BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Air
merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak,
bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air harus
dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan denagan baik oleh manusia serta
makhluk hidup yang lain. Pemanfaatan air untuk berbagi kepentingan generasi
sekarang maupun generasi mendatang. Aspek pengamatan dan pelestarian sumber
daya air harus ditanamkan pada segenap pengguna air.
Selain
itu bagi biota perairan, misalnya ikan, udang, kerang, dan lain-lain, air
berfungsi sebagai media, baik sebagai media internal maupun external. Sebagai
media internal, air berfungsi sebagai bahan baku reaksi di dalam tubuh,
pengangkut bahan makanan keseluruh tubuh, pengangkut sisa metabolisme untuk
dikeluarkan dari dalam tubuh, dan sebagai pengatur atau penyangga suhu tubuh.
Semantara media eksternal, air berfungsi sebagai habitatnya. Oleh karena itu
peran air bagi kehidupan biota perairan sangat penting atau esensial maka dalam
budidaya perairan, kuantitas dan kualitasnya harus dijaga sesuai dengan
kebutuhan orgainisme yang dibudidayakan.
1.2
Tujuan
Dan Manfaat
Penelitian
ini bertujuan untuk :
1.2.1.
mengetahui kualitas sungai siak
tersebut.
1.2.2.
Bagaimana dan apa saja habitat yang mampu hidup di dalamnya.
1.2.3.
menambah keterampilan dalam
penggunaan alat – alat penelitian.
Manfaat penelitian ini dapat memberi
informasi mengenai kualitas sungai siak dan kelimpahan plankton serta dapat
juga menjadi sumber informasi bagi pihak-pihak yang ada kaitannya dengan
lingkungan hidup.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Tentang
air
Air
murni merupakan suatu persenyawaan kimia yang sangat sederhana yang terdiri
dari dua atom hidrogen berkaitan dengan satu atom oksigen, secara simbolik air
dinyatakan sebagai H2O. Air serta bahan-bahan dan energi yang
dikandung di dalamnya merupakan lingkungan bagi jasad-jasad air.
Pengaruhnya
terhadap kehidupan yang ada di dalamnya, yaitu:fat (1) dengan sifat-sifat fisiknya yaitu sebagai medium
tempat hidup tumbuh-tumbuhan dan hewan, dan (2) dengan sifat-sifat kimianya
sebagai bembawa zat-zat hara yang di perlukan bagi pembentukan bahan-bahan
organik oleh tumbuh-tumbuhan dengan produksi perimernya.
Air
mempunyai sifat yang khusus di antara zat-zat cair karena molekul- molekulnya
cendrung membentuk kelompok atau agregasi akibat sifat-sifat listriknya dan
sifat-sifat tersebut bergantung pada suhu. Pada suhu rendah molekul-molekul air
tersusun dalam bidang empat, yaitu satu molekul berada di tengah-tengah dan
empat molekul di sudut suatu bidang empat. Struktur seperti ini terdapat dalam
bentuk es.
2.2
karakteristik air
Air
memiliki karakteristik yang khas tidak dimiliki oleh senyawa kimia yang lain.
Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut (Dugan,
1972;Hutchinson, 1975;Miller, 1999).
1. Pada
kisaran suhu yang sesuai bagi kehidupan, yakni 00 C (320 F)-
1000 C, air berwujud cair. Suhu 00 merupakan titik beku(freezing point) dan suhu 1000 C
merupakan titik didih (boiling point)
air. Tanpan sifat tersebut, air yang terdapat di dalam jaringan tubuh makhluk
hidup maupun air yang terdapat di laut, sungai, danau dan badan lain akan
berada dalam bentuk gas atau padatan; sehingga tidak akan terdapat kehidupan di
muka bumi ini.
2. Perubahan
suhu air berlangsung lambat sehingga air memiliki sifat sebagai penyimpanan
panas yang sanagat baik. Sifat ini memungkinkan air tidak menjadi panas ataupun
dingin dalam seketika. Perubahan suhu air yang lambat mencegah terjadi nya
stress pada makhluk hidup[ karena adanya perubahan suhu yang mendadak dan
memelihara suhu bumi agar sesuai bagi makhluk hidup. Sifat ini menyebabkan air
sangat baik di gunakan pendingin mesin.
3. Air
memerlukan panas yang tinggi dalam proses penguapan. Penguapan adalah proses
air menjadi uap uap air. Proses ini memerlukan energi panas dalam jumlah yang
besar.
