan pakan alami (Moina ,sp).
1.2.2.
Manfaat Praktikum
Dengan
melaksanakan praktikum ini di harapkan dapat memberikan manfaat :
a.
Menambah keterampilan dan pengetahuan di bidang kultur pakan
alami.
b.
Memudahkan petani ikan khususnya usaha pembenihan dalam
meningkatkan hasil produksinya dengan pemberian Moina sp pada ikan fase
larva.
c.
Mengetahui tingkat populasi Moina sp.
d.
Bahan informasi teknik kultur moina sp baik sekala kecil maupun sekala besar.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Biologi Moina sp
Moina
sp adalah golongan udang renik Cladocera.Moina sp termasuk ke dalam
filum Arthropoda, kelas Crustacea, subkelas Entamostraca, ordo Phylopoda,
subordo Cladocera (PRIYAMBODO dkk, 2002). Spesies dari genus moina
terdiri dari Moina dubia, M. macropoda, M. weismani, M. reticulate (Sachlan, 1980).
2.2.
Marfologi Moina sp
Adapun
ciri khas Moina sp adalah bentuk tubuh yang pipih ke samping, dinding
tubuh bagian punggung membentuk suatu lipatan sehingga menutupi bagian tubuh
berserta anggota-anggota tubuh pada kedua sisinya.Bentuk tubuh ini tampak
sepertisebuah cangkang kerang-kerangan.Cangkang di bagian belakang membentuk
sebuah kantong yang berguna sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur.Moina
sp mempunyai ukuran bentuk tubuh 500-1.000 mikron (MUDJIMAN, 2008).
Moina
sp merupakan organisme yang bersifat planktonik dan bergerak aktif dengan
alat geraknya yaitu kaki renang (PRIAMBODO
dkk, 2002). Selanjutnya di jelaskan
bahwa bentuk tubuh moina membulat dengan garis tengah 0.9 – 1.8 mm dan berwarna
kemerah-merahan, sedangkan bagian perut terdapat 10 silia dan di bagian
punggungnya ditumbuhi rambut-rambut kasar.
DJARIJAH dalam NURZAMAN, (2002). Moina sp
mempunyai perbedaan dengan jenis kutu air lainnya, namun antara Moina sp
dengan Daphnia sp mempunyai sedikit perbedaan pada ukurannya, Moina sp
500-1000 mikron sedangkan Daphnia sp 1000-5000 mikron dan bentuknya pada
Moina sp mempunyai ekor yang lebih panjang. Selanjutnya LINGGA dkk dalam NURZAMAN, (2002) menjelaskan bahwa
bentuk Moina sp pipih bening dan tembus pandang, sehingga terlihat
bentuk anggota bagian dalam termasuk telurnya.
2.3. Ekologi Moina
sp
Moina
sp merupakan zooplankton air tawar yang dapat hidup di sungai, parit,
rawa-rawa, dan air tergenang. Plankton ini tersebar luas yang di sebabkan oleh
aliran air dan terbawa oleh binatang lainnya.Hal ini di mungkinkan karena telur
Moina sp tersebut mampu bertahan pada kondisi perairan yang sangat
buruk, bahkan perairan yang sedikit berair. Apabila kondisi perairan telah
memenuhi persyaratan untuk kehidupannya, maka telur-telur tersebut akan menetas
MUDJIMAN dalam JOHAN dkk, (2002). Selanjutnya dijelaskan bahwa lingkungan yang mendukung
pertumbuhan Moina sp adalah pada kisaran suhu 22 – 31 oC dan
pH antara 6,6 – 7,4.
Dahlan
dalam JOHAN dkk, (2002) mengatakan bahwa, perkembangan
populasi Moina sp dapat terjadi pada kolam atau bak yang terbuat dari
tanah, plastic, kaca, fiber glass, dan kombinasi bahan tersebut. Bahan-bahan
logam seperti seng kurang baik bila di jadikan sebagai wadah kultur, karena
akan mencemari air sebagai media hidupnya.
Selain
media kultur, yang perlu di perhatikan adalah bibit yang akan di gunakan. Bibit
Moina sp yang akan di budidayakan sebaiknya yang tidak terlalu tua atau
terlalu muda. Menurut MUDJIMAN (2008)
bahwa Moina yang baik di gunakan sebagai bibit berukuran lebih dari 500 mikron,
sehat, tidak lemah, dan tidak sedang bertelur.
2.4.
Perkembangbiakan Moina sp
Moina
sp berkembang biak secara partenogenetik (telur berkembang tanpa dibuahi).
Pada umumnya perkembangbiakan yang demikian akan menghasilkan telur sebanyakn
10-20 butir, apabila lingkungan mendukung telur akan menetas menjadi hewan
betina. Selain itu Moina sp dapat juga berkembang biak secara kawin.
Dengan cara ini hewan betina akan menghasilkan telur sebanyak 1 – 2 butir.
Perkembangan secara demikian terjadi apabila individu jantan terdapat dalam jumlah yang banyak bila
di banding dengan individu betina, atau juga bisa terjadi apabila kondisi
perairan tidak mendukung hewan betina untuk menghasilkan dan menetaskan
telurnya sendiri.
MUDJIMAN (2008) menyatakan bahwa
telur-telur yang di hasilkan oleh induk betina ditampung di dalam kantung telur
yang terletak di atas punggung.Di dalam kantong telur, embrio berkembang terus
sehingga ketika dikeluarkan sudah setengah dewasa. Selanjutnya dikatakan bahwa Moina
sp akan menjadi dewasa dalam waktu 5 hari dari total umurnya yaitu 30 hari. Setiap dua hari sekali, Moina sp
mampu menghasilkan anak sebanyak 33 ekor.Dengan demikian, keturunan yang di
hasilkan selama hidupnya sebanyak 500 ekor.
Selanjutnya
dikatakan bahwa di daerah beriklim dingin perkembang biakannya akan
menghasilkan individu-individu jantan, sedangkan di daerah beriklim panas juga
sering terjadi pergantian sistem perkembangbiakan dan dapat terjadi lebih dari
satu kali perkembangbiakan secara kawin.