2.3
Siklus Hidrologi
Air
merupakan salah satu senyawa kimia yang terdapat di alam secara
berlimpah-limpah. Namun ketersediaan air yang memenuhi syarat bagi keperluan
manusia relatif sedikit karena dibatasi oleh berbagai faktor. Air tawar yang
tersedia selalu mengalami siklus hodrologi. Pergantian total air sungai
berlangsung 18-20 tahun. Sedangkan pergantian uap air yang terdapat di
atsmosfer berlangsung sekitar dua belas hari dan b-pergantian air tanah dalam
membentuk waktu ratusan tahun ( Miller,
1992).
Air
tawar yang dapat dikonsumsi tersebar secara tidak merata karena adanya
perbedaan curah hujan tahunan. Wilayah yang kaya akan air di daerah tropis dan
daerah yang memiliki empat musim atau ugahari, sedangkan wilayah yang miskin
air terdapat di daerah kering. Siklus hidrologi air tergantung pada proses
evaporasi dan presipitasi . Air yng terdapat di permukaan bumi berubah menjadi
uap air di lapisan atsmosfer melalui proses evapotranspirasi atau penguapan air
oleh tanaman,
Air yang jatuh
sebagai hujan tidak sema air yang dapat
mencapai permukaan tanah sebagian
tertahan oleh vegetasi dan pembangunan. Sebagian air yang mencapai permukaan
tanah akan masuk kedalam tanah dan menjadi air tanah melalui proses
infiltrasi. Kuantitas air yang mampu diserap oleh tanah tergantung pada kondisi
fisik tanah, misalnya bobot isi, permeabilitas, dan struktur tanah. Sebelum
mencapai jenuh, air masih dapat diserap
oleh tanah. jika telah melebihi kejenuhan,
air hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan di alirkan sebagian lapisan
permukaan kedalam air. Air yang masuk kedalam tanah akan
mencapai akifer.
2.4
Air Permukaan
Air
tawar berasal dari dua sumber, air permukaan
adalah air yang berada di sungai, danau, waduk, rawa, dan badan air lain, yang
tidak mengalami inflitrasi kebawah tanah. Areal tanah yang mengalirkan air
kesuatu badan air di sebut watersheads atau drainage basins.
Perairan permukaan diklasifikasikan
menjadi dua kelompok utama, yaitu badan air tergenang dan badan air mengalir.
1. Perairan Tergenang (Letik)
Perairan
tergenang meliputi danau, kolam, waduk, rawa, dan sebagainya. Perairan
tergenang, khususnya danau, biasanya mengalami stratifikasi secara vertical
akibat perbedaan intensitas cahaya dan perbedaan suhu pada kolam air yang
terjadi secara vertical.
2. Perairan Mengalir (Lotik)
Salah satu contoh perairan
mengalir adalah sungai. Sungai dicirikan oleh arus yang searah dan relative
kencang, dengan kecepatan berkisar antara 0,1 – 1,0 m/detik, serta sangat
dipengaruhi oleh waktu, iklim, dan pola dreinase. Pada perairan sungai,
biasanya terjadi percampuran massa air secara menyeluruh dan tidak berbentuk
statifikasi vertical kolam air seperti pada perairan lentik. Kecepatan arus,
erosi, dan sedimentasi merupkan fenomena yang biasa terjadi di sungai sehingga
kehidupan flora dan fauna sangat dipengaruhi oleh ketiga variabel tersebut.
2.5 Air Tanah
Air tanah merupakan air yang berada dibawah permukaan
tanah. Air tanah ditemukan pada akifer. Pergerakan air tanah sangat lambat,
kecepatan arus berkisar antara 10-10
– 10-3 m/detik dan dipengaruhi oleh porositas, permeabilitas dari
lapisan tanah, dan pengisian kembali air. Karakteristik yang utama membedakan
air tanah dari air permukaan adalah pergerakan yang sangat lambat
dan waktu tinggal yang sangat lama,
dapat mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Karena pergerakan yang sangat
lambat dan waktu tinggal yang lama tersebut, air tanah akan sulit untuk pulih
kembali jika mengalami pencemaran.
Daerah dibawah tanah yang terisi air tersebut daerah
saturasi. Pada saturasi, setiap pori tanah dan batuan terisi oleh air, yang
merupakan air tanah. Batas atas daerah saturasi
disebut water table, yang merupakan peralihan antara daerah saturasi yang
banyak mengandung air dan daerah belum saturasi/jenuh yang masih mampu menyerap
air. Jadi, daerah saturasi berada di bawah daerah unsaturated.
Pada dasarnya, air tanah berasal dari air hujan, baik
melalui proses infiltrasi secara langsung ataupun secara tak langsung dari air
sungai, danau, rawa, dan genangan air lainnya. Air yang terdapat di rawa-rawa
sering kali dikategorikan sebagai peralihan antara air permukaan dan air tanah.
Dinamika pergerakan air tanah pada hakikatnya terdiri atas pergerakan
horizontal air tanah, infiltrasi air hujan, sungai, danau, dan rawa ke lapisan
akifer, dan menghilangnya atau keluarnya air tanah melalui spring, pancaran air
tanah, serta aliran air tanah memasuki sungai dan tempat-tempat lain yang
merupakan tempat keluarnya air tanah.
2.6 Parameter
Fisika
Parameter-parameter
fisika yang biasa digunakan untuk menentukan kualitas air meliputi cahaya,
suhu, kecerahan dan kekeruhan, warna, konduktivitas, padatan total, padatan
terlarut, padatan tersuspensi, dan saliinitas.
2.7 Kecerahan
Kecerahan adalah sebagian dari cahaya yang diteruskan
ke dalam air dan dinyatakan dengan persen, dari beberapa panjang gelombang di
daerah spectrum yang terlihat sekitar satu meter, jatuh agak lurus pada
permukaan air. Kemampuan cahaya matahari untuk menembus sampai kedasar perairan
di pengaruhi oleh benda halus yang disuspensikan, seperti lumpur dan
sebagainya, adanya jasad-jasad renik (plankton),
dan warna air.
Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan, kita dapat mengetahui sampai dimana masih ada kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air, lapisan-lapisan manakah yang tidak keruh, dan yang paling keruh. Air yang tidak terlampau keruh dan tidak pula terlampau jernih baik untuk kehidupan ikan dan udang budidaya.
2.8 Suhu
Menurut Irianto (2005) Organisme air memiliki derajat toleransi terhadap
suhu dengan kisaran tertentu yang sangat berperan bagi pertumbuhan, inkubasi
telur, konversi pakan dan resistensi terhadap penyakit. Organisme air akan
mengalami stres bila terpapar pada suhu diluar kisaran yang dapat ditoleransi.
Pada dasarnya suhu rendah memungkinka air mengandung oksigen lebih tinggi,
tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernapasan pada ikan berupa menurunnya
laju pernapasan dan denyut jantung.
Suhu
dipengaruhi aktivitas metabolism organisme, karena itu penyebaran organisme
baik dilautan maupun di perairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan
tersebut. Suhu sangat berpengaruh terhadap di kehidupan dan pertumbuhan biota
air. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat
menekan kehidupan hewan budidaya bahkan menyebabkan kematian bila peningkatan
suhu sampai ekstrim (dratis).
Distribusi suhu
secara vertical perlu diketahui karena akan mempengaruhi distribusi mineral
dalam air kemungkinan terjadi pembalikan pelapisan air. Suhu air akan
mempengaruhi juga kekentalan air. Perubahan suhu air yang dratis dapat
mematikan biota air katrena terjadi perubahan daya angkut darah.
Suhu air dapat
mempengaruhi kehidupan biota air secara tidak langsung, yaitu melalui
pengaruhnya terhadap kelarutan oksigen dalam air. Semakin tinggi suhu air,
semakin rendah daya larut oksigen didalam air, dn sebaliknya. Pada suhu 360C
dan salinitas 36 ppt nilai kelarutan oksigen dalam air sebesar 5,53 ppm,
sedangkan pada suhu300C dan 250C serta salinitas yang
sama kelarutan tersebut beturut-turut adalah setinggi 6,14 ppm dan 6,71 ppm Menurut Kurniawan et al., ( 2006 ), penyebaran
suhu dilapisan bawah permukaan secara vertikal menunjukkan adanya pelapisan
yang teridiri :
a)
Lapisan Homogen
Pada lapisan ini air umumnya sama dari permukaan kedalaman 100 meter,
dilapisan tropik aeperti Indonesia suhu lapisan ini berkisar 29oC
b)
Lapisan Termoklin
Pada lapisan ini suhu turun dengan cepat sekali yakni 28oC
pada kedalaman 100 meter menjadi 4oC pada kedalaman 600 meter.
c)
Lapisan Dalam
Lapisan ini turunnya suhu dengan peningkatan kedalaman menjadi lambat
sekali yang berlangsung hingga kedalaman 2500 meter, gradient suhu yang terjadi
kira – kira 0, 5oC/100 m.
d) Lapisan Dasar
Pada lapisan ini suhu biasanya tidak berubah lagi hingga kedasar
biasanya terjadi di samudra lepas, berarti pada kedalaman 3000 m lebih.
(Boyd,1981 dalam Saenong,1992).
2.9 Warna Perairan
Warna
air merupakan salah satu unsur dari parameter fisika terhadap standar
persyaratan kualitas air ( Darmayanto, 2009 ).
Warna
perairan ditimbulkan oleh adanya bahan organic dan bahan anorganik, karena
keberadaan plankton, hiumus, dan ion – ion logam misal besi dan mangan, serta
bahan lainnya. Adanya oksida besi menyebabkan air berwarna kemerahan, sedangkan
oksida mangan menyebabkan air berwarna kecoklattan atau kehitaman. Kadar besi
sebanyak 0,3 mg/liter dan kadar mangan sebanyak 0,05 mg/liter sudah cukup dapat
menimbulkan warna pada perairan ( Peavy et al., 1985 ).