2.5. Makanan
Cara
makan Moina sp sebagaimana umumnya Cladocera dengan menyaring makanan
(filter feeder). Makanan Moina sp terdiri dari tumbuh-tumbuhan renik dan
detritus. Pengambilan makanan dilakukan dengan menggerakkan kaki-kakinya yang
pipih. Gerakan kaki tersebut menimbulkan arus air yang membawa makanan ke
arahnya. Ketika makanan berada di dekat mulut, makanan tersebut langsung
ditelan tanpa dipilih lebih dahulu (MUDJIMAN
2008).
Sedangkan
PRIYAMBODO (2002). mengatakan bahwa
di daerah rawa yang banyak mengandung bahan organik, sehingga banyak terdapat
fitoplankton, zooplankton, detritus, dan bakteri sebagai sumber makanannya.
Dari beberapa jenis pakan. Bakteri merupakan pakan Moina sp yang paling
baik.
2.6.
Pemupukan
Penambahan
pupuk kedalam perairan bertujuan untuk menyediakan unsur hara serta mempersubur
perkembangan jasad renik dalam perairan. Penambahan bahan organik yang dapat
berupa pupuk kandang (baik kotoran ayam, sapi, kambing, kuda, kotoran kakus)
daun-daun serta sampah dapur, bertujuan untuk menumbuhkan jasad renik yang akan
menggunakan mineral hasil pembongkaran bahan organik itu untuk
perkembangbiakannya (SUSENO dalam
KARTIKA, 2005).
Selanjutnya
CHOLIIK dkk dalam KARTIKA, (2005) menyatakan bahwa pupuk
dari limbah ternak (pupuk kandang) dapat meningkatkan produksi plankton, pada
beberapa kolam penambahan kapur, pupuk anorganik maupun pupuk alam diperlukan
dalam usaha untuk meningkatkan produksi plankton.
Makanan
alami dapat tersedia banyak apabila kolam dipupuk dengan bahan organik seperti
pupuk kandang, kompos dan sebagainya (SUYANTO
dalam KARTIKA, 2005).
2.6.1. Pupuk
Kotoran Sapi
Pupuk
kandang dikatakan siap pakai untuk memupuk tanah apabila tidak berbau tajam
(bau amoniak), terasa dingin jika dipegang, berwarna gelap, kering, dan gembur
jika diremas (ANONIMUS 2007).
Dosis
pemupukan sangat erat hubungannya dengan tingkat kesuburan tanah dan air kolam.
ARSYAD dkk dalam KARTIKA, (2005) menyatakan bahwa untuk
merangsang pertumbuhan pakan alami (plankton), kolam dipupuk dengan pupuk
organik seperti pupuk kandang dengan dosis 500-800 gr/m2 dan pupuk
anorganik (urea dan TSP) dengan dosis masing-masing 10 gr/ m2.
Pupuk
kandang mempunyai daya untuk merubah semua factor kesuburan tanah dalam arti
yang menguntungkan (menambah zat makanan, mempertinggi kadar humus, memperbaiki
struktur tanah, menyediakan unsur zat-zat makanan (SOSROSOEDIRJO dkk dalam KARTIKA, 2005).
DAHRIL dalam KARTIKA, (2005) menyatakan pemanfaatanpupuk
kandang dalam perairan adalah sebagai berikut :
|
Pupuk Organik
|
|
Bakteri
|
|
Dimakan oleh Ikan
|
|
Hara terlarut dalam air
|
|
Dimakan micro
bentos
|
|
Diserap oleh
|
|
Kotoran ikan
|
|
Dimakan macro
bentos
|
|
Dimakan oleh
ikan
|
|
Tumbuhan Air
|
|
Phytoplankton
|
|
Dimakan
Zooplankton
|
|
Terurai kembali
menjadi hara
|
|
Dimakan oleh
ikan
|
|
Dimakan oleh
ikan
|
|
Dimakan oleh
ikan
|
Gambar 2.1. Skema penguraian pupuk organik dalam perairan
(Dahril dalam Rais, 1993)
Adapun
kandungan unsur hara yang terdapat pada beberapa kotoran hewan menurut beberapa
sumber dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 2.1. kandungan unsur hara
beberapa jenis kotoran ternak
|
No
|
JENIS
PUPUK
|
KANDUNGAN
HARA
|
||
|
N
|
P
|
K
|
||
|
1.
2.
3.
4.
|
Kotoran Ayam
Kotoran Puyuh
Kotoran Sapi
Kotoran Kambing
|
1.00
%
1.00
%
0.40
%
0.06
%
|
0.80
%
0.65
%
0.20
%
0.30
%
|
0.40
%
0.80
%
0.10
%
0.17
%
|
Sumber : Lingga (1998)
Tabel 2.1. Jenis
dan kandungan hara dalam pupuk kandang
|
No
|
JENIS
PUPUK
|
KANDUNGAN
HARA
|
||
|
Nitrogen
(N)
|
Fosfor
(P)
|
Potasium
(K)
|
||
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
|
Kotoran Sapi
Kotoran Kuda
Kotoran Biri-biri
Kotoran Ayam
Kotoran Itik
Kotoran Kambing
Kotoran Domba
Kotoran Babi
|
0.97
%
0.50
%
2.04
%
2.71
%
0.83
%
0.60
%
0.75
%
1.25
%
|
0.69
%
0.74
%
1.66
%
6.31
%
1.80
%
0.30
%
0.50
%
1.85
%
|
1.66
%
0.84
%
1.83
%
2.01
%
0.43
%
0.17
%
0.45
%
0.75
%
|
Sumber : Anonimus (2007)
Tabel 2.2. Kadar N, P, K Pada
Masing-masing Kotoran Ternak
|
No
|
JENIS
PUPUK
|
KANDUNGAN
HARA
|
||
|
N
|
P
|
K
|
||
|
1.
2.