Perairan
alami tidak berwarna. Air dengan nilai warna lebih kecil dari 10 PtCo biasanya
tidak memperlihatkan warna yang jelas. Air yang berasal dari rawa – rawa yang
biasanya berwarna kuning kecoklatan hingga kehtaman memiliki warna sekitar 200
– 300 PtCo karena adanya asam humus ( McNeely et al., 1979 )
Warna
perairan pada umumnya disebabkan oleh partikelkoloid bermuatan negative,
sehingga penghilangan warna di perairan dapat dilakukan dengan penambahan
koagulan yang bermuatan positif, misalnya alumunium dan besi ( Sawyer dan
McCarty, 1978 ).
2.10 Parameter Kimia
Beberapa defenisi kimia yang sering digunakan dalam
penentuan parameter kimia adalah (Boyd,
1988; Cole, 1988) sebagai berikut:
1.
Berat
atom, yaitu berat atom dari suatu unsur yang didasarkan pada berat atom isotop
C12 sebagai standar.
2.
Berat
molekul, yaitu berat atom total dari semua atom yang terdapat dalam molekul.
3.
Berat
ekuivalen, yaitu perbandingan antara berat molekul jumlah mol dari ion H+.
4.
Valensi,
yaitu karakteristik dari suatu elemen yang ditentukan berdasarkan jumlah atom
hydrogen yang dapat diikat oleh satu atom.
5.
Molaritas
(M), yaitu jumlah mol suatu bahan dalam satu liter larutan.
Normalitas (N),
yaitu jumlah berat ekuivalen dalam satu liter larutan.
2.11 Amoniak [NH3]
Boyd (1979) mengemukakan ammoniak yang terdapat pada kolam merupakan
produk hasil metabolisme ikan dan pembusukan senyawa organic oleh bakteri. Di
air ammonia nitrogen mempunyai dua bentuk yaitu NH3 bukan ion dan NH4
ion. Tingkat daya racun NH3 bukan ion dalam kolam dengan kontak
langsung singkat adalah 0,6 sampai 0,2 ppm dan batas pengaruh yang mematikan
dapat terjadi bila kosentrasi NH3 sekitar 0,1 sampai 0,3 ppm
Perubahan nitrogen menjadi ammonia anorganik dilakukan
oleh bakteri dan jamur dalam proses almonifik. Ammonia cepat larut dalam air
membentuk ammonium hidroksida. Peranan oksigen dalam menurunkan toksisitas
ammonium tergantung dari kegiatan bakteri aerob melalui proses nitrifikasi ( Sudaryanti, 1991 ).
Amonium ( NH3 )dan garam – garamnya
bersifat mudah larut dalam air. Ion amonium adalah bentuk transisi dari
amoniak. Sumber amoniak di perairan adalah pemecahan nitrogen organic dan
nitrogen anorganik yang terdapat dalam limbah dan air yang berasal dari bahan
organik dan biota akuatik yang telah mati oleh mikroba dan jamur ( Effendi, 2003 ).
Ammonium dapat teroksidasi menjadi nitrat oleh bakteri
nitrifikasi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton. Nitrogen organik pada plankton yang mati dan kotoran air ( tetes )akan
mengendap di dasar menjadi nitrogen tanah. Nitrogen pada material ke air
sehingga dapat dimanfaatkan kembali oleh fitoplankton ( Durboroe, 1997 dalam Supono,
2008 )
2.12 Oksigen
terlarur [DO]
Menurut Sastrawijaya (1991) menyatakan Oksigen terlarut (DO) merupakan parameter penting
untuk mengukur pencemaran air. Oksigen dibutuhkan oleh organisme air untuk
respirasi adalah oksigen yang terlarut dalam air. Konsentrasi DO yang optimum untuk budidaya
ikan adalah 3 - 5 ppm.
2.13 Keasaman
air [pH]
2.13.1
pH
Derajat keasaman lebih dikenal denga istilah
pH. pH ( sinkatan dari pulscane negative teH ), yaitu logaritma dari kepekatan
ion – ion H yang terlepas dalam satu cairan. Derajat keasaman atau pH air
menunjukkan aktifitas ion hydrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan
sebagai konsentrasi ion hydrogen pada suhu tertentu atau dapat ditulis pH = -
log ( H+ ) ( kordi dan tancung, 2007 ).
Mackereth et al. ( 1989 ) berpendapat bahwa pH juga berkaitan erat dengan karbondioksida dan
alkalinitas. Pada pH < 5, alkalinitas mencapai nol. Semakin tinggi nilai pH,
semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida
bebas. Larutan yang bersifat asam ( pH rendah ) bersifat Korosif.
pH juga mempengaruhi
toksisitas suatu senyawa kimia. Senyawa ammonium yang dapat terionisasi banyak
ditemukan di perairan yang memiliki perairan rendah. Ammonium bersifat tidak
toksik ( innocuous ). Namun, pada
suasana alkalis ( pH tinggi ) lebih banyak ditemukan ammonia yang tak
terionisasi ( unionized ) dan bersifat
toksik. Ammonia tak terionisasi ini lebih mudah terserap kedalam tubuh
organisme akuatik dibandingkan dengan ammonium ( Tebbut, 1992 ).
sebagian besar biota akuatik
sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 – 8,5. Nilai pH
sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi
akan berakhir jika pH rendah ( Novotny dan Ollem, 1994 ).
Pada pH < 4, sebagian
besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertoleransi terhadap pH rendah.
Namun, algae Chlamydomonas acidophila masih
dapat bertahan hidup pada pH yang sangat rendah, yaitu 1, dan algae Euglena masih dapat bertahan hidup pada
pH 1,6 ( Haslam, 1995 ).
Mackereth et al. ( 1989 ) berpendapat bahwa pH juga berkaitan erat dengan karbondioksida dan
alkalinitas. Pada pH < 5, alkalinitas mencapai nol. Semakin tinggi nilai pH,
semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida
bebas. Larutan yang bersifat asam ( pH rendah ) bersifat
Korosif.
pH
juga mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia. Senyawa ammonium yang dapat
terionisasi banyak ditemukan di perairan yang memiliki perairan rendah.
Ammonium bersifat tidak toksik ( innocuous
). Namun, pada suasana alkalis ( pH tinggi ) lebih banyak ditemukan ammonia
yang tak terionisasi ( unionized )
dan bersifat toksik. Ammonia tak terionisasi ini lebih mudah terserap kedalam
tubuh organisme akuatik dibandingkan dengan ammonium ( Tebbut, 1992 ).
sebagian
besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH
sekitar 7 – 8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan,
misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah ( Novotny dan Ollem,
1994 ).
2.14 Sifat biologi air
2.14.1 Flora
Tumbuhan air atau hidrofolik ialah
golongan yang mencakup semua tumbuhan yang hidup di air Bersauh (berakar dalam
lumpurr dan dasar air) atau tidak. Disamping tipe mikroskopik yang
mengapung bebas dan berenang-renang yang merupakan dasar utama pembentukan
kategori tersendiri yang di sebut plankton. Golongan hidrofolok cenderung
melintas memotong golongan lainnya dan dengan itu sering ditiadakan dari
spectrum biologi (Polunin, 1994).
Flora di suatu wilayah yang biasanya
dijelaskan dalam istilah biologi untuk menyertakan genus dan spesies tanaman
hidup, pilihan mereka tumbuh berkembang biak atau kebiasaan, dan sambungan ke
satu sama lain di lingkungan
Kisaran pH
untuk budidaya algae antara 7-9 dalam kisaran yang optimal 8,2 - 8,7.
Kegagalan dalam budidaya algae dapat disebabkan oleh kegagalan dalam
mempertahankan pH media budidaya. Hal tersebut dapat diatasi dengan penggunaan
aerasi (Ekawati,2005).
Menurut Chalik
(1988), pH adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan
menunjukkan suasana air tersebut, apakah bereaksi asam atau basa. Skala pH mempunyai
deret 1-14, dan pH 7 adalah netral berarti air tidak bersidat asam atau basa.
Bila materi pH dibawah 7 berarti asam dan bila diatas 7 berarti basa.
2.14.2 Fauna
Pada perairan danau, hewan yang paling umum mendominasi
danau adalah hewan dari golongan hewan bertulang belakang (hewan vertebrata)
yakni ikan. Ikan-ikan tersebut berada pada setiap lapisan perairan baik pada
zona litoral dan zona limnetik. Hal ini di sebabkan oleh kemampuan gerak ikan. Biasanya
ikan-ikan bergerak bebas antar zona litoral dan limnetik, akan tetapi bagian
besar ikan-ikan meenghabiskan waktunya di derah litoral dan kebanyakan daei
mereka berkembang biak di daerah tersebut (Odum,
1996).
Flora dapat merujuk kepada sekelompok tanaman, sebuah
penyelidikan dari kelompok tanaman, serta bakteri. Flora adalah akar kata
bunga, yang berarti menyangkut bunga.