3.
|
Kotoran Ayam
Kotoran Puyuh
Kotoran Sapi
|
4.13
%
3.93
%
1.83
%
|
0.02
%
16.56
%
16.42
%
|
0.15
%
0.16
%
0.14
%
|
Sumber : Laboratorium BPTP RIAU dalam
KARTIKA, ( 2005)
Dilihat
dari ketiga Tabel di atas, menunjukkan bahwa kandungan N, P, K dari tiap-tiap
kotoran ternak berbeda, hal ini disebabkan oleh sumber makanan yang dimakan
oleh hewan tersebut berbeda pula. Sesuai dengan pendapat SUTEDJA dalam KARTIKA,
(2005) bahwa kotoran ternak yang diberi makanan yang banyak mengandung N,
P, K, akan lebih tinggi nilainya karena kandungan N, P, K itu akan terdapat
pula pada pupuk kandangnya.
2.6.2. Pupuk Raja
Ikan
Pupuk
Raja Ikan adalah mikroba probiotik yang
di kombinasikan dengan protein, multivitamin, mineral dan ginseng yang evektif
untuk budidaya ikan air tawar (ikan lele, gurami, nila, patin dan ikan mas).
Pupuk yang diproduksi oleh TAMASINDO
FARMA Animal and plant health care. ini memiliki kandungan unsur hara
yang cukup lengkap
Kandungan
unsur hara yang lengkap yang terdapat dalam pupuk raja ikan tersebut memiliki
keunggulan diantaranya 1). Memperbaiki standar kualitas air, 2). Meningkatkan
DMA (Daya Menggabung Asam) Air, berfungsi sebagai pencegah terjadinya perubahan
pH air secara mendadak, 3). Menekan
kematian (mortalitas) awal, 4).Meningkatkan ketersediaan makanan alami udang
dan ikan, dan 5). Dapat menetralisir kadar garam/salinitas air tambak.
BAB
III
BAHAN
DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum
ini dilaksanakan selama 20 hari (tiga minggu) dimulai pada tanggal 17 Maret – 4
April 2013 di Balai Benih Ikan (BBI) Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau.
3.2. Bahan
dan Alat
3.2.1. Moina
sp
Moina
sp yang digunakan dalam praktikum ini sebanyak 90 individu dengan kepadatan 30 ind/l yang di
peroleh dari kolam-kolam yang ada di balai benih ikan (BBI) fakultas pertanian
universitas islam riau perhentian marpoyan pekanbaru.
3.2.2. Pupuk
dan Media Kultur
Pupuk
yang digunakan dalam praktikum ini adalah pupuk kotoran sapi yang diperoleh
dari peternak dan pupuk organik cair raja
ikan yang diproduksi oleh TAMASINDO
FARMA Animal and plant health care
dengan kapasitas 1/5 liter.
Media
kultur yang digunakan adalah air sumur bor yang ada di Balai Benih Ikan (BBI)
UIR yang telah diendapkan.
3.2.3. Alat
Adapun
alat-alat yang digunakan selama praktikum serta fungsinya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1. Alat
yang digunakan selama praktikum
|
No.
|
Nama
Alat
|
Kegunaan
|
|
1.
|
Toples ukuran 5 liter, 12 buah
|
Wadah kultur
|
|
2.
|
Timbangan
|
Menimbang pupuk
|
|
3.
|
Plankton net
|
Menyaring Moina sp
|
|
4.
|
Gelas ukur
|
Mengukur pupuk cair
|
|
5.
|
Kertas lakmus
|
Mengukur keasaman air
|
|
6.
|
Thermometer
|
Mengukur suhu
|
|
7.
|
Handy caunter
|
Menghitung Moina sp
|
|
8.
|
Kaca pmbesar (lux)
|
Mengamati moina sp
|
|
9.
|
Pipet tetes
|
Mengambil Moina sp
|
|
10.
|
Cawan Petri
|
Menampung Moina sp
|
|
11.
|
Mikroskop
|
Melihat jenis plankton
|
|
12.
|
Botol film
|
Menampung Moina sp
|
|
13.
|
Panci alumunium
|
Memasak pupuk kotoran sapi
|
|
14.
|
Dissolved oxygen meter
|
Untuk mengukur O2
|
|
15.
|
Lampu neon
|
Pengganti cahaya matahari
|
3.3. Metode
Praktikum
3.3.1. Prosedur Praktikum
Langkah
awal praktikum ini adalah mempersiapkan wadah kultur dengan menggunakan toples
ukuran 5 liter sebanyak 12 toples, dengan jumlah air setiap wadah kultur
sebanyak 3 liter. Kemudian menyediakan pupuk kotoran sapi sebagai pupuk dasar
media kultur serta pupuk organic cair raja
ikan yang di gunakan sebagai
bahan uji dalam praktikum dan segala peralatan yang di gunakan dalam
pengkulturan moina sp, seperti lampu
neon, aerasi, batu aerasi, selang dan sebagainya.
Setelah
wadah kultur disiapkan, kegiatan selanjutnya menimbang pupuk kotoran sapi
dengan dosis 3 gr/l air sebagai pupuk dasar. Selanjut nya pupuk kotoran sapi yang
telah di timbang sesuai jumlah yang di tentukan masing-masing perlakuan, di
lakukan perebusan guna menghilangkan berbagai jenis bakteri atau organism
lainnya yang dapat mengganggu dalam kultur moina
sp. Setelah pupuk kotoran sapi tersebut di rebus lalu, di dinginkan, kemudian
di saring sehingga subtratnya tidak terbawa dalam media kultur. Selanjutnya
pupuk kotoran sapi yang telah di saring tersebut dimasukan pada setiap wadah
kultur, sampai airnya 3 liter. Langkah selanjutnya memasukan pupuk organik cair
raja ikan dengan dosis yang berbeda sesuai dengan perlakuan yang
di berikan, yakni dosis 0,13 ppm, 0,26
ppm, 0,39 ppm/liter air serta tanpa pemberian pupuk organik cair raja ikan.