2.14.3
Plankton
Secara umum keberadaan plankton
diperairan dipengaruhi oleh tipe perairan ( mengalir atau tergenang ), kualitas
perairan ( fisika – kimia ) contoh suhu,kecerahan, kekeruhan, arus, pH, dan
lain – lain. (penuntun praktikum limnology 2010)
Nybakken
( 1992 ) menyatakan bahwa plankton merupakan organisme yang kemampuan
renangnya demikian lemah sehingga pergerakannya dipengaruhi gerakan air.
Plankton adalah semua organisme renik yang
hidupnya melayang – melayang di dalam air yang bergerak pasif atau daya
geraknya sangat terbatas untuk menentang arus ( Sachlan, 1990 ).
BAB
III
BAHAN
DAN METODE
3.1 Tempat dan waktu
penelitian
Penelitian dilakukan di Sungai
Siak oleh mahasiswa/i Universitas Islam Riau. Penelitian dilaksanakan selama 1
(satu) hari yaitu pada tanggal 22 September 2012.
3.2 Bahan dan alat
Dalam penelitian ini bahan uji yang di gunakan
adalah air sungai siak dengan pemberian formalin dan jga dengan menggunakan
kertas lakmus untuk menentukan apakah sungai tersebut basa atau asam .
Alat-alat untuk mengukur kualitas air yang digunakan
adalah sechi dise untuk mengukur kecerahan, lalu menggunakan thermometer untuk
mengukur suhu, DO meter, NH3, botol sampel untuk pengambilan air,
dan plankton net untuk mengambil plankton yang ada di sungai siak tersebut
3.3 Metoda penelitian
3.3.1 Rancangan percobaan
Rancangan
percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap
(RAL) dengan mengambilan air sampel supaya kita bias mengetahui kualitas sungai
siak dan banyaknya plankton yang hidup di dalamnya.
3.3.2
Hipotesis dan asumsi
Dalam praktikum ini
hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
HO : Tidak terdapatnya
pengaruh limbah terhadap parameter kualitas air dan pertumbuhan plaknton.
Hi : Terdapatnya
pengaruh limbah terhadap pengaruh parameter kualitas air dan pertumbuhan
plankton.
Hipotesa tersebut diajukan dengan asumsi
sebagai berikut:
1. Kualitas air sungai dianggap sama.
2. Daya larut limbah pada sungai dianggap sama.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Data Hasil
Pengamatan
4.1.1 parameter Fisika
a) Suhu Berdasarkan Waktu
No
|
waktu
|
suhu⁰c
|
1
|
7
|
27.7
|
2
|
9
|
26
|
3
|
11
|
27
|
4
|
13
|
27
|
5
|
15
|
26.3
|
6
|
17
|
27
|
Tabel Suhu
Berdasarkan Waktu
grafik Suhu Berdasarkan
Waktu
b) Suhu
Berdasarkan kedalaman (M)
Tabel Suhu Berdasarkan kedalaman (M)
No
|
JAM
|
KEDALAMAN
(M)
|
Suhu ºc
|
|
1
|
||||
7
|
Permukaan
|
28
|
||
Tengah
|
27
|
|||
Dasar
|
28
|
|||
2
|
||||
9
|
Permukaan
|
26
|
||
Tengah
|
26
|
|||
Dasar
|
26
|
|||
3
|
||||
11
|
Permukaan
|
27
|
||
Tengah
|
27
|
|||
Dasar
|
27
|
|||
4
|
||||
13
|
Permukaan
|
27
|
||
Tengah
|
27
|
|||
Dasar
|
27
|
|||
5
|
||||
15
|
Permukaan
|
25
|
||
Tengah
|
28
|
|||
Dasar
|
26
|
|||
6
|
||||
17
|
Permukaan
|
28
|
||
Tengah
|
27
|
|||
Dasar
|
26
|
Grafik suhu berdasarkan kedalaman (M)
c) pH
No
|
Jam
|
Kedalaman
|
pH
|
1
|
7:00
|
Permukaan
|
6
|
Tengah
|
6
|
||
Dasar
|
5
|
||
2
|
9:00
|
Permukaan
|
5
|
Tengah
|
5
|
||
Dasar
|
5
|
||
3
|
11:00
|
Permukaan
|
5
|
Tengah
|
5
|
||
Dasar
|
5
|
||
4
|
13:00
|
Permukaan
|
5
|
Tengah
|
5
|
||
Dasar
|
5
|
||
5
|
15:00
|
Permukaan
|
5
|
Tengah
|
5
|
||
Dasar
|
5
|
||
6
|
17:00
|
Permukaan
|
5
|
Tengah
|
5
|
||
Dasar
|
5
|
Tabel pH Grafik pH
e)
Kecerahan
Tabel kecerahan Grafik kecerahan
Jam
|
Kecerahan
|
7:00
|
25.5
|
9:00
|
55
|
11:00
|
50.5
|
13:00
|
66
|
15:00
|
63.5
|
17:00
|
52
|
f) Amoniak (NH3)
Tabel amoniak
Jam
|
Kedalaman
|
NH3
|
7:00
|
Permukaan
|
0.02
|
Tengah
|
0.3
|
|
Dasar
|
0.2
|
|
9:00
|
Permukaan
|
0.02
|
Tengah
|
0.3
|
|
Dasar
|
0.2
|
|
11:00
|
Permukaan
|
0.02
|
Tengah
|
0.3
|
|
Dasar
|
0.2
|
|
13:00
|
Permukaan
|
0.02
|
Tengah
|
0.3
|
|
Dasar
|
0.2
|
|
15:00
|
Permukaan
|
0.02
|
Tengah
|
0.3
|
|
Dasar
|
0.2
|
|
17:00
|
Permukaan
|
0.02
|
Tengah
|
0.3
|
|
Dasar
|
0.2
|
Grafik amoniak (NH3)
4.2
PEMBAHASAN
Perubahan suhu
air berlangsung lambat sehingga air memiliki sifat sebagai penyimpanan panas yang sanagat baik. Sifat ini
memungkinkan air tidak menjadi panas
ataupun dingin dalam seketika. Perubahan
suhu air yang lambat mencegah terjadi nya stres pada makhluk hidup karena
adanya perubahan suhu yang mendadak dan memelihara suhu bumi agar sesuai bagi
makhluk hidup. Pada pagi hari suhu air berkisar antara 27-28 ºc, tengah hari suhu 27 ºc, dan sore hari berkisar antara 26-28
º.
Untuk kecerahan di
Sungai Siak pada siang hari lebih cerah di bandingkan pada pagi dan sore.
Sedangkan pHnya rata-rata 5
BAB
V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
Dari peraktikum
limnology tentang parameter fisika,
kimia dan biologi sungai siak, dapat di simpulkan bahwa,sungai siak telah
tercemar oleh limbah, baik limbah domestik maupun limbah pabrik.
5.2.
Saran
Untuk masyarakat di
sekitar perairan sungui terutama, harus lah menjaga lingkungan sungai tersebut
agar tidak tercemar oleh limbah.
DAFTAR PUSTAKA
Akromi,
dan Subroto. 2002. PengantarLimnologi.
Gramedia, Jakarta.
Cholik et.al. 1986.
Pengelolaan Kualitas Air Kolam Ikan. UNFISH dan IDRC: Jakarta.
Effendi,H.2003.Telaah Kualitas Air.Yogyakarta.
________.2008. Telaah
Kualitas Air Edisi II.Yogyakarta.
Haslam,
S.M.1995. River Pollution and
Ecological Perspective. John Wiley and Sons, Chichester, UK. 253 p.
Hadikusumah.
2008. Pengantar
oceanografi. UIPress, Jakarta.
Hutabarat, Sahala dan Evans. 1985. Pengantar Oceanografi. Universitas Indonesia
Press : Jakarta.
Kordi,
M.G.; dan Andi T. 2007.
PengelolaanKualitas Air dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta, Jakarta.
Kurniawan
et.al. 2006. Diktat Kuliah
Limnologi. Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan. Universitas
Brawijaya. Malang.
Mackereth, F. J. H., Heron, J. and
Talling, J. F. 1989. Water Analysis. Fresh-water Biological Association,
Cumbria, UK. 120 p.
Marini, Melfa dan Husnah. 2010. Struktur
Komunitas Ikan Dalam Hubungannya Dengan Kualitas Air Bagian Hilir Sungai Siak,
Provinsi Riau. Prosiding Seminar Limnologi V. Palembang.
McNeely, R. N., Nelmanis, V. P.,
and Dwyer, L. 1979. Water Quality Source Book, A Guide to Water Quality
Parameter. Inland Waters Directorate, Water Quality Branch, Ottawa, Canada. 89
p.
Notji,Anugerah.1989. Laut Nusantara. PT Grafindo. Jakarta.
Novotny, V. and Olem, H. 1994.
Water Quality, Prevention, Identification, and Management of Diffuse Pollution.
Van Nostrans Reinhold, New York. 1054 p.
Nybakken, J. W. 1992
. Biologi
Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Diterjemahkan oleh M. Eidman, Koesoebiono,
D.G.Bengen, M. Hutomo dan S. Soekardjo. Gramedia. 459 hal.
Odum, E.P. 1971. Fundamental Ecology
W. B. Saunders Company. Philadelphia.
Peavy, H. S., Rowe, D. R., and
Tchobanoglous. 1985. Environmental Engineering. McGraw-Hill International
Editions, Singapore. 699 p.
Poernomo, A., 1989. Faktor
Lingkungan Dominan Pada Budidaya Udang Intensif. Dalam A. Bittner ( peny ).