Setelah
wadah kultur di isi air dengan pupuk kotoran sapi dan dua hari kemudian di
susul pemberian pupuk organik cair raja
ikan, maka media kultur di
biarkan selama lebih kurang satu minggu, supaya pakan alami yang ada dalam
media kultur dapat tumbuh dan berkembang yaitu dari berbagai jenis
phytoplankton. Selama di lakukan penumbuhan phytoplankton sebagai makan moina sp, pada setiap wadah penelitian
di beri aerasi sebagai sumber oksigen serta lampu neon sebagai sumber cahaya
untuk proses fotosintesis. Kemudian setelah 6-7 hari baru di masukan bibit moina sp sebanyak 30 ind/liter air untuk
setiap wadah kultur.
Untuk
menghitung perkembangbiakan moina sp
di lakukan pengambilan air secara keseluruhan dari masing-masing wadah kultur,
dengan cara melakukan penyaringan dengan menggunakan planktonnet. Kemudian air
yang tersaring dengan planktonnet tersebut di ambil sebanyak 5 ml, yang seterusnya
di letakan dalam cawan petridish, selanjutnya di lakukan perhitungan dengan
menggunakan handy counter.
Perhitungan
dilakukan tiga kali perulangan untuk masing-masing wadah kultur dan nilai yang
di ambil untuk analisis adalah nilai rata-rata dari setiap perlakuan dan
perulangan. Dalam penelitian ini juga di lakukan pengamatan terhadap
jenis-jenis plankton, baik phytoplankton maupun zooplankton yang terdapat dalam
wadah penelitian selama di lakukan pengkulturan. Air sampel yang di ambil untuk
di lakukan penghitungan di masukan kembali ke dalam masing-masing wadah kultur
sesuai perlakuan.
Data
yang di peroleh terlebih dahulu di lakukan analisis variansi, jika menunjukan
adanya perbedaan dari efek-efek perlakuaan, maka di lanjutkan dengan melakukan
uji rentang Newman – Keuls (Sudjana, 1985).
3.3.2.
Parameter Kualitas Air
Untuk
parameter kualitas air yang diukur seperti suhu, keasaman (pH) air pengukurannya dimulai pada awal praktikum
yakni disaat bibit Moina sp akan dimasukkan kedalam masing-masing wadah
kultur, sedangkan untuk pengamatan perkembangan Moina sp dilakukan
penghitungan setiap 2 hari sekali selama 14 hari. Pengukuran oksigen terlarut
(DO), suhu, pH, dilakukan pada pagi, siang, dan sore. Selanjutnya untuk
mengukur parameter kualitas air lainnya seperti kadar amoniak (NH3)
diukur pada awal dan akhir praktikum.
3.4.
Rancangan Percobaan
Metode
yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode sampling, dan rancangan yang
digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga
ulangan. Keempat perlakuan tersebut adalah :
P0 = Tanpa
Pemberian Pupuk organik Cair raja ikan
P1 = Pemberian
Pupuk Organik Cair Raja Ikan dengan dosis 0,13 ml/ppm/liter
P2 = Pemberian
Pupuk Organik Cair Raja Ikan dengan dosis 0,26 ml/ppm/liter
P3 = Pemberian
Pupuk Organik Cair Raja Ikan dengan dosis 0,39 ml/ppm/liter
Penempatan
dari masing-masing perlakuan secara acak (SUDJANA,
1985). Adapun model umum rancangan
acak lengkap adalah sebagai berikut:
Yij
= U + Ti + Eij
Yij
= Variabel yang akan dianalisis
U = Nilai rata-rata umum
Tij
= Pengaruh perlakuan ke i
Eij
= Kesalahan percobaan
3.4.1.
Hypotesis dan Asumsi
Hypotesis yang
diajukan dalam praktikum adalah :
HI = Terdapat perbedaan pemberian pupuk organik cair raja ikan
dengan dosis berbeda terhadap perkembangbiakan Moina sp.
Ho = Tidak terdapat perbedaan pemberian pupuk organik cair raja ikan
dengan dosis berbeda terhadap perkembangbiakan Moina sp.
Hypotesis dalam
praktikum ini diajukan dengan asumsi sebagai berikut :
1.
keadaan lingkungan pada semua wadah praktikum adalah
sama.
2.
Bibit Moina sp memiliki kemampuan memanfaatkan
makanan dianggap sama.
3.
keterampilan praktisi dianggap sama.
3.4.2. Analisa Data
Data
yang dianalisis adalah populasi Moina sp dari hasil praktikum pada
masing-masing perlakuan dengan setiap ulangannya. Sebelum dianalisis dilakukan
terlebih dahulu uji homogenitas (SUDJANA,
1985) model tetap. Sedangkan data kualitas air dianalisis secara
deskriptif.
Apabila
F hitung < F table 5 % berarti tidak ada pengaruh dari ke empat perlakuan
terhadap rata-rata populasi Moina sp. Sedangkan bila F hitung > F
table 5 % berarti ada pengaruh yang sangat nyata dari keempat perlakuan
pemberian pupuk terhadap perkembangan populasi Moina sp selama
praktikum. Selanjutnya untuk mengetahui frekuensi pemberian pupuk yang terbaik
dari ketiga perlakuan dilakukan uji rentang NEWMAN KEULS.
BAB
IV
HASIL
4.1.
Perkembangan Populasi Moina sp
Dari
hasil pengamatan selama pratikum terhadap perkembangan populasi Moina sp
pada masing-masing perlakuan (lampiran 1), sebelum itu terjadi penurunan
terlabih dahulu populasi Moina sp pada hari ke 5 pada wadah P0
(kontrol), sedangkan pada wadah P1 (Raja ikan
dosis 0,13 cc), wadah P2 (Raja ikan
dosis 0,26 cc), dan pada wadah P3 (Raja ikan
dosis 0,39 cc) puncak populasi terjadi pada hari ke 7. Perkembangan Moina sp pada fase awal terjadi pningkatan
populasi secara drastis untuk lebih jelas mengenai peningkatan dan terjadinya
puncak populasi Moina sp dari masing-masing perlakuan dapat di lihat
pada tabel IV.1.
Tabel IV.1. Rata-rata perkembangan populasi Moina
sp (ind/l) pada masing-masing perlakuan selama praktikum.
|
Hari Ke
|
Perlakuan
|
|||
|
P0
|
P1
|
P2
|
P3
|
|
|
0
|
90
|
90
|
90
|
90
|
|
1
|
273
|
282
|
284
|
282
|
|
3
|
288
|
295
|
313
|
302
|
|
5
|
275
|
327
|
370
|
353
|
|
7
|
490*
|
920*
|
570*
|
470*
|
|
9
|
195
|
90
|
87
|
78
|
Keterangan : * Terjadinya puncak populasi
Perkembangan
populasi moina sp dari masing-masing
perlakuan dapat dilihat dalam bentuk grafik, Seperti gambar dibawah ini:
Gambar IV.1. Rata-rata perkembangan populasi Moina sp (ind/l) pada
masing-masing perlakuan selama praktikum.
4.2. Jenis-jenis Plankton
Dari
hasil pengamatan selama pratikum jenis plankton yang terdapat dalam media
kultur dilakukan pada akhir praktikum. Adapun tujuan dilakukannya pengamatan
terhadap organisme mikroskopik ini adalah untuk mengetahui jumlah dan jenis
makanan alami yang tumbuh dalam media kultur tersebut dimana organisme ini
merupakan makanan bagi perkembangan Moina sp serta untuk mengetahui
jenis organisme apa saja yang dapat tumbuh dari pemupukan Raja Ikan.
Jasad
renik yang terdapat dalam media kultur yang banyak dimanfaatkan oleh Moina sp
sebagai makanannya diantaranya Chlorella sp dan Cylops strenus
yang banyak dijumpai dalam tiap wadah, selain kedua jenis tersebut tumbuh juga
jenis Cylops fimbriatus,Keratella cochlearis, Oncaea venetus, Oithonina
nana, Pompholyx complanata, Brachionus calycciflorus, Cromogaster ovalis,
Euchlanis macrura, Coelopshaerium kuetzingianum, Closteridium lunula,
Holopedium irregulare Lager, Aphanocapra grevillei, Scenedesmus sp, Helicostomella
sp, Eudorina wallichii.
4.3. Kualitas
Air
Selain
kandungan unsur hara, faktor kualitas air juga memiliki peranan yang cukup
besar dalam menunjang perkembangan populasi dan lamanya untuk bertahan hidup Moina sp dalam media kultur. Adapun
hasil analisi kualitas air tabel IV.2, selama praktikum berlangsung terjadi
fluktuasi yang sangat signifikan.
Tabel IV.2. Parameter kualitas air yang di ukur selama praktikum.
|
No.
|
Kualitas Air
Yang diukur
|
Kisaran Anggka
|
|
1.
2.
3.
|
Suhu
Derajat
keasaman (pH)
Oksigen
terlarut (O2)
|
24 – 310C
6-7
2.57 – 11,23
ppm
|
Tabel IV.3. keadaan
suhu yang di ukur selama praktikum.
|
Hari/Tanggal
|
Perlakuan
|
|||
|
P0
|
P1
|
P2
|
P3
|
|
|
Minggu/17/03/13
|
28
|
27
|
27
|
27
|
|
Slasa/19/03/13
|
27
|
27
|
28
|
28
|
|
Kamis/21/03/13
|
28
|
28
|
27
|
27
|
|
Sabtu/23/03/13
|
27
|
28
|
28
|
28
|
|
Senin/25/03/13
|
27
|
28
|
27
|
27
|
|
Rabu/27/03/13
|
27
|
28
|
29
|
27
|
|
Jum’at/29/03/13
|
28
|
28
|
28
|
28
|
|
Minggu/31/03/13
|
28
|
28
|
28
|
28
|
|
Selasa/02/04/13
|
27
|
28
|
28
|
28
|
|
Kamis/04/04/13
|
27
|
29
|
28
|
29
|
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Perkembangan
Populasi Moina sp
Dari
hasil pratikum perkembangan populasi moina
sp yang secara lamban pada awal ditebar hingga hari ke 5 hal ini di
sebabkan Moina sp baru mulai
beradaptasi dengan lingkungannya, sedangkan proses adaptasi Moina sp terjadi secara baik, baru
terjadi pada hari ke 5 hingga puncak populasi. Hal diduga karena proses adaptasi Moina sp yang kurang baik terhadap lingkungan barunya, adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan jumlah populasi Moina sp yaitu kecerahan, keasaman, fluktuasi suhu, maupun
tingginya kadar amoniak dalam media kultur.
AFRIANTO dkk (1992) menyatakan bahwa
parameter yang dapat menyebabkan terjadinya stres lingkungan antara lain adalah
temperatur yang ekstrem, air yang terlalu jenuh dengan gas atau intensitas
cahaya yang berlebihan.
Perbedaan
jumlah populasi pada masing-masing perlakuan ini disebabkan perbedaan dosis
yang diberikan, dalam praktikum ini ternyata semakin tinggi dosis yang
diberikan tingkat populasi akan semakin rendah. Sedangkan pada perlakuan yang
lebih kecil tingkat populasi tinggi.
Sesuai
pernyataan SIANIDAR (dalam
NURJANAH, 1997) bahwa pemupukan suatu perairan agar pemberiaannya tidak
terlalu banyak atau terlalu sedikit. Apabila pupuk yang diberikan terlalu
banyak akan menimbulkan keracunan pada perairan yang mana akan menyebabkan
menurunya jumlah populasi dan apabila pupuk yang diberikan dalam jumlah yang
sedikit maka tidak nampak pengaruhnya karena makanan yang tersedia tidak
terdapat dalam jumlah yang cukup.
5.2 Kualitas
Air
Kisaran
pH pada masing-masing media kultur 6-7. Perubahan pH ini diduga akibat dari
interaksi pupuk yang di masukkan ke dalam air sebagai media kultur Moina
sp.
Apabila kondisi perairan
telah memenuhi persyaratan untuk kehidupannya, maka telur-telur tersebut akan
menetas MUDJIMAN (dalam JOHAN dkk, 2002). Selanjutnya dijelaskan bahwa lingkungan yang mendukung
pertumbuhan Moina sp adalah pada kisaran suhu 22 – 31 oC dan
pH antara 6,6 – 7,4.
FARDIAS (1992) bahwa perubahan keasaman
pada air buangan (air yang mengandung bahan organik), baik kearah alkali (pH naik)
maupun kearah asam (pH menurun), akan sangat mengganggu kehidupan ikan dan
hewan air di sekitarnya.
Menurut
MUDJIMAN (2008) bahwa lingkungan
yang mendukung pertumbuhan kutu air (Moina
sp) bersuhu 22-31 oC, namun perbedaan fluktuasi suhu antara pagi
dan sore cukup drastis yang mencapai 5-7
oC.
SUSANTO (2009) menyatakan bahwa
perbedaan suhu antara siang dan malam tidak boleh melebihi 5 oC dan
tidak boleh terjadi perubahan secara drastis.hal inilah kemungkinan besar yang
mempengaruhi perkembangan Moina sp
menurun sehingga perkembangannya sangat lambat serta puncak populasinya tidak
maksimal.
SUSANTO (2009) menyatakan bahwa selama
kandungan amoniak tidak melebihi dari 3 ppm, masih di anggap aman bagi
kehidupan ikan (organisme) dan tidak menganggu pertumbuhannya. Sedangkan GHUFRAN dkk (2004) menyatakan bahwa perairan sudah dikategorikan tercemar jika
mengandung amoniak 1 ppm, sedangkan
konsentrasi di atas 2 ppm dapat membunuh sebagian besar jenis ikan (organisme).
·
Jenis-jenis Plankton
Jenis
Plankton yang dimanfaatkan oleh Moina sp sebagai
makanannya yang terdapat dalam media kultur adalah Chlorella sp dan Cylops
strenus yang banyak dijumpai dalam tiap wadah, selain kedua jenis tersebut
tumbuh juga jenis Cylops fimbriatus,Keratella cochlearis, Oncaea venetus,
Oithonina nana, Pompholyx complanata, Brachionus calycciflorus, Cromogaster
ovalis, Euchlanis macrura, Coelopshaerium kuetzingianum, Closteridium lunula,
Holopedium irregulare Lager, Aphanocapra grevillei, Scenedesmus sp, Helicostomella
sp, Eudorina wallichii.
BAB
VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari
hasil praktikum dapat di simpulkan bahwa pemberian pupuk dengan dosis tinggi
dapat menyebabkan populasi Moina sp
rendah.
Populasi
Moina sp di pengaruhi oleh kualitas
air, media kultur (lingkungan) tidak mendukung untuk perkembangan Moina sp. Untuk Perkembangan
phytoplankton sebagai makanan Moina sp
cukup baik terbukti dengan dijumpainya berbagai species.
6.2. Saran
Mengembangkan
Moina sp yang dilakukan menggunakan
POC Raja Ikan di dalam ruang belum menunjukkan hasil yang baik sehingga disarankan
agar melakukaan uji coba di luar ruangan.
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto,E. dan Liviawaty,E. 1992.Pengendalian Hama dan Penyakit
Ikan.Kanisius.Yogyakarta. 89 hal
Anonimus. 2007. Petunjuk Pemupukan.
Agromedia. Jakarta. 100 hal
Dahniar.1997. Identifikasi Rotifer Dari
Genus Brachionus Pada Beberapa Kolam Ikan Di Kotamadya Pekanbaru. Hasil
Penelitian. Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau.Pekanbaru. 47 hal (tidak diterbitkan)
Fardiaz, S. 1992.Polusi Air dan
Udara.Kanisius. Yogyakarta.190 hal
Ghufran,M dan K,H, Kordi. 2004.Penanggulangan
Hama dan Penyakit Ikan.Rineka Cipta dan Bina Adiaksara. Jakarta.190 hal
Johan,I dan Rosyadi. 2002. Uji Penggunaan Bokashi Pupuk Kandang Terhadap
Perkembanganbiakan Moina sp di Desa
Pulau Gadang Kampar. Hasil Penelitian. Fakultas Pertanian Universitas Islam
Riau.Pekanbaru. 33 hal (tidak diterbitkan)
Kartika,W. 2005.Pengaruh Pemberian
Jenis Pupuk Yang Berbeda Terhadap Kelulushidupan dan Pertumbuhan Benih Ikan
Sepat Siam (Trichogaster pectoralis Regan).Skripsi
Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau.Pekanbaru.71 hal (tidak diterbitkan).
Mudjiman, A. 2008. Makanan Ikan Edisi
Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta. 192 hal
Nurzaman. 2002 Pengaruh Frekuensi
Pemberian Pupuk Bokashi terhadap Perkembangan Populasi Moina sp. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau.
Pekanbaru. 39 hal (tidak diterbitkan)
Nurjanah. 1997. Pengaruh Pemberian
Kotoran Puyuh dengan Dosis Yang Berbeda Terhadap Perkembangan Populasi
Priyambodo, K dan T, Wahyuningsih. 2002.Budi daya Pakan Alami untuk Ikan. Penebar
Swadaya. Jakarta. 63 hal
Sachlan, M. 1980.Planktonologi.
Fakultas Perikanan Universitas Riau. 140 hal
Sudjana, H. 1985. Desain Experiment.
Metode statistik.Tarsito. Bandung. 496 hal
Susanto, H. 2009. Budidaya Ikan di
Pekarangan Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta. 196 hal
LAMPIRAN
Lampiran 1.Data perkembangan populasi Moina
sp. dari masing-masing perlakuan selama praktek (ind/l).
|
Hari ke
|
Ulangan
|
Perlakuan ( Ind/l )
|
|||
|
P0
|
P1
|
P2
|
P3
|
||
|
|
|
90
|
90
|
90
|
90
|
|
1
|
1
|
92
|
95
|
95
|
91
|
|
2
|
90
|
92
|
91
|
93
|
|
|
3
|
91
|
95
|
98
|
98
|
|
|
Jumlah
|
|
273
|
288
|
284
|
282
|
|
Rerata
|
|
91
|
96
|
94
|
94
|
|
3
|
1
|
98
|
99
|
101
|
98
|
|
2
|
94
|
97
|
97
|
97
|
|
|
3
|
96
|
99
|
115
|
107
|
|
|
Jumlah
|
|
288
|
295
|
313
|
302
|
|
Rerata
|
|
96
|
98
|
104
|
100
|
|
5
|
1
|
100
|
110
|
125
|
108
|
|
2
|
80
|
117
|
121
|
116
|
|
|
3
|
95
|
100
|
124
|
129
|
|
|
Jumlah
|
|
275
|
327
|
370
|
353
|
|
Rerata
|
|
91
|
109
|
123
|
117
|
|
7
|
1
|
190
|
290
|
70
|
170
|
|
2
|
210
|
250
|
230
|
200
|
|
|
3
|
90
|
380
|
270
|
100
|
|
|
Jumlah
|
|
490
|
920
|
570
|
470
|
|
Rerata
|
|
163
|
306
|
190
|
156
|
|
9
|
1
|
108
|
30
|
9
|
9
|
|
2
|
39
|
30
|
39
|
9
|
|
|
3
|
48
|
30
|
39
|
60
|
|
|
Jumlah
|
|
195
|
90
|
87
|
78
|
|
Rerata
|
|
65
|
30
|
29
|
26
|
Lampiran 2. Denah wadah kultur pada masing-masing perlakuan selama
praktikum.
|
P.2.1
|
|
P.0.3
|
|
P.3.1
|
|
P.2.3
|
|
P.1.3
|
|
P.0.1
|
|
P.0.2
|
|
P.2.2
|
|
P.1.1
|
|
P.1.2
|
|
P.3.2
|
|
P.3.3
|
Lampiran 3. Data
perkembangan puncak populasi Moina sp
pada masing-masing wadah selama praktek
|
Ulangan
|
Perlakuan
|
|||
|
P0
|
P1
|
P2
|
||
|
1
|
190
|
290
|
70
|
170
|
|
2
|
210
|
250
|
230
|
200
|
|
3
|
90
|
380
|
270
|
100
|
|
Jumlah
|
490
|
920
|
570
|
470
|
|
Rerata
|
163
|
306
|
190
|
156
|
Lampiran 4. Analisa variansi perkembangan populasi Moina sp, dari masing-masing perlakuan.
|
Perlakuan
|
Ulangan
|
Jumlah
|
Rerata
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|||
|
P0
|
190
|
210
|
90
|
490
|
163.3
|
|
P1
|
290
|
250
|
380
|
920
|
306.7
|
|
P2
|
70
|
230
|
270
|
570
|
190
|
|
P3
|
170
|
200
|
100
|
470
|
156.6
|
|
Jumlah
|
720
|
890
|
840
|
2450
|
|
|
Rerata
|
240
|
296.6
|
280
|
|
816.6
|
Analisa Variansi
|
SK
|
DB
|
JK
|
KT
|
F-hitung
|
F-Tabel
|
|
|
5%
|
1%
|
|||||
|
Jk Prlkuan
|
3
|
43891.67
|
14630.55
|
2.61
|
4.07
|
7.59
|
|
JK Galat
|
8
|
44800
|
5600
|
|
|
|
|
Jumlah
|
11
|
88691.67
|
|
|
|
|
Keterangan : F-hitung < F-tabel
5% = Tidak berbeda Nyata.
Lampiran 5. Pengukuran Suhu dan
Derajat Keasaman (pH)
|
No
|
Hari/ Tgl
|
Perlakuan
|
Jam 08:00
|
Jam 12:00
|
Jam 16 : 00
|
O₂
|
NH₃
|
|||
|
pH
|
Suhu
|
pH
|
Suhu
|
pH
|
Suhu
|
|||||
|
1
|
Minggu/17/03/13
|
P0
|
6
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
28⁰
|
|
|
|
P1
|
6
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
P2
|
6
|
25⁰
|
|
29⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
P3
|
6
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
2
|
Selasa/19/03/13
|
P0
|
6
|
24⁰
|
|
30⁰
|
|
27⁰
|
|
|
|
P1
|
6
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
P2
|
6
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
28⁰
|
||||
|
P3
|
6
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
28⁰
|
||||
|
3
|
Kamis/21/03/13
|
P0
|
6
|
26⁰
|
|
30⁰
|
|
27⁰
|
|
|
|
P1
|
6
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
28⁰
|
||||
|
P2
|
6
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
P3
|
6
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
4
|
Sabtu/23/03/13
|
P0
|
6
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
27⁰
|
|
|
|
P1
|
6
|
25⁰
|
|
31⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
P2
|
6
|
25⁰
|
|
31⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
P3
|
6
|
25⁰
|
|
31⁰
|
|
28⁰
|
||||
|
5
|
Senin/25/03/13
|
P0
|
6
|
25⁰
|
|
29⁰
|
|
28⁰
|
|
|
|
P1
|
6
|
26⁰
|
|
30⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
P2
|
6
|
26⁰
|
|
29⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
P3
|
6
|
25⁰
|
|
29⁰
|
|
28⁰
|
||||
|
6
|
Rabu/27/03/13
|
P0
|
6
|
26⁰
|
|
29⁰
|
|
27⁰
|
|
|
|
P1
|
6
|
26⁰
|
|
29⁰
|
|
28⁰
|
||||
|
P2
|
6
|
29⁰
|
|
30⁰
|
|
28⁰
|
||||
|
P3
|
6
|
26⁰
|
|
29⁰
|
|
27⁰
|
||||
|
7
|
Jum’at/29/03/13
|
P0
|
6
|
26⁰
|
|
29⁰
|
|
28⁰
|
|
|
|
P1
|
6
|
26⁰
|
|
29⁰
|
|
30⁰
|
||||
|
P2
|
6
|
26⁰
|
|
29⁰
|
|
29⁰
|
||||
|
P3
|
6
|
26⁰
|
|
29⁰
|
|
28⁰
|
||||
|
8
|
Minggu/31/03/13
|
P0
|
7
|
26⁰
|
|
30⁰
|
|
28⁰
|
|
|
|
P1
|
7
|
25⁰
|
|
29⁰
|
|
30⁰
|
||||
|
P2
|
7
|
26⁰
|
|
30⁰
|
|
29⁰
|
||||
|
P3
|
7
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
28⁰
|
||||
|
9
|
Selasa/02/04/13
|
P0
|
7
|
25⁰
|
|
30⁰
|
|
27⁰
|
|
|
|
P1
|
7
|
26⁰
|
|
30⁰
|
|
29⁰
|
||||
|
P2
|
7
|
26⁰
|
|
30⁰
|
|
29⁰
|
||||
|
P3
|
7
|
25⁰
|
|
31⁰
|
|
29⁰
|
||||
|
10
|
Kamis/04/04/13
|
P0
|
7
|
25⁰
|
|
29⁰
|
|
27⁰
|
|
|
|
P1
|
7
|
26⁰
|
|
31⁰
|
|
29⁰
|
||||
|
P2
|
7
|
25⁰
|
|
29⁰
|
|
29⁰
|
||||
|
P3
|
7
|
26⁰
|
|
31⁰
|
|
29⁰
|
||||
Lampiran 6. Parameter kualitas air yang di ukur :
rata-rata Oksigen Terlarut (O2) selama Praktikum berlangsung
|
Oksigen
terlarut (O2)
|
|||
|
P0
|
P1
|
P3
|
P3
|
|
8.10
|
9.80
|
7.90
|
11.23
|
|
4.47
|
5.23
|
3.77
|
3.97
|
|
5.10
|
3.73
|
3.50
|
3.90
|
|
5.20
|
3.87
|
4.77
|
3.97
|
|
4.20
|
3.83
|
3.80
|
3.13
|
|
3.40
|
3.97
|
2.80
|
2.57
|
|
7.57
|
8.23
|
9.13
|
8.07
|
|
5.63
|
7.60
|
6.07
|
8.03
|
Lampiran 7. Kecerahan
Air yang telah di ukur selama praktikum.
|
Warna Air
|
|||||||||||||
|
No
|
Hari/Tanggal
|
P0
|
P1
|
P2
|
P3
|
||||||||
|
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
||
|
1
|
Minggu/17/03/13
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
2
|
Slasa/19/03/13
|
C
|
C
|
C
|
H.M
|
H.M
|
H.M
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
|
3
|
Kamis/21/03/13
|
C.H
|
C.H
|
C.H
|
H.M
|
H.M
|
H.M
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
|
4
|
Sabtu/23/03/13
|
H.M
|
H.M
|
H.M
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
|
5
|
Senin/25/03/13
|
H
|
H
|
H.M
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
|
6
|
Rabu/27/03/13
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
|
7
|
Jum’at/29/03/13
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
|
8
|
Minggu/31/03/13
|
H.M
|
H.M
|
H.B
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
|
9
|
Selasa/02/04/13
|
H.B
|
H.B
|
B
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
H
|
|
10
|
Kamis/04/04/13
|
H.B
|
B
|
B
|
H.M
|
H.M
|
H.M
|
H.M
|
H.M
|
H.M
|
H.M
|
H.M
|
H.M
|
Keterangan :
C : CoklaT H.B : Hijau bening C.H : Coklat kehijauan
H : Hijau B : bening H.M :
Hijau muda
Lampiran 8. keadaan
suhu yang di ukur selama praktikum.
|
Hari/Tanggal
|
Keadaan Suhu ( ºC )
|
|||||||||||
|
P0
|
P1
|
P2
|
P3
|
|||||||||
|
Pagi
|
Siang
|
Sore
|
Pagi
|
Siang
|
Sore
|
Pagi
|
Siang
|
Sore
|
Pagi
|
Siang
|
Sore
|
|
|
Minggu/17/03p/13
|
25
|
30
|
28
|
25
|
30
|
27
|
25
|
29
|
27
|
25
|
30
|
27
|
|
Slasa/19/03/13
|
24
|
30
|
27
|
25
|
30
|
27
|
25
|
30
|
28
|
25
|
30
|
28
|
|
Kamis/21/03/13
|
26
|
30
|
27
|
25
|
30
|
28
|
25
|
30
|
27
|
25
|
30
|
27
|
|
Sabtu/23/03/13
|
25
|
30
|
27
|
25
|
31
|
27
|
25
|
31
|
27
|
25
|
31
|
28
|
|
Senin/25/03/13
|
25
|
29
|
28
|
26
|
30
|
27
|
26
|
29
|
27
|
25
|
29
|
28
|
|
Rabu/27/03/13
|
26
|
29
|
27
|
26
|
29
|
28
|
29
|
30
|
28
|
26
|
29
|
27
|
|
Jum’at/29/03/13
|
26
|
29
|
28
|
26
|
29
|
30
|
26
|
29
|
29
|
26
|
29
|
28
|
|
Minggu/31/03/13
|
26
|
30
|
28
|
25
|
29
|
30
|
26
|
30
|
29
|
25
|
30
|
28
|
|
Selasa/02/04/13
|
25
|
30
|
27
|
26
|
30
|
29
|
26
|
30
|
29
|
25
|
31
|
29
|
|
Kamis/04/04/13
|
25
|
29
|
27
|
26
|
31
|
29
|
25
|
29
|
29
|
26
|
31
|
29
|
Lampiran 9. Gambar Mikroskop untuk
melihat plankton jenis Phytoplankton beserta peralatan lain.
Pupuk
Organik Cair
Pupuk kandang
cair media kultur Sebelum di masukan POC
Media Kultur
sesudah di masukan POC Penghitungan Moina sp