Budidaya Air Tawar. Penerbit Yayasan Obor Indonesia, Jakarta : 66 – 120.
Sachlan, M.,
1980. Diktat Pekuliahan Planktonologi Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 135 hal (tidak
diterbitkan).
Sawyer, C. N. and McCarty, P.L.
1978. Chemistry for Environmental Engineering. Third Edition. McGraw-Hill
Book Company, Tokyo. 532 p.
Sudaryanti,Sri.1991. Dampak
Mekanisme Alat Limnotek 3-1 Terhadap Sebaran Oksigen Terlarut di Perairan Situ
Benangsari. IPB.Bogor.
Tebbutt, T. H. Y. 1992.
Principles of Water Quality Control. Fourth edition. Pergamon Press: Oxford.
251 p.
Vedca. 2009. Teknologi Pengelolaan Kualitas Air. http://sith.ttb.ac.id/d4.pdf. Diakses
Pada 1 Oktober 2012 pukul 13.00 Wib.
LAMPIRAN
NO
|
JENIS
PLANKTON
|
PERLAKUAN
|
KETERANGAN
|
||
Permukaan
|
Tengah
|
Dasar
|
|||
1
|
Gomphosphaeria aponina
Kg.
|
-
|
-
|
√
|
Cyanophyta
|
2
|
Coelosphaerium dubium
Gronow
|
√
|
-
|
-
|
Cyanophyta
|
3
|
Anabaenopsis
raciborskii Wal
|
-
|
√
|
√
|
Cyanophyta
|
4
|
Calonthrix
|
√
|
√
|
√
|
Cyanophyta
|
5
|
Trichodosmium
crythroum
|
-
|
-
|
√
|
Cyanophyta
|
6
|
Melosira salina
|
√
|
-
|
-
|
Diatomae - air tawar
|
7
|
Achnanthes brevipes
|
√
|
√
|
-
|
Diatomae - air tawar
|
8
|
Ephitemia argus
|
-
|
√
|
-
|
Diatomae - air tawar
|
9
|
Surirella biseriata
|
√
|
-
|
-
|
Diatomae - air tawar
|
10
|
Asterionella formosa
|
√
|
-
|
-
|
Diatomae - air tawar
|
11
|
Astacia Klebsii
|
-
|
-
|
√
|
Euglenophyta
|
12
|
Trachelomonan sp
|
-
|
√
|
-
|
Euglenophyta
|
13
|
Rotifer neptunivs
|
√
|
-
|
-
|
Rotatoria
|
Total
|
7
|
5
|
5
|
||
Data hasil pengamatan plankton:
No
|
JAM
|
KEDALAMAN (M)
|
PARAMETER KUALITAS AIR
|
|||||
pH
|
Suhu
c°
|
NH3
|
Warna
|
Cuaca
|
Kecerahan
|
|||
1
|
7
|
|||||||
Permukaan
|
0
|
6
|
28
c
|
0.02
|
air coklat terang
|
hujan
|
25.5
|
|
Tengah
|
7
|
6
|
27
c
|
0.3
|
||||
Dasar
|
15
|
5
|
28
c
|
0.2
|
||||
2
|
9
|
|||||||
Permukaan
|
0
|
5
|
26
c
|
0.02
|
coklat kekuningan
|
mendung
|
55
|
|
Tengah
|
7
|
5
|
26
c
|
0.3
|
||||
Dasar
|
15
|
5
|
26
c
|
0.2
|
||||
3
|
11
|
|||||||
Permukaan
|
0
|
5
|
27
c
|
0.02
|
coklat
|
cerah
|
50.5
|
|
Tengah
|
7
|
5
|
27
c
|
0.3
|
||||
Dasar
|
15
|
5
|
27
c
|
0.2
|
||||
4
|
13
|
|||||||
Permukaan
|
0
|
5
|
27
c
|
0.02
|
coklat
|
cerah
|
66
|
|
Tengah
|
7
|
5
|
27
c
|
0.3
|
||||
Dasar
|
15
|
5
|
27
c
|
0.2
|
||||
5
|
15
|
|||||||
Permukaan
|
0
|
5
|
25
c
|
0.02
|
coklat kehijau-hijauan
|
cerah
|
63.5
|
|
Tengah
|
7
|
5
|
28
c
|
0.3
|
||||
Dasar
|
15
|
5
|
26
c
|
0.2
|
||||
6
|
17
|
|||||||
Permukaan
|
0
|
5
|
28
c
|
0.02
|
coklat
|
cerah
|
52
|
|
Tengah
|
7
|
5
|
27
c
|
0.3
|
||||
Dasar
|
15
|
5
|
26
c
|
0.2
|
||||
Data hasil pengamatan sungai siak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